Siaran Pers / Peringatan Publik

Fasilitasi Percepatan Pengembangan Produk Stem Cell dan Obat Lainnya Menuju Kemandirian, Peningkatan Akses, dan Ketersediaan Obat Dalam Negeri

27 November 2019 14:00 WIB Dilihat 4730 Kali Kerjasama dan Humas

SIARAN PERS

Fasilitasi Percepatan Pengembangan Produk Stem Cell dan Obat Lainnya Menuju Kemandirian, Peningkatan Akses, dan Ketersediaan Obat Dalam Negeri

 

 

Surabaya – Sejalan dengan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan, Badan POM melakukan langkah-langkah konkret untuk percepatan hilirisasi hasil riset perguruan tinggi dan percepatan pelayanan publik. Pada hilirisasi hasil riset khususnya di bidang produk biologi dan obat tradisional, Badan POM menginisiasi pembentukan satuan tugas (Satgas) dengan melibatkan kementerian/lembaga, perguruan tinggi, Lembaga penelitian, dan asosiasi. Pembentukan Satuan Tugas Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Fitofarmaka telah disahkan dengan Keputusan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Nomor 22 tahun 2019. Sedangkan Satuan Tugas Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Produk Biologi dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Nomor 23 tahun 2019.

 

Kepala Badan POM Penny K. Lukito mengungkapkan “Satgas Percepatan Pengembangan dan Pemanfaatan Obat dan Produk Biologi dibentuk untuk mendorong kemandirian obat melalui hilirisasi hasil riset dengan memprioritaskan pemanfaatan sumber daya lokal. Badan POM mengawal percepatan hilirisasi hasil riset tersebut dengan pendampingan peneliti dan industri agar mampu memenuhi cara produksi yang baik hingga persyaratan pendaftaran produk. Dengan demikian, obat dan produk biologi terjamin keamanan, mutu, dan khasiatnya untuk dikomersialisasi dan digunakan oleh masyarakat.”

 

Selain mendorong hilirisasi hasil riset dalam rangka memenuhi kebutuhan obat nasional, Badan POM juga melakukan reformasi menyeluruh pada pelayanan publik khususnya perizinan obat. “Selama tiga tahun terakhir, Badan POM telah melakukan percepatan perizinan dengan debirokratisasi, simplifikasi bisnis proses, dan deregulasi. Kualitas pelayanan publik juga terus ditingkatkan agar semakin prima, lebih efisien dan efektif, serta ramah dan bersahabat. Tentu saja, pemenuhan standar keamanan, khasiat dan mutu obat dan makanan untuk perlindungan masyarakat tetap menjadi prasyarat utama,” ujar Penny K.Lukito. 

 

Berbagai deregulasi dan penyederhanaan tersebut antara lain: timeline registrasi obat yang sebelumnya bervariasi antara 10 hari kerja untuk registrasi ulang tanpa perubahan hingga 300 hari kerja untuk registrasi obat baru yang melakukan investasi di Indonesia saat ini telah dipangkas menjadi 8 jam saja hingga 100 hari kerja. Ke depan inovasi percepatan perizinan tetap menjadi prioritas Badan POM sebagai dukungan nyata untuk kemudahan berusaha sekaligus peningkatan akses dan ketersediaan obat dalam negeri.

 

Hari ini, Rabu (27/11), dilakukan penandatanganan perpanjangan kerja sama yang sudah berjalan sejak 2013, berupa Kesepakatan Bersama antara Badan POM dengan Universitas Airlangga tentang Kerja Sama Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat. Di samping kerja sama di bidang pendidikan dan peningkatan kompetensi SDM, Badan POM dan Universitas Airlangga juga sepakat mempererat kerja sama di bidang penelitian. Khususnya hilirisasi hasil riset dan inovasi obat dan makanan yang sudah menghasilkan sertifikat izin produksi dan izin edar, yang sudah dan sedang berjalan selama ini.

 

Kerja sama ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui sinergi untuk mendukung percepatan produk obat yang bermanfaat secara luas bagi seluruh masyarakat Indonesia, dan dapat memberikan kontribusi positif dalam mewujudkan SDM Unggul dan Indonesia Maju.

 

Rektor Universitas Airlangga Mohammad Nasih menyatakan bahwa Airlangga memiliki banyak hasil riset dan inovasi yang layak menjadi produk untuk dikomersialkan, termasuk inovasi dalam teknologi pengembangan sel punca (stem cell). Karena itu, Kesepakatan Bersama dengan Badan POM ini sangat penting. "Berbagai upaya pendampingan Badan POM sangat penting agar produk inovatif yang dihasilkan dari kampus ini dapat diterima pasar secara legal dan memberi manfaat bagi bangsa dan negara," tukasnya. 

 

Perguruan Tinggi dan Rumah Sakit Pendidikan seperti halnya Universitas Airlangga dan RSUD Dr. Soetomo sangat produktif melakukan berbagai inovasi produk yang bermanfaat untuk peningkatan pelayanan kesehatan. Universitas Airlangga terdepan dalam melakukan penelitian dan pengembangan sel punca atau stem cell untuk terapi penyakit degeneratif sehingga dapat menjadi pilihan pengobatan.

 

Badan POM mengawal hilirisasi metabolit stem cell di Universitas Airlangga maupun berbagai inovasi yang sudah dihasilkan RSUD dr Soetomo. Pendampingan Badan POM dalam pengembangan dan hilirisasi sel punca yaitu asistensi regulatori agar sarana produksi dapat memenuhi standar Good Manufacturing Practice (GMP) untuk menghasilkan produk berkualitas.  Untuk segera mendorong akses produk ke masyarakat, Badan POM terus berinovasi dalam deregulasi dan penyederhanaan prosedur perizinan, namun tidak mengorbankan aspek keamanan dan mutunya.

 

 “Kolaborasi dan sinergisme antara Pemerintah, Akademisi, dan Industri sangat diperlukan agar produk hasil penelitian obat dan makanan dapat dihilirisasi sehingga menjadi kontribusi nyata dalam peningkatan kesehatan masyarakat. Dukungan regulasi yang berpihak kepada penelitian juga dibutuhkan untuk mendukung percepatan hilirisasi produk-produk inovasi.” pungkas Penny K. Lukito.

 

_______________________________________________________________________________________

Informasi lebih lanjut hubungi: Contact Center HALO BPOM di nomor telepon 1-500-533, SMS 0-8121-9999-533, email halobpom@pom.go.id,  twitter@BPOM_RI, atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia