Jakarta — BPOM bersama Universitas Negeri Jakarta (UNJ) resmi menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dalam rangka memperkuat sinergi riset, pengembangan, dan hilirisasi jamu sebagai warisan budaya dan potensi ekonomi nasional, Jumat (26/9/2025). Penandatanganan di Kampus UNJ ini menjadi bagian dari rangkaian Seminar Jamu Nasional 2025 yang mengusung tema “Jamu dalam Perspektif Ketahanan dan Kebangkitan Nasional: Spiritualitas, Budaya, Kesehatan, dan Industri Sosial-Kerakyatan Masa Depan”.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa jamu bukan sekadar tradisi, melainkan aset strategis bangsa. Ia merujuk pada temuan arkeologis yang dipublikasikan dalam jurnal Nature tahun 2022 yang berjudul “Surgical Amputation of a Limb 31,000 Years Ago in Borneo’’. “Fakta bahwa pasien bisa bertahan hidup 9 tahun setelah operasi membuktikan bahwa ramuan herbal sudah digunakan sejak lama. Ini bukti bahwa nusantara adalah pusat keunggulan medis dunia,” ujarnya.
Lebih lanjut, Taruna menyampaikan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 30.000 jenis tanaman yang berpotensi menjadi bahan baku obat. “Potensi ekonomi jamu bisa mencapai Rp350 triliun per tahun. Saat ini, baru ada 71 obat herbal terstandar dan 20 fitofarmaka dari 18.000 lebih jamu terdaftar. Ini peluang besar yang harus kita dorong bersama,” tegasnya.
Ketua Dewan Jamu Indonesia Daniel Tjen menyambut baik kerja sama ini sebagai langkah strategis membangun ekosistem jamu berbasis riset dan inovasi. “Kami berharap kegiatan ini dapat membangun jejaring kolaborasi antara peneliti, akademisi, industri, dan startup berbasis jamu. Literasi saintifik dan etnomedisin harus ditingkatkan agar jamu bisa menjadi produk siap komersial,” katanya.
Sementara itu, Wakil Rektor IV UNJ Bidang Kerja Sama dan Bisnis Andy Hadiyanto menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam mengkaji jamu. “Jamu adalah manifestasi budaya yang hidup. Ia mengajarkan kita meramu kebaikan bumi menjadi penawar sakit. Tapi jamu tak boleh berhenti sebagai cerita tradisi. Ia harus menjadi objek sains yang dikaji secara saintifik dan kolaboratif, termasuk dari aspek humaniora,” jelasnya.
Andy juga menyoroti pentingnya gerakan literasi saintifik dan budaya agar masyarakat memahami keamanan dan nilai jamu secara utuh. “Setiap teguk jamu adalah wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas karunia tanaman penyembuh yang tumbuh di bumi Nusantara,” tambahnya.
MoU ini menjadi simbol komitmen antara pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha dalam mengembangkan jamu sebagai bagian dari gaya hidup sehat, warisan budaya, dan motor penggerak ekonomi nasional. BPOM sendiri tengah mengembangkan konsep ABG atau academic, business, government untuk menjembatani riset hingga komersialisasi produk jamu, dengan harapan mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah hingga menjadi industri besar, seperti Sido Muncul. Dengan dukungan kerja sama dan riset dari 142 universitas dan 20 industri jamu, Kepala BPOM optimistis jamu Indonesia bisa naik kelas dan berkontribusi pada pencapaian visi Indonesia Emas 2045. (HM-Benny)
Biro Kerja Sama Dan Hubungan Masyarakat
