1. Beranda
  2. Berita Aktual
  3. Siaran Pers/Peringatan Publik
  4. Klarifikasi BPOM
  5. Pengaduan Konsumen
  6. Produk Ditarik
  7. Produk Teregistrasi
    1. Obat
    2. Obat Tradisional
    3. Suplemen Makanan
    4. Kosmetik
    5. Produk Pangan
  8. Peraturan
    1. Laporan Keuangan
    2. Laporan Tahunan
    3. Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
    4. Laporan Kinerja
    5. Laporan PNBP
    6. Laporan BMN
  9. Layanan Publik
    1. LPSE
    2. e-bpom
    3. Notifikasi Kosmetik
    4. e-Registration Obat
    5. e-Registration Obat Tradisional
    6. e-Registration Pangan Olahan
  10. PPID
    1. Obat
    2. Obat Tradisional
    3. Suplemen Makanan & Kuasi
    4. Kosmetika
  11. Rekrutmen CPNS

BADAN POM RI
Jl. Percetakan Negara No.23 - Jakarta 10560 Indonesia
Telp : (021) 4244691/42883309/42883462
Fax: (021) 4263333
Email : ulpk@pom.go.id




Penggunaan Obat yang tepat dan Benar

4 Agustus 2006 | 09:00 WIB (Obat)


Berbicara mengenai obat, pada dasarnya dikenal 2 jenis yaitu obat yang bersumber pada bahan alam seperti herbal, rimpang, akar dan biasa disebut sebagai produk obat tradisional/jamu/fitofarmaka dan obat yang bersumber pada sintesa senyawa kimia ataupun produk bioteknologi dan biasa disebut sebagai obat. Pada ulasan berikut akan disajikan fokus pada masalah obat.

Produk obat berbeda dengan produk makanan, walaupun sama-sama masuk ke dalam tubuh manusia. Produk obat memiliki efek yang disebut sebagai farmakokinetik (yaitu bagaimana obat tersebut diserap, didistribusikan, dimetabolisme maupun kemudian dikeluarkan dari tubuh). Efek tersebut memberikan konstribusi antara lain terhadap bagaimana penggunaan dan frekwensi pemberian obat. Selain efek farmakokinetik, obat juga memiliki efek farmakodinamik dimana dengan efek tersebut dapat untuk menentukan kegunaan suatu produk obat yang akan digunakan oleh manusia. Dengan demikian obat pada dasarnya merupakan bahan yang hanya dengan takaran tertentu dan dengan penggunaan yang tepat dapat dimanfaatkan untuk mendiagnosa, mencegah penyakit, menyembuhkan atau memelihara kesehatan. Penggunaan obat yang tepat dan benar sangat menentukan keberhasilan proses pengobatan.

Pertama yang harus kita perhatikan atau cermati adalah kode golongan obat yang akan dikonsumsi. Obat golongan obat bebas atau golongan obat bebas terbatas dapat diperoleh tanpa resep dokter dan obat golongan keras merupakan obat yang dapat diperoleh dengan resep dokter. Obat yang digolongkan sebagai obat keras tentunya merupakan obat yang memiliki potensi resiko yang lebih tinggi dibandingkan obat golongan bebas dan obat bebas terbatas. Namun demikian potensi resiko diatas sudah diperhitungkan dalam range yang dapat diantisipasi manusia serta tetap dilakukan monitoring/pemantauan terhadap keamanan suatu produk obat beredar, baik oleh pihak produsen maupun pemerintah.

Konsumen harus dapat memilah informasi yang objektif untuk dapat memilih pengobatan. Dengan demikian penggunaan obat dapat menghasilkan efek yang optimal dan meminimalkan potensi resiko. Banyak yang perlu diketahui dalam mengkonsumsi suatu produk obat, baik untuk obat keras, obat bebas maupun obat bebas terbatas. Saat ini banyak pilihan obat yang beredar, terutama untuk obat yang dapat digunakan tanpa resep dokter. Untuk pemilihan obat beberapa faktor perlu dipertimbangkan. Hal pertama yang harus diperiksa adalah keberadaan/pencantuman nomor izin edar atau nomor registrasi obat serta tanggal kadaluarsa. Obat yang tidak mencantumkan nomor registrasi merupakan produk yang belum terdaftar. Proses pendaftaran atau registrasi merupakan suatu proses evaluasi atau penilaian obat. Evaluasi atau penilaian produk obat meliputi evaluasi atau penilaian aspek efikasi (kemanjuran), keamanan dan mutu. Menggunakan obat yang tidak mencantumkan nomor registrasi dapat beresiko tidak terjaminnya kebenaran kandungan dan mutu obat. Setiap produk obat memiliki nomor registrasi dan informasi siapa industri farmasi pendaftar produk obat tersebut serta beberapa informasi lainnya. Nomor registrasi yang dipalsukan akan dapat ditelusuri dengan melihat kesesuaian kode nomor dengan fisik produk serta data pada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sementara itu memperhatikan masa kadaluarsa suatu produk obat, sehingga dapat menghindari dikonsumsinya suatu produk yang sebenarnya sudah tidak layak dikonsumsi. Beberapa kemungkinan yang dapat terjadi pada produk obat yang sudah kadaluarsa :

