Berita Aktual

Kepala Badan POM Tegaskan Pentingnya Kesinambungan Pertemuan OIC NMRAs

23 Desember 2019 12:38 WIB Dilihat 520 Kali Humas & DSP

Abu Dhabi – “Merupakan suatu kehormatan bagi Indonesia, khususnya Badan POM RI dapat menjadi tuan rumah pertemuan bersejarah, yaitu Pertemuan Pertama Kepala Otoritas Regulatori Obat Negara Anggota OKI (OIC NMRAs) tahun 2018 lalu. Hal tersebut merupakan langkah dukungan dan komitmen kami terhadap kemandirian obat dan vaksin yang aman, berkhasiat, dan berkualitas di negara-negara Islam.” Demikian disampaikan Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito saat memberikan sambutan pada Pertemuan Menteri Kesehatan Negara-Negara Islam/Islamic Conference of Health Ministers (ICHM) ke-7 di Abu Dhabi, Minggu (15/12).

 

Kehadiran Kepala Badan POM untuk pertama kalinya dalam Pertemuan ICHM tersebut memenuhi undangan khusus Sekretaris Jenderal Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Dr. Yousef Ahmed Al-Othaimeen, dalam kapasitas sebagai Tuan Rumah dan Ketua Biro Pertemuan Pertama OIC NMRAs. Delegasi Badan POM juga hadir sebagai bagian Delegasi RI bersama Kementerian Kesehatan, Kementerian Luar Negeri dan Lembaga terkait pada Pertemuan ICHM ke-7 tersebut.

 

Lebih lanjut Penny K. Lukito menyampaikan ungkapan terima kasih kepada Sekretaris Jenderal Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) beserta jajaran atas dukungan yang berkelanjutan bagi Indonesia dan Badan POM selama pertemuan OIC NMRAs. “Kami terus memerlukan dukungan Sekretariat Jenderal OKI, terutama terkait implementasi Deklarasi Jakarta dan Program Aksi hasil pertemuan tersebut,” lanjut Kepala Badan POM. 

 

Dalam sambutannya pada pertemuan Menteri Kesehatan yang dihadiri oleh mayoritas negara OKI tersebut, Kepala Badan POM menekankan tentang pentingnya kesinambungan pertemuan NMRAs OIC sebagai suatu platform untuk kolaborasi otoritas regulatori obat. Pertemuan OIC NMRAs tahun lalu telah menciptakan forum dialog diantara otoritas regulatori obat terkait penyediaan dan akses terhadap obat dan vaksin yang aman, berkhasiat, dan berkualitas melalui kerja sama negara di dunia Islam.

 

“Ketersediaan dan akses obat-obatan dan vaksin tersebut sangat penting dalam mencegah dan menyembuhkan penyakit, serta menjaga dan meningkatkan kesehatan masyarakat,” ujar Penny K. Lukito. “Pertemuan NMRAs OIC juga telah menekankan pentingnya NMRA yang kompeten, fungsional dan independen dimana seluruh tahapan kerjanya sesuai dengan standar internasional. Otoritas regulatori obat harus menjalankan peran pengawasan yang kuat untuk menjamin obat dan vaksin yang dipasarkan dan dikonsumsi oleh masyarakat aman, berkhasiat, dan berkualitas,” lanjutnya.

 

Tidak hanya itu, pertemuan NMRAs OIC juga menyediakan platform yang berguna bagi otoritas regulatori obat untuk berkolaborasi dengan produsen obat dan vaksin untuk kepentingan masyarakat di negara-negara Islam, dengan memastikan ketersediaan dan keterjangkauan serta kemandirian obat dan vaksin.

 

Penny K. Lukito memaparkan bahwa Indonesia, dalam hal ini Badan POM, memiliki posisi yang sangat strategis sebagai Ketua Biro OIC NMRAs dan siap untuk memberikan bantuan dan dukungan bagi negara-negara anggota OKI yang akan menjadi tuan rumah pertemuan OIC NMRAs berikutnya.

Menanggapi seruan Kepala Badan POM terkait kesinambungan pertemuan OIC NMRAs, delegasi Turki telah mengumumkan kesediaanya untuk menjadi tuan rumah Pertemuan Kedua OIC NMRAs tahun 2020. Hal ini menunjukkan bahwa sesuai harapan Badan POM, keberlangsungan forum OIC NMRAs sebagai platform kolaborasi otoritas regulatori obat negara anggota OKI terwujud.

 

Badan POM sendiri telah melakukan berbagai upaya tindak lanjut implementasi Deklarasi Jakarta dan Rencana Aksi OKI, terutama dalam peningkatan kapasitas negara anggota OKI yang membutuhkan, antara lain Kerajaan Maroko dan Republik Tunisia dalam program Reverse Linkage, serta Palestina dan Jordania dalam kerangka Program Kerja Sama Selatan-Selatan (KSS).

 

Selain memaparkan progress kegiatan otoritas obat negara OKI dalam Pertemuan ICHM, Kepala Badan POM juga melaksanakan pertemuan bilateral singkat dengan Assistant Secretary General for Science and Technology Duta Besar Askar Mussinov. Dalam pertemuan ini dibahas langkah dan hal strategis terkait pertemuan kedua OIC NMRAs, serta implementasi Deklarasi Jakarta dan Rencana Aksi, khususnya untuk negara anggota OKI yang memerlukan bantuan capacity building.

 

Kepala Badan POM juga bertemu dengan Menteri Kesehatan Palestina Mai Alkaila, yang kembali mengingatkan akan pentingnya kerja sama Indonesia dan Palestina terutama dukungan Badan POM untuk terbentuknya Lembaga independen pengawasan Obat dan Makanan di Palestina sesuai jangka waktu 6 bulan. Saat ini, kedua belah pihak sedang menyusun MoU terkait pembentukan lembaga independen tersebut. Hal ini disampaikan Mai Alkaila di hadapan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Terawan Agus Putranto.

 

“Semua upaya yang kami lakukan tidak lain merupakan bentuk komitmen dan kontribusi kami untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, yaitu untuk memastikan kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi semua orang di segala usia.” tutup Penny K. Lukito.