Komitmen Dukung Ekspor Jamu, BPOM Bentuk Ekosistem Ekspor Jamu Kondusif

22-11-2022 Kerjasama dan Humas Dilihat 698 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

JAKARTA - Pasar ekspor jamu dinilai kian menggiurkan seiring dengan tren back to nature. WHO menyatakan sekitar 80% penduduk dunia, menggunakan obat berbasis herbal untuk menjaga kesehatan. Sementara itu, data Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu) Tahun 2020 mencatat nilai pasar dunia terhadap produk obat bahan alam berkisar Rp1.936,9 trilliun. Potensi ini yang mendasari BPOM bersama tujuh kementerian/lembaga menginisiasi Pilot Project Ekosistem Ekspor Jamu yang Kondusif bertema "Jamu Entering Global Market for Healthier World". Program ini turut melibatkan 32 pelaku usaha jamu yang berorientasi ekspor.

Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM, Reri Indriani menyebut sudah saatnya ekosistem ini dioperasikan setelah melalui serangkaian persiapan intensif sebelumnya. "Program ini sangat strategis untuk mendorong perekonomian nasional, sehingga pelaku usaha yang terlibat akan dilakukan intervensi melalui komunikasi dan koordinasi aktif," jelasnya dalam Pembukaan Pilot Project Ekosistem Ekspor Jamu yang Kondusif, Senin (21/11/22).

Saat ini penguasaan jamu terhadap pasar obat bahan alam dunia masih sangat rendah, yaitu Rp16 triliun atau hanya 0,8% dari total pasar dunia. Ekspor jamu masih menghadapi tantangan, baik aspek keamanan, kemanfaatan, dan mutu, maupun aspek kemampuan penetrasi pasar di negara tujuan ekspor. Tantangan ini hanya dapat diatasi melalui sinergi program dan kegiatan untuk mendukung ekspor jamu yang melibatkan pemangku kepentingan terkait, termasuk kementerian/lembaga.   

Untuk itu, operasionalisasi ekosistem ekspor jamu yang kondusif diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam momentum pemulihan ekonomi nasional, terutama bagi usaha kecil menengah. "Kami berharap semua pihak yang terlibat dapat mendukung ekosistem ini secara konsisten dan berkesinambungan. Hanya dengan tetap bersatu kita dapat mengakselerasi ekspor jamu," ajaknya.

Sementara itu, perwakilan Sido Muncul, Ricardo Antoni berbagi tips memasuki pasar ekspor. Menurutnya ada lima aspek yang harus diperhatikan, yakni penilaian negara tujuan, penilaian pasar, pemilihan pembeli, regulasi, dan teknik pemasaran. Kelima aspek ini akan menentukan prospek produk ke depan apakah dipasarkan untuk diaspora Indonesia atau konsumen umum di negara tersebut, termasuk sistem penjualan dan distribusi produk secara berkelanjutan. Begitupun pentingnya pemenuhan regulasi sesuai persyaratan otoritas di negara tujuan.

Dalam kesempatan ini, turut dilakukan penandatanganan komitmen oleh delapan perwakilan pelaku usaha jamu peserta pilot project, yakni PT CS2 Pola Sehat, PT Maisya Makmur, PT Heksatamaprima, PT Zena Nirmala Sentosa, PT Biotek Farmasi Indonesia, PT Nucifera Alam Indonesia, CV Nutrima Sehat Alami, dan CV Bin Dawood.

Integrasi pelaksana ekosistem jamu ini melibatkan Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Koperasi dan UKM, pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku usaha.

Sebagai rangkaian dari kegiatan ini, juga dilakukan Forum Bisnis yang mempertemukan pengusaha eksportir maupun calon eksportir obat tradisional dengan importir dan atase perdagangan di Australia, Hongkong, Malaysia, dan Arab Saudi. Para eksportir dan calon eksportir dapat memperoleh informasi mengenai peluang dan potensi pasar beserta cara menembus pasar jamu di negara tujuan ekspor. Forum ini juga dilengkapi sharing session pengalaman pelaku usaha jamu yang sudah berhasil ekspor di beberapa negara. (HM-Fathan)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana