Yogyakarta – BPOM berpartisipasi pada sidang yang digelar oleh International Organization for Standardization (ISO) melalui Technical Committee (TC) 217 atau ISO/TC 217 Cosmetics Working Group (WG) 3 pada Kamis (21/5/2026). Sidang WG 3 yang berlangsung secara virtual melalui platform Zoom Meeting tersebut dibuka secara resmi oleh Convenor ISO/TC 217 Cosmetics WG 3 Pierre Antonie Bonnet dari Association Française de Normalization (AFNOR) dan dipandu oleh Manager ISO/TC 217/ WG 3 Amy Michel.
Sidang ISO/TC 217 WG 3 merupakan forum strategis dalam pembahasan pengembangan dan harmonisasi standar internasional di bidang metode analisis kosmetik. Sejumlah agenda penting dibahas dalam pertemuan tersebut, salah satunya mengenai validasi metode analitik dan pengembangan standar baru untuk mendukung keamanan serta mutu produk kosmetik global.
Sidang kali ini dihadiri oleh lebih dari 40 orang expert, officer, dan liaison dari berbagai negara di dunia. Turut bergabung dalam sidang mewakili Indonesia, antara lain Kepala Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN) BPOM Mimin Jiwo Winanti, Direktur Pengembangan Standar Agro, Kimia, Kesehatan, dan Penilaian Kesesuaian (AKKPK) Badan Standardisasi Nasional (BSN) Heru Suseno, serta tim expert yaitu Abdul Rohman dari Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai project Leader, Agustina Ari Murti Budi Hastuti dari UGM, Yuniar Intan Hartono dari Badan Standardisasi Nasional, Kepala Balai Besar POM di Yogyakarta Ani Fatimah Isfarjanti dan tim, serta Tim Kelompok Substansi Pengembangan Pengujian Kimia Kosmetik PPPOMN BPOM, dan anggota lainnya. Delegasi Indonesia mengikuti sidang virtual bersama-sama dari Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPPT) UGM.
Pada sidang utama, pembahasan berfokus pada 2 proyek, yaitu ISO Draft International Standard (DIS) 22176 Cosmetics–Analytical Methods–Validation of quantitative analytical method using an integrated approach serta ISO/Approved Work Item (AWI) 24913 Cosmetics–Analytical Methods–Measurement of Traces of 1,4-Dioxane in Cosmetics using Headspace Gas Chromatography/Mass Spectrometry (HS-GC/MS). Kedua agenda pembahasan tersebut menjadi bagian penting dalam penguatan sistem pengujian dan validasi metode analisis kosmetik berbasis standar internasional. Metode penetapan kadar 1,4-dioxane dalam kosmetik ini merupakan metode yang dikembangkan oleh PPPOMN dan ditetapkan sebagai ASEAN Cosmetic Method (ACM), serta diusulkan untuk menjadi metode ISO.
Dalam pembahasan metode Measurement of Traces of 1,4-Dioxane in Cosmetics using Headspace Gas Chromatography/Mass Spectrometry (HS-GC/MS), Co-Project ISO/AWI 24913 Mark Burford dan Fabien Valadon sebagai penyelenggara ring test memaparkan hasil dari training ring test yang telah melibatkan laboratorium dari berbagai negara. “Hasil evaluasi menunjukkan bahwa metode yang dikembangkan memiliki tingkat presisi, akurasi, dan ketangguhan (robustness) yang sangat baik dalam mendeteksi kandungan 1,4-dioxane pada sampel kosmetik,” papar Fabien.
Selanjutnya, Abdul Rohman sebagai Project Leader juga memaparkan mengenai penyempurnaan teknis dari hasil masukan peserta laboratorium. Masukan yang dibahas mencakup perbaikan prosedur preparasi, parameter pengujian, kriteria kesesuaian sistem, serta penyempurnaan data dukung metode agar lebih rinci, efisien, dan mudah diterapkan secara global.
Sidang juga membahas rencana pelaksanaan ring test lanjutan dengan ruang lingkup sampel berupa sediaan kosmetik seperti sampo, losion, dan krim. Tahapan ini menjadi bagian penting dalam validasi lanjutan sebelum metode ditetapkan sebagai standar ISO resmi. Selain itu, diskusi juga membahas evaluasi tentang ruang lingkup metode, stabilitas sampel, hingga penyesuaian parameter pengujian agar kompatibel terhadap berbagai perbedaan instrumen laboratorium peserta.
Partisipasi aktif delegasi Indonesia dalam diskusi teknis, penyempurnaan dokumen, serta kontribusi terhadap validasi metode dalam sidang ini menunjukkan peran strategis Indonesia dalam pengembangan metode analisis 1,4-dioxane. Proses ini mencerminkan komitmen dan konsistensi Indonesia dalam mendorong metode analisis menuju penetapan sebagai standar ISO internasional. Keterlibatan BPOM sebagai delegasi dari Indonesia sekaligus menegaskan komitmen BPOM dalam mendukung peningkatan kualitas pengembangan metode analisis, standardisasi, dan keamanan produk kosmetik melalui kolaborasi ilmiah global. (P3OMN-NFS/HM-Herma)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
