Jakarta - BPOM kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Rekor dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori Produksi Senyawa Baku Pembanding dengan Ketersediaan Terbanyak. Penghargaan ini diumumkan dalam rangkaian acara yang turut memperkenalkan Standar Nasional Indonesia (SNI) Kosmetik, Website Jejaring Laboratorium Kosmetik Indonesia (JLKI), serta penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang digelar di Aula Gedung Bhinneka Tunggal Ika BPOM, Jumat (14/11/2025).
Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan bahwa pengembangan baku pembanding oleh BPOM merupakan bentuk nyata hilirisasi riset di bidang obat dan makanan. Langkah ini dinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap baku pembanding impor sekaligus memperkuat efektivitas pengawasan obat dan makanan di Indonesia.
“Baku pembanding sebagai landasan ilmiah yang sangat penting dan hebat. BPOM telah mengoleksi sistem baku pembanding ini secara saintifik dan mengembangkan sebanyak 810 jenis baku pembanding, yang mana belum ada laboratorium di tanah air maupun negara tetangga yang memiliki ini,” ungkap Taruna Ikrar dalam sambutannya.
Tingginya permintaan terhadap baku pembanding BPOM juga memperlihatkan kepercayaan publik yang kuat. Dalam 5 tahun terakhir, permintaan dari laboratorium eksternal meningkat hingga 86,5%, menandakan layanan BPOM semakin diandalkan. Pencapaian inilah yang kemudian mengantarkan BPOM meraih Rekor MURI atas ketersediaan jenis baku pembanding terbanyak.
“Hari ini MURI dengan bangga mencatat BPOM sebagai rekor indonesia dengan ketersediaan jenis bahan baku pembanding terbanyak dibanding laboratorium lain di indonesia,” ujar Direktur Operasional MURI Yusuf Ngadri pada saat sesi doorstep dengan media. Ia turut menyerahkan langsung penghargaan tersebut kepada Kepala BPOM sebagai simbol apresiasi atas pencapaian luar biasa ini.
Forum yang mengusung tema “Dari Laboratorium BPOM untuk Bangsa: Tingkatkan Perlindungan Masyarakat dari Obat dan Makanan Berisiko melalui Inovasi Produksi Baku Pembanding dan Metode Analisis Terstandar” ini turut dihadiri oleh perwakilan kementerian/lembaga, anggota JLKI, pimpinan dan guru besar perguruan tinggi, pimpinan laboratorium eksternal, serta lembaga pengkajian, hingga asosiasi di bidang kosmetik. Kehadiran para pemangku kepentingan menunjukkan kuatnya dukungan dan kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat sistem pengawasan obat dan makanan di Indonesia.
Selain menerima Rekor MURI, BPOM juga meresmikan tiga SNI bidang kosmetik yang dikembangkan dari metode analisis internal BPOM. Peluncuran ini diiringi dengan kegiatan sosialisasi untuk memastikan implementasi SNI berjalan optimal di industri. Salah satu SNI yang diluncurkan adalah Penetapan Kadar 1,4-Dioksan dalam Produk Kosmetik, yang telah diharmonisasi menjadi ASEAN Cosmetic Method dan sedang berproses menuju standar internasional (International Standardization Organization/ISO). Upaya ini memperkuat posisi BPOM sebagai otoritas regulatori yang menerapkan standar global dalam sistem pengawasan obat dan makanan.
Dalam kesempatan yang sama, BPOM menandatangani 3 PKS dengan berbagai mitra strategis, meliputi kementerian/lembaga, perguruan tinggi, dan pelaku usaha. Adapun PKS yang ditandatangani meliputi perpanjangan PKS Jejaring Laboratorium Kosmetik Indonesia (JLKI), PKS Percepatan Pengembangan Baku Pembanding, dan PKS Pengembangan Bahan Baku Kosmetik Terstandar. Total terdapat 17 PKS yang ditandatangani BPOM beserta mitra terkait.
“Ketiga PKS ini menegaskan komitmen BPOM dalam memperkuat kolaborasi lintas sektor guna mendukung sistem pengawasan obat dan makanan yang kredibel, efektif, dan berkelanjutan,” tutur Kepala BPOM.
Sebagai bukti komitmen terhadap transparansi dan kemudahan pertukaran informasi antar laboratorium pengujian kosmetik, BPOM bersama JLKI juga meresmikan Website JLKI. Platform ini dikembangkan dengan dukungan Direktorat Standardisasi dan Pengendalian Mutu Kementerian Perdagangan.
Dalam mendukung daya saing industri kosmetik, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), BPOM bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada dan PT Algaepark Indonesia Mandiri untuk mengembangkan ekstrak spirulina sebagai bahan baku kosmetik terstandar. Spirulina dikenal memiliki manfaat antiinflamasi sehingga banyak digunakan dalam produk perawatan kulit. Kolaborasi ini ditujukan untuk menghasilkan bahan baku yang bermutu tinggi, aman, dan siap bersaing di pasar nasional maupun internasional.
“Mari kita bahu membahu menjadikan laboratorium bukan hanya ruang penelitian, tetapi ruang pengabdian. Laboratorium sebagai wadah sains bertemu dengan tanggung jawab sosial dan inovasi berpadu dengan kepentingan kemanusiaan,” pesan Taruna Ikrar.
Dengan rangkaian capaian tersebut, BPOM menegaskan komitmennya untuk terus berinovasi dan memperkuat sistem pengawasan obat dan makanan di Indonesia. Penghargaan MURI, peluncuran SNI Kosmetik, pengembangan baku pembanding, hingga integrasi laboratorium melalui JLKI menjadi bukti bahwa BPOM tidak hanya berfokus pada regulasi, tetapi juga pada peningkatan kualitas, transparansi, dan kolaborasi lintas sektor. Langkah-langkah ini diharapkan mampu mendorong kemandirian industri, meningkatkan kepercayaan publik, serta memperkuat posisi Indonesia dalam standar pengujian dan pengawasan yang berkelas internasional. (HM-Devi)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
