Berita Aktual

Bersinergi dalam Pengawasan Produk Tembakau

26 Juli 2018 14:34 WIB Dilihat 889 Kali Hukmas

Jakarta - Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan, BPOM diamanatkan untuk melakukan pengawasan produk tembakau. Tembakau merupakan permasalahan yang mendapat perhatian khusus karena dapat berdampak luas pada kesehatan masyarakat. Untuk itulah diperlukan sebuah sinergisasi lintas sektor yang baik dalam pengawasan, pengendalian, dan pengawalan produk tembakau.

 

Bertempat di Hotel Grand Mercure Kemayoran, BPOM mengadakan Focus Group Discussion (FGD) untuk membahas sinergisasi dalam pengawasan produk tembakau, Jakarta (26/07). FGD ini bertujuan untuk meningkatkan sinergi dalam pengendalian produk tembakau oleh semua sektor terkait. Acara dibuka oleh Kepala BPOM, Penny K. Lukito, yang juga menjadi keynote speaker dalam kegiatan ini. Selain itu, BPOM turut mengundang narasumber dan pembicara lain diantaranya Teguh Dartanto (Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia), Siti Masyitah (The Union International), dan Nina Armando (Ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI). Hadir pula beberapa penanggap yang berasal dari perwakilan kementerian lembaga, perwakilan pemerintah daerah, perwakilan asosiasi, dan perwakilan organisasi masyarakat.

 

“BPOM diberi tugas untuk mengawasi produk tembakau yang beredar, iklan, dan promosi. Hasil pengawasan BPOM tahun 2017 menunjukkan Iklan Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) sebesar 1,29% pada media penyiaran, 42,32% pada media luar ruang, 13,33% pada media cetak, dan 6,85% pada media teknologi informasi” ujar Penny K. Lukito dalam pemaparannya. BPOM selanjutnya memberikan rekomendasi kepada pihak yang berwenang untuk menindaklanjutinya. “Koordinasi pemantapan tata hubungan kerja bersama dengan lintas sektor diperlukan untuk mewujudkan tindak lanjut pengawasan BPOM. FGD hari ini merupakan langkah untuk mendorong pengawasan produk tembakau yang lebih efektif dan efisien dan mencari solusi dari permasalahan yang dihadapi”, tegas Penny K. Lukito.

 

Reri Indriani selaku Plh Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif menjelaskan bahwa terdapat lima strategi penguatan pengawasan produk tembakau, yaitu 1). Pemantapan regulasi dan standar terkait pengawasan produk tembakau, 2). Penguatan sistem, sarana, dan prasarana laboratorium penguji rokok, 3). Penguatan pengawasan iklan dan produk tembakau, 4). Program KIE dan Pemberdayaan Masyarakat, dan 5). Penguatan Kerjasama Lintas Sektor.

 

Sebuah penelitian yang dilakukan Teguh Dartanto dkk membuktikan bahwa terdapat korelasi dampak antara perilaku merokok orang tua terhadap stunting, kecerdasan, dan kemiskinan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa diperlukan pengendalian rokok dengan berbagai cara sehingga dapat menyelamatkan masa depan bangsa dengan menciptakan generasi yang sehat dan cerdas.

 

Melalui forum ini diharapkan BPOM dapat memperkuat langkah dan perannya dalam bersinergi dengan berbagai sektor terkait yang pada akhirnya dapat berkontribusi mewujudkan Indonesia yang kuat, sehat dan cerdas. (HM-Hendriq)

Biro Hubungan Masyarakat dan Dukungan Strategis Pimpinan