  • Kadar obat sudah tidak berada dalam rentang yang dipersyaratkan untuk penggunaan. Hal tersebut dapat menyebabkan obat tidak bekerja optimal atau mungkin menjadi toksik. Hal ini akan sangat berbahaya seperti untuk obat-obat jenis antibakteri, anti hipertensi, anti diabet.
    Tidak optimalnya kerja obat disebabkan oleh turunnya kadar/potensi obat, dapat memberikan dampak yang sangat luas, seperti :
    • Dapat mengancam pada keselamatan jiwa
    • Mengacaukan diagnosa penyakit
    • Menimbulkan/meningkatkan kasus resistensi (untuk antibiotik)
    • Meningkatkan biaya pengobatan
  • Mutu obat tidak dapat dipertanggungjawabkan, misalnya yang menyangkut sifat fisik produk obat seperti kekerasan tablet.

Nomor batch yang tercantum pada kemasan obat juga merupakan hal penting untuk diperhatikan. Kode nomor tersebut merupakan kode yang diberikan oleh industri farmasi yang bersangkutan, sehingga memudahkan dilakukan penelusuran balik kepada sumber bila terjadi suatu masalah pada produk obat yang beredar dipasaran, baik masalah keamanan dan ataupun masalah mutu.

Memperhatikan cara penyimpanan yang tertera dalam kemasan juga penting. Menyimpan obat sesuai dengan yang dianjurkan berarti ikut menjaga kondisi dan keadaan obat tersebut tetap stabil hingga masa kadaluarsa. Oleh karenanya kepada para konsumen diharapkan benar-benar memperhatikan dan mematuhi cara penyimpanan yang dianjurkan demi mendapatkan hasil optimal dari obat yang digunakan tersebut.

Di masyarakat saat ini juga terjadi cukup banyak kesalahpahaman mengenai kegunaan suatu obat. Untuk itu kiranya perlu bagi konsumen untuk mencermati hal berikut :

  • Keadaan atau kondisi antar individu penderita tidaklah sama. Di masyarakat sering pula terjadi, mungkin untuk berhemat, bahwa obat yang pernah digunakan untuk seorang penderita diberikan kepada penderita lain yang diperkirakan oleh yang bersangkutan (awam dalam hal medis) berpenyakit sama. Hal tersebut sebenarnya tidak atau kurang tepat disebabkan tentunya untuk penderita terakhir harus dilihat berat-ringannya penyakit, kondisi organ tubuh penderita apakah dapat mentoleransi obat tersebut dan seterusnya sehingga pada akhirnya dosis yang harus diterima tentunya harus dilihat dan disesuaikan pula.
  • Banyak pula masyarakat yang mengkonsumsi suatu obat dengan mengharapkan manfaat seperti gemuk atau lainnya dari suatu produk obat. Biasanya sebagian masyarakat mengkonsumsi produk obat jenis anti-inflamasi hormon untuk mendapatkan efek gemuk. Namun demikian perlu diketahui bahwa efek gemuk tersebut sebenarnya adalah efek samping obat yang disebut oedem. Karena efek gemuk yang terjadi adalah efek samping obat, maka efek gemuk yang terjadi terlihat tidak proporsional, misal hanya di wajah. Hal tersebut bila diteruskan berlanjut tentunya akan berdampak negatif bagi tubuh karena akan merembet kepada hal-hal lain, seperti penekanan pada kelenjar adrenal yang dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak. Selain itu penggunaan jangka lama dapat menyebabkan efek samping diabetes dan osteoporesis. Pertimbangan resiko-manfaat adalah penting untuk diketahui, sehingga penggunaan obat benar-benar optimal, mendapatkan manfaat maksimal dengan resiko seminimal mungkin.
  • Saat ini disinyalir pula terjadi penggunaan antibiotik yang berlebihan di masyarakat. Antibiotik diperlukan hanya bila memang pada diagnosa telah positif adanya infeksi kuman. Penggunaan antibiotik tanpa diagnosa yang tepat akan sangat merugikan, bukan hanya individu yang bersangkutan, tetapi juga masyarakat luas. Dampak yang ditimbulkan sangat beragam sebagaimana berikut:
    • Pemborosan biaya pengobatan (obat) yang sebenarnya tidak diperlukan. Pemborosan biaya obat yang tidak diperlukan dari beberapa informasi yang sudah terpublikasi adalah cukup besar. Karenanya bila dilakukan cara-cara penghematan tentunya akan dapat memberikan kemanfaatan yang besar.
    • Menimbulkan resiko diperolehnya efek samping obat, yang sebenarnya tidak perlu.
    • Menimbulkan dampak terjadinya resistensi antibiotik. Ini merupakan dampak yang paling serius. Dampak ini akan memiliki implikasi yang luas, karena tidak hanya berdampak pada individu yang bersangkutan saja tetapi juga masyarakat, serta pola pengobatan ataupun standard treatment akan terpengaruh. Bagaimanapun antibiotik adalah salah satu obat yang dapat digolongkan sebagai life-saving, sehingga resistensi yang terjadi karena penggunaan yang tidak terkontrol benar-benar akan merugikan kita semua.
    • Berkaitan dengan obat keperkasaan pria, banyak pula terjadi salah persepsi. Persepsi yang banyak dipahami masyarakat adalah selalu dikaitkan dengan istilah obat kuat. Padahal banyak faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut.
      Untuk masalah yang disebabkan oleh faktor psikis tentunya dapat diatasi tanpa intervensi atau tanpa penggunaan obat. Karena untuk penyakit/kelainan/gangguan untuk masalah tersebut sudah ada tata laksana ataupun standard treatment.

Masyarakat perlu mengetahui pula adanya zat aktif yang sama, misal yang terdapat pada obat generik, yang memberikan efek yang sama bila diproduksi oleh beberapa industri farmasi dengan masing-masing nama dagangnya. Oleh karena itu di peredaran dijumpai beberapa nama dagang berbeda dengan zat aktif sama, sehingga sebenarnya memiliki kemanfaatan yang sama. Umumnya obat yang tidak menggunakan nama dagang disebut sebagai obat generik. Seluruh proses evaluasi dan penilaian obat, baik obat nama dagang maupun obat generik di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) diperlakukan sama sesuai dengan standar penilaian efikasi, keamanan dan mutu yang telah ditetapkan. Perlu pula di ingat bahwa komoditi obat berbeda dengan komoditi lain, karena komoditi obat jelas akan memberikan efek kepada tubuh manusia, baik efek yang diharapkan kemanfaatannya (efikasi) maupun efek yang tidak diharapkan (efek samping obat).

Masyarakat dihimbau untuk selalu membaca informasi produk obat, baik yang tercantum di dalam brosur obat ataupun di wadah kemasan. Informasi tersebut sangat berguna untuk panduan penggunaan obat, termasuk menyaring informasi dari promosi obat yang banyak dilakukan, sehingga penggunaan obat akan benar sesuai dengan jenis dan kondisi penderita. Beberapa informasi yang dapat pembaca ketahui dari informasi produk atau yang disebut pula brosur obat antara lain:

  • Indikasi menunjukkan kemanfaatan dari obat yang digunakan untuk mengobati suatu penyakit.
  • Posologi menunjukkan cara maupun frekuensi pemberian obat, ataupun ketentuan lain dalam mengkonsumsi suatu obat. Misalkan obat harus diminum sebelum atau setelah makan ataupun selang waktu antara pemberian obat.
  • Peringatan perhatian menunjukan hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengkonsumsi obat yang disebabkan oleh efek yang tidak diinginkan. Sebagai contoh efek kantuk karena pemberian antihistamin, sehingga harus diingatkan untuk tidak menjalankan kendaraan bermotor atau mesin berat. Sebab lain adalah efek yang tidak diinginkan yang berdampak pada organ penderita dengan penyakit lain, misalkan dextrometorfan (karena memiliki efek mendepresi pernafasan) maka harus diingatkan tidak dianjurkan atau berhati - hati pada penggunaannya untuk penderita yang juga mengalami atau memiliki riwayat asma.
  • Informasi lain yang bermanfaat, seperti jenis - jenis kemasan dan kekuatan obat hingga nomor izin edar.
Terakhir dapat kami sampaikan bahwa obat memang bukan seperti komoditi lain. Hal tersebut seperti telah disinggung diatas, karena komoditi obat memiliki efek farmakokinetik maupun farmakodinamik yang langsung ke tubuh manusia.

Beralih ke versi : Desktop

Aktifkan Javascript pada Browser Anda