Kunjungi Pabrik Obat Pertama di Indonesia, Kepala BPOM Ajak Refleksikan Sejarah dan Perkuat Sinergi ABG

14-01-2026 Kerjasama dan Humas Dilihat 526 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Jakarta — Kepala BPOM Taruna Ikrar melakukan kunjungan ke pabrik obat pertama di Indonesia yang berlokasi di Gedung PT Kimia Farma Tbk., Jalan Veteran, Jakarta Pusat, pada Selasa (13/1/2026). Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 BPOM sekaligus sebagai refleksi sejarah pengawasan obat dan penguatan kolaborasi lintas sektor dalam mendukung kemandirian industri farmasi nasional.

Kunjungan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman historis mengenai perkembangan industri farmasi dan pengawasan obat di Indonesia. Lokasi yang dikunjungi merupakan tempat bersejarah yang dahulu dikenal sebagai Chemicalien Handle Rathkamp & Co., pabrik obat pertama di Indonesia yang menjadi tonggak awal kemandirian obat nasional.

Dalam sambutannya, Taruna Ikrar menyampaikan apresiasi kepada jajaran PT Kimia Farma Tbk. atas kesempatan untuk dapat mengunjungi lokasi bersejarah tersebut. “Saya beserta jajaran BPOM dapat mengunjungi tempat yang sangat bersejarah, di mana pabrik obat pertama di Indonesia hadir, Gedung PT Kimia Farma Tbk di Jalan Veteran,” ujarnya.

Taruna menjelaskan bahwa tahun 2026 menjadi momentum istimewa bagi BPOM yang genap berusia 25 tahun sebagai lembaga pemerintah non-kementerian yang menjalankan fungsi pengawasan obat dan makanan. Ia menegaskan bahwa meskipun BPOM resmi berdiri pada 2001, cikal bakal sistem pengawasan obat dan makanan di Indonesia telah ada sejak tahun 1807 dan terus mengalami transformasi hingga menjadi institusi yang kuat dan independen saat ini.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk. Jagad Prakasa Dwi Alam menegaskan komitmen Kimia Farma untuk terus berinovasi dan beradaptasi menghadapi dinamika industri farmasi. “Kami terus mendorong inovasi sesuai dengan kemampuan kami. Di masa seperti saat ini, kita tidak boleh berhenti berkembang. Kita harus mampu menghadapi dinamika bersama regulator dan pengawas,” ujarnya.

Menurut Taruna Ikrar lagi, kunjungan ini memiliki makna filosofis yang mendalam sebagai refleksi titik awal kemandirian obat nasional. Ia menekankan bahwa kemandirian di bidang obat-obatan merupakan bagian penting dari ketahanan nasional. Sejarah industri farmasi Indonesia, menurutnya, memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kesiapan bangsa dalam menjawab tantangan kesehatan di masa depan melalui sistem pengawasan yang adaptif dan kolaboratif.

Taruna juga menyoroti transformasi sistem pengawasan obat dan makanan yang terus berkembang seiring kemajuan teknologi dan globalisasi. Ia menegaskan bahwa pengawasan yang efektif memerlukan adaptasi teknologi, independensi lembaga, partisipasi aktif pemangku kepentingan, serta harmonisasi dengan standar internasional.

Dalam kesempatan tersebut, Taruna memberikan apresiasi kepada PT Kimia Farma Tbk. atas langkah transformasi dan kolaborasi strategis yang telah dilakukan bersama Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Kolaborasi tersebut menghasilkan produk inovatif advanced therapy medicinal products (ATMP) mesenchymal stem cell (MSC) sebagai bukti hilirisasi riset dan kemandirian industri farmasi nasional di bidang terapi lanjut.

“Kerja sama ini sesuai dengan semangat kolaborasi Academia, Business, dan Government (ABG). Sinergi ini membuktikan bahwa hilirisasi riset dapat berjalan optimal dengan dukungan penuh dari sisi regulatori,” jelasnya.

Lebih lanjut, Taruna Ikrar menegaskan komitmen BPOM untuk terus memberikan dukungan regulatori bagi industri farmasi nasional agar mampu bersaing ditingkat global. Dengan capaian BPOM meraih status sebagai WHO Listed Authority (WLA), peluang bagi industri dan produk farmasi Indonesia untuk menembus pasar internasional semakin terbuka luas.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, Kepala BPOM melakukan penandatanganan prasasti di ruang museum PT Kimia Farma Tbk. sebagai simbol penghormatan terhadap sejarah industri farmasi nasional. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan sejarah fasilitas obat pertama di Indonesia serta sesi dokumentasi dan ramah tamah.

Menutup kegiatan, Taruna mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan momentum HUT ke-25 BPOM sebagai penguat sinergi dalam membangun ketahanan kesehatan nasional. “Mari kita jadikan momentum ini untuk meneguhkan langkah dan kolaborasi demi mewujudkan ketahanan kesehatan nasional serta membangun masa depan Indonesia yang lebih baik menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (HM-Laras/HM-Herma)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana