Siaran Pers / Peringatan Publik

Melalui Sinergisme Academic-Bussiness-Goverment, Badan POM Mengawal Pengembangan Bisnis Inkubator UMKM Pangan Steril Komersial

27 Agustus 2019 13:50 WIB Dilihat 432 Kali Humas & DSP

SIARAN PERS

Melalui Sinergisme Academic-Bussiness-Goverment, Badan POM Mengawal Pengembangan Bisnis Inkubator UMKM Pangan Steril Komersial

 

 

Jakarta – Menyadari pentingnya peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pangan dalam perekonomian rakyat, terutama penyerapan tenaga kerja yang cukup besar, Badan POM berkomitmen untuk mendorong dan memfasilitasi peningkatan daya saing UMKM. Salah satunya melalui pembinaan penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) untuk memproduksi pangan yang aman dan bermutu.

 

Saat ini, terdapat tren pertumbuhan UMKM pangan yang memproduksi pangan olahan dalam kemasan kaleng atau pouch tahan panas dengan menggunakan teknologi sterilisasi komersial antara lain untuk produk rendang, gudeg, sambal krecek, sayur lombok ijo, dan produk kuliner khas lainnya. Dilihat dari tren jenis produk, penggunaan teknologi sterilisasi komersial sangat berpotensi untuk memfasilitasi pengembangan kuliner nusantara.

 

Pada proses sterilisasi komersial, produk dipanaskan di dalam bejana tahan panas (retort) dengan suhu 121,1oC selama 3,0 menit (atau proses setara) untuk memusnahkan spora bakteri pathogen, dalam hal ini spora bakteri Clostridium botulinum. Dengan menggunakan teknologi ini, produk yang pada awalnya hanya dapat disimpan selama beberapa hari dapat disimpan hingga dua tahun pada suhu kamar sehingga jangkauan pemasaran produk menjadi lebih luas.

 

Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito mengungkapkan bahwa praktik sterilisasi komersial yang dilakukan oleh UMKM masih membutuhkan pendampingan karena sebagian besar UMKM belum memiliki kemampuan untuk memastikan kecukupan panas pada tahap sterilisasi. Jika panas yang dibutuhkan pada tahap sterilisasi tidak tercukupi, maka terdapat peluang spora bakteri C. botulinum masih bertahan dan bergerminasi selama penyimpanan produk, menghasilkan botulin toksin yang bersifat neurotoksik.

 

Mempertimbangkan adanya risiko tersebut, Badan POM telah menerbitkan Peraturan Kepala Badan POM Nomor 24 Tahun 2016 tentang Persyaratan Pangan Steril Komersial. Peraturan ini mewajibkan pelaku usaha yang memproduksi Pangan Steril Komersial untuk menerapkan Cara Produksi yang Baik untuk pangan steril komersial, termasuk pemenuhan kecukupan panas.

 

Untuk mendampingi UMKM pangan dalam penerapan persyaratan pangan steril komersial, Badan POM melaksanakan program pendampingan bersama-sama Kementerian/Lembaga terkait. “Workshop kali ini dimaksudkan sebagai media berkoordinasi antar instansi untuk merumuskan Mekanisme Pembinaan dan Pengawasan UMKM Pangan Steril Komersial, yang melibatkan antara lain LIPI, Perguruan Tinggi dan inkubator bisnis UMKM pangan,” ujar Penny K. Lukito, Selasa (27/08) di Jakarta.

 

 “Melalui workshop ini diharapkan terbentuk persepsi yang sama mengenai keamanan pangan steril komersial dan mekanisme untuk membina dan mengawasi UMKM pangan steril komersial sehingga dapat memenuhi dan menaati ketentuan yang ada dalam menjamin keamanan dan mutu produk yang dihasilkan, dan pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing produk UMKM.” tutup Kepala Badan POM.

 

________________________________________________________________________________________________________________

Informasi lebih lanjut hubungi:

Contact Center HALO BPOM di nomor telepon 1-500-533, SMS 0-8121-9999-533, email halobpom@pom.go.id, twitter @BPOM_RI, atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia.