Berita Aktual

Keracunan yang Disebabkan Gas Karbon Monoksida

10 Juni 2005 09:00 WIB Dilihat 37431 Kali Umum

Karbon monoksida (CO) adalah gas yang tidak berwarna, tidak berasa, tidak mengiritasi dan tidak berbau.Gas ini dihasilkan melalui pembakaran gas, minyak, petrol, bahan bakar padat atau kayu. Terbentuknya gas CO berasal dari kebakaran, tungku, pemanas, oven dan mesin Bahaya utama terhadap kesehatan adalah mengakibatkan gangguan pada darah. Batas pemaparan karbon monoksida yang diperbolehkan oleh OSHA (Occupational Safety and Health Administration) adalah 35 ppm untuk waktu 8 jam/hari kerja.Kadar yang dianggap langsung berbahaya terhadap kehidupan atau kesehatan adalah 1500 ppm (0,15%).Paparan dari 1000 ppm (0,1%) selama beberapa menit dapat menyebabkan 50 % kejenuhan dari karboksi hemoglobin dan dapat berakibat fatal. Banyak pembakaran yang menggunakan bahan bakar seperti alat pemanas dengan menggunakan kerosen (minyak tanah), gas, kayu dan charcoal yaitu kompor, pemanas air,alat pembuangan hasil pembakaran dan lain - lain yang dapat menghasilkan karbon monoksida. Pada daerah yang macet tingkat bahayanya cukup tinggi terhadap kasus keracunan. Karbon monoksida tidak mengiritasi tetapi sangat berbahaya dan biasanya disebut dengan "silent killer". Asap rokok juga mengandung gas karbon monoksida, pada orang dewasa yang tidak merokok biasanya terbentuk karboksi hemoglobin tidak lebih dari 1 % tetapi pada perokok yang berat biasanya lebih tinggi yaitu 5 - 10 %. Pada wanita hamil yang merokok, kemungkinan dapat membahayakan janinnya. Sering kita mendengar terjadi kematian didalam mobil dan ini disebabkan ventilasi yang kurang baik sehingga pembuangan asap yang bocor masuk kedalam mobil dan perlahan - lahan terhirup oleh orang yang berada didalam mobil tersebut. Bahaya karbon monoksida dapat juga terjadi di dalam garasi yang tertutup kira - kira 10 menit. untuk mencegah terjadinya keracunan, maka semua pintu dan jendela garasi harus terbuka bila mesin mobil sedang dihidupkan.

Gejala gejala Keracunan
Keracunan karbon monoksida sukar didiagnosa karena gejalanya mirip dengan sakit flu yaitu didahului dengan sakit kepala, mual, muntah, lelah, lesi pada kulit, berkeringat banyak,pyrexia, pernapasan meningkat, mental dullness dan konfusion, gangguan penglihatan, konvulsi, hipotensi, takikardia, myocardinal, ischamea. Kemungkinan dapat terjadi kematian akibat sukar bernafas dan udem paru - paru. Kematian terhadap kasus keracunan karbon monoksida disebabkan oleh kurangnya oksigen pada tingkat selular (cellular hypoxia). Sel darah merah tidak hanya mengikat oksigen melainkan juga gas lain. Kemampuan atau daya ikat ini berbeda untuk satu gas dengan gas lain. Sel darah merah mempunyai ikatan yang lebih kuat terhadap karbon monoksida dari pada oksigen. Sehingga kalau terdapat CO dan O2, sel darah merah akan cenderung berikatan dengan CO. Bila terhirup, karbon monoksida akan terbentuk dengan hemoglobin (Hb) dalam darah dan akan terbentuk karboksi haemoglobin sehingga oksigen tidak dapat terbawa. ini disebabkan karbon monoksida dapat mengikat 250 kali lebih cepat dari oksigen. Gas ini juga dapat mengganggu aktifitas selular lainnya yaitu dengan mengganggu fungsi organ yang menggunakan sejumlah besar oksigen seperti otak dan jantung. Gejala - gejala klinis dari dari saturasi darah oleh karbon monoksida dapat dilihat pada tabel berikut.

Konsentrasi CO dalam darahGejala - Gejala
Kurang dari 20%Tidak ada gejala
20%Nafas menjadi sesak
30%Sakit kepala, lesu, mual, nadi dan pernapasan meningkat sedikit
30% - 40%Sakit kepala berat, kebingungan, hilang daya ingat, lemah, hilang daya koordinasi gerakan
40% - 50%Kebingungan makin meningkat, setengah sadar
60% - 70%Tidak sadar, kehilangan daya mengkontrol faeces dan urin
70% - 80%Koma, nadi menjadi tidak teratur, kematian karena kegagalan pernapasan


Pertolongan pertama
Bila terjadi keracunan karbon monoksida, maka untuk pertolongan pertama adalah menjauhkan korban dari sumber karbon monoksida dan memberikan oksigen murni. Korban harus diistirahatkan dan diusahakan tenang. Meningkatnya gerakan otot menyebabkan meningkatnya kebutuhan oksigen, sehingga persediaan oksigen untuk otak dapat berkurang. (Dra. Yuniar Marpaung)