Klarifikasi Badan POM

Klarifikasi Penjelasan tentang Isu Keamanan Pangan Produk Rekayasa Genetik

28 April 2017 | 18:45 WIB Dilihat 17152 Kali Produk Pangan

  1. Prinsip bioteknologi sendiri telah digunakan sejak lama oleh manusia untuk kelangsungan hidupnya.Contoh pemanfaatan bioteknologi tradisional adalah persilangan tanaman secara konvensional, pembuatantempe, cuka, kecap dan roti.
  2. Pangan Produk Rekayasa Genetik mencakup pangan olahan yang diproduksi, bahan baku pangan, bahantambahan pangan, dan/atau bahan lain yang dihasilkan dari proses rekayasa genetik. Namun pemanfaatanpangan PRG mengundang kekhawatiran bahwa pangan tersebut mungkin dapat menimbulkan risikoterhadap kesehatan manusia antara lain alergi, adanya transfer gen, dan menimbulkan penyakit (kanker,AIDS dan flu). Oleh karenanya, kemungkinan timbulnya risiko perlu diminimalkan melalui pengkajianyang dilakukan dengan pendekatan kehati – hatian ( precautionary approach).
  3. Sejak tahun 1996, pangan PRG telah tersedia di pasaran internasional antara lain : jagung, kedelai, canoladan kentang. Pangan PRG tersebut telah melalui kajian keamanan pangan sebelum diedarkan, dan hinggasaat ini, belum ditemukan adanya pengaruh merugikan terhadap kesehatan manusia ( WHO ). (http://www.who.int/foodsafety/areas_work/food-technology/faq-genetically-modified-food/en/)
  4. Beberapa negara yang sudah mengatur peredaran pangan PRG antar lain Amerika Serikat, Uni Eropa,Cina, Afrika, Australia, Filipina. Berdasarkan database Biosafety Clearing House (https://bch.cbd.int/)terdapat 117 jagung PRG, 33 kedelai PRG, dan 99 kentang PRG yang sudah dinyatakan aman pangan.Sedangkan berdasarkan database Center for Evironmental Risk Assesment ( http://cera-gmo.com), saatini telah ada sektar 184 jenis PRG yang sudah dinyatakan aman pangan.
  5. Indonesia sudah mengatur peredaran pangan PRG. Sebelum diedarkan untuk dikonsumsi oleh masyarakat,pangan PRG harus dikaji terlebih dahulu. Kebijakan ini telah dimulai sejak tahun 1996 pada saatdisahkannya UU No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan saat ini telah direvisi menjadi UU No. 18 Tahun 2012tentang Pangan. Selain itu, Indonesia telah meratifikasi Cartagena Protocol on Bio-safety to theConvention on Biological Diversity menjadi Undang – Undang No. 21 Tahun 2004 tentang PengesahanCartagena Protocol on Bio-Safety to The Convention on Biological Diversity yang menerapkan prinsippendekatan kehati – hatian ( precautionary approach) dalam penanganan PRG.
  6. Untuk menjalankan kebijakan tersebut, Pemerintah telah menyusun peraturan perundang-undangan terkaitpengkajian keamanan pangan PRG, yaitu :
    • Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan IklanPangan;
    • Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan;
  7. Pengkajian keamanan pangan PRG dilakukan oleh lembaga non struktural yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden yaitu Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik ( KKH PRG) yang terdiriatas unsur pemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat. Hasil pengkajian beruparekomendasi keamanan pangan PRG yang disampaikan kepada Kepala Badan POM sebagai acuan untukmenerbitkan Surat Keputusan Izin Peredaran Pangan PRG yang sekaligus merupakan sertifikat keamananpangan PRG.
  8. Berdasarkan pengkajian keamanan pangan PRG, sampai tahun 2016 telah diterbitkan sertifikat keamanan pangan PRG untuk 21 pangan produk rekayasa genetik (tebu, jagung, kentang, kedelai) yang dapat diakses melalui website http://indonesiabch.or.id.
  9. Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa terkait pangan PRG melalui Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 35 tahun 2013 Tentang Rekayasa genetik dan Produknya. Dalam fatwa tersebut dinyatakan bahwa :
          • Melakukan rekayasa genetik terhadap hewan, tumbuhan, dan mikroba adalah mubah (boleh) dengan syarat :
      1. Dilakukan untuk kemaslahatan (bermanfaat);
      2. Tidak membahayakan ( tidak menimbulkan mudharat), baik pada manusia maupun lingkungan; dan
      3. Tidak menggunakan gen atau bagian lain yang berasal dari tubuh manusia.
          • Produk hasil rekayasa genetika pada produk pangan, obat – obatan, dan kosmetika adalah halal dengan syarat :
      1. Bermanfaat
      2. Tidak membahayakan;dan
      3. Sumber asal gen pada produk rekayasa genetika buka berasal dari yang haram.