1. Beranda
  2. Berita Aktual
  3. Siaran Pers/Peringatan Publik
  4. Klarifikasi BPOM
  5. Pengaduan Konsumen
  6. Produk Ditarik
  7. Produk Teregistrasi
    1. Obat
    2. Obat Tradisional
    3. Suplemen Makanan
    4. Kosmetik
    5. Produk Pangan
  8. Peraturan
    1. Laporan Keuangan
    2. Laporan Tahunan
    3. Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
    4. Laporan Kinerja
    5. Laporan PNBP
    6. Laporan BMN
  9. Layanan Publik
    1. LPSE
    2. e-bpom
    3. Notifikasi Kosmetik
    4. e-Registration Obat
    5. e-Registration Obat Tradisional
    6. e-Registration Pangan Olahan
  10. PPID
    1. Obat
    2. Obat Tradisional
    3. Suplemen Makanan & Kuasi
    4. Kosmetika
  11. Rekrutmen CPNS

BADAN POM RI
Jl. Percetakan Negara No.23 - Jakarta 10560 Indonesia
Telp : (021) 4244691/42883309/42883462
Fax: (021) 4263333
Email : ulpk@pom.go.id




Kode E-Numbers Pada Pangan Olahan

10 November 2015 | 17:04 WIB (Hukmas)


PENJELASAN BADAN POM

Tentang

Kode E-Numbers pada Pangan Olahan


Sehubungan dengan beredarnya isu mengenai kehalalan produk pangan yang menggunakan bahan tambahan pangan (BTP) dengan kode E-Numbers, berikut penjelasan dari Badan POM:

 

  1. E-numbers adalah kode yang digunakan untuk memudahkan identifikasi BTP yang telah terbukti aman dan secara resmi disetujui untuk digunakan pada produk pangan olahan sesuai dengan standard yang berlaku di Uni Eropa.
  2. Ada 9 golongan E numbers, yaitu:
    1. E100 – E199 (pewarna)
    2. E200 – E299 (pengawet)
    3. E300 – E399 (antioksidan dan pengatur keasaman)
    4. E400 – E499 (pengental, penstabil dan emulsifier)
    5. E500 – E599 (pengatur keasaman dan anti kempal)
    6. E600 – E699 (penguat rasa)
    7. E700 – E799 (antibiotik)
    8. E900 – E999 (lain-lain)
    9. E1000 – E1599 (bahan tambahan kimia lainnya)
  3. BTP ada yang dibuat dari bahan organik (nabati/hewani), ada pula dari bahan anorganik (hasil sintesa bahan kimia), oleh karena itu, status kehalalan suatu BTP yang dinyatakan dalam E-numbers tergantung dari asal bahan baku yang dipakai.
  4. Kode E numbers tertentu tidak dapat dijadikan petunjuk apakah BTP tersebut halal atau haram, misalnya kode E101 untuk pewarna kuning riboflavin, jika 100% berasal dari produk nabati maka BTP tersebut halal, tetapi jika berasal dari hati atau ginjal babi atau hewan halal yang tidak disembelih secara syar’i, maka BTP tersebut haram.
  5. Lembaga yang mempunyai kewenangan untuk menyatakan suatu produk adalah halal atau haram adalah LPPOM Majelis Ulama Indonesia, suatu produk dapat mencantumkan logo halal pada kemasannya apabila telah mempunyai sertifikat halal dari LPPOM Majelis Ulama Indonesia.
  6. Sebelum mengeluarkan sertifikat halal, LPPOM Majelis Ulama Indonesia akan melakukan audit terhadap semua kandungan produk, termasuk BTP, dan proses pembuatannya, Auditor akan menelusuri asal bahan tersebut, dan menentukan apakah bahan yang digunakan termasuk halal atau haram.
  7. Berdasarkan pertimbangan tersebut  di atas, dapat disimpulkan bahwa kode E-numbers tidak merujuk pada kehalalan BTP, tetapi menunjukkan BTP apa yang digunakan dalam produk pangan tersebut, suatu produk dapat dinyatakan halal apabila telah mencantumkan logo halal pada kemasannya, masyarakat diharapkan tidak resah dan terprovokasi oleh informasi-informasi yang tidak dapat dijamin kebenarannya.
  8. Apabila masyarakat memerlukan informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Contact Center HALO BPOM 1-500-533, SMS 0812-1-9999-533, email halobpom@pom.go.id, atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia.

 

Jakarta, 26 September 2015

Biro Hukum dan Humas Badan POM RI

Telpon/Fax    : 021-4209221

Email            : humasbpom@gmail.com



Beralih ke versi : Desktop

Aktifkan Javascript pada Browser Anda