Berita Aktual

Demand Tinggi Selama Pandemi, Badan POM Kawal Pengembangan Obat Herbal Berkualitas

10 Agustus 2020 19:00 WIB Dilihat 2376 Kali Kerjasama dan Humas

Jakarta – Masifnya laju pertumbuhan pasien COVID-19 mendorong berbagai pihak mengerahkan daya dan upaya menemukan obat yang ampuh untuk mengakhiri pandemi ini. Belum ditemukannya obat atau vaksin hingga saat ini, membuat masyarakat semakin sadar akan pentingnya memelihara kesehatan dan daya tahan tubuh. Salah satunya dengan mengonsumsi jamu sebagai salah satu upaya pencegahan COVID-19.

Senin (10/08), Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito menjadi salah satu narasumber dalam seminar online/webinar yang diselenggarakan Gabungan Pengusaha (GP) Jamu bersama Krista Exhibitions bertema “Kondisi Jamu dan Kegunaan Jamu untuk Kesehatan di masa Pandemi COVID-19”. Selain Kepala Badan POM, webinar juga menghadirkan narasumber Ketua Umum GP Jamu, Dwi Ranny Pertiwi; Molecular Pharmologist Dexa Group, Raymond R. Tjandrawinata; Wakil Ketua Umum GP Farmasi, Jony Yuwono; Direktur Utama PT. Indofarma, Arief Pramuhanto; dan Sekjen GP Jamu, Rusdiyanto. 

Selama masa pandemi COVID-19, kebutuhan akan jamu melonjak seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya meningkatkan imunitas tubuh. Peningkatan demand jamu ini menjadi peluang untuk pengembangan produk herbal/jamu Indonesia yang memenuhi persyaratan keamanan, mutu, label dan iklan. Merupakan salah satu tanggung jawab Badan POM untuk mengawal pengembangan produk herbal berkualitas di era pandemi.

“Badan POM mengawal pengembangan obat herbal, terutama produk yang diperlukan untuk memelihara daya tahan tubuh selama pandemi. Badan POM memberikan pendampingan bagi para peneliti dan pelaku usaha sejak penyusunan protokol uji hingga pelaksanaan uji klinik sesuai Good Clinical Practice agar menghasilkan data klinik yang valid dan kredibel sehingga produk tersebut dapat menjadi fitofarmaka,” jelas Kepala Badan POM dalam paparannya.

Saat ini Badan POM tengah mendampingi 8 penelitian produk herbal untuk penanggulangan COVID-19. Penelitian ini melibatkan instansi terkait, rumah sakit, perguruan tinggi, asosiasi profesi, dan industri. Adanya sinergi yang baik ini diharapkan akan mempercepat hilirisasi penelitian produk herbal menjadi produk komersial untuk dimanfaatkan oleh masyarakat.

Kepala Badan POM menjelaskan bahwa Badan POM telah melakukan berbagai upaya dalam rangka mendukung kemudahan berusaha dan pengembangan obat tradisional. “Badan POM telah melakukan relaksasi dan percepatan perizinan pada masa sebelum pandemi. Pada masa pandemi COVID-19, registrasi prioritas diberikan untuk perizinan obat tradisional dan suplemen kesehatan dengan klaim memelihara daya tahan tubuh,” ungkapnya. “Dari bulan Januari hingga Juli 2020 telah diterbitkan izin edar untuk 178 obat tradisional, 3 fitofarmaka, dan 149 suplemen kesehatan lokal dengan khasiat membantu memelihara daya tahan tubuh,” jelas Kepala Badan POM.

Meningkatnya kebutuhan jamu ini dimanfaatkan oleh beberapa oknum tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan hoaks dan informasi menyesatkan terkait penggunaan obat herbal. Belakangan banyak oknum yang mengklaim produk buatannya dapat menangkal bahkan menyembuhkan pasien COVID-19. Informasi yang keliru ini jelas merugikan masyarakat. Berbagai Langkah telah ditempuh Badan POM untuk mencegah hal tersebut, antara lain dengan menindak oknum penyebar hoaks hingga melakukan edukasi baik daring maupun tatap muka serta penyebaran infografis di berbagai platform media sosial.

Menanggpi hal tersebut Molecular Pharmologist Dexa Group, Raymond R. Tjandrawinata menjelaskan bahwa obat tradisional atau jamu tidak dapat mematikan virus COVID-19. “Obat tradisional tidak ada satupun yang dapat mematikan virus, terutama virus COVID-19. Jadi, obat tradisional tidak boleh overclaim. Yang bisa kita lakukan adalah mencegah dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan membantu pengobatan simptomatik, seperti batuk, tenggorokan kering, dll,” jelasnya.

Senada dengan Raymond, Sekjen GP Jamu, Rusdiyanto menjelaskan pentingnya antibodi untuk menangkal virus. “Tidak ada obat yang bisa membunuh virus, baik itu herbal maupun kimia. Yang bisa membunuh virus didalam tubuh adalah antibodi kita sendiri,” tukas Raymond.

Menutup paparannya, Kepala Badan POM mengharapkan para pelaku usaha jamu untuk selalu menyediakan obat herbal berkualitas dan berdaya saing. “Pandemi ini menjadi peluang untuk memajukan obat herbal Indonesia dengan inovasi dan terobosan riset obat herbal aman, bermutu, dan berkhasiat melalui pemanfaatan sumber daya lokal.” tutupnya. (HM - Bayu)

Biro Hubungan Masyarakat dan Dukungan Strategis Pimpinan