Bintal Muda BPOM 2026: Membangun ASN Berintegritas Wujudkan Pengawasan Obat dan Makanan yang Tepercaya

15-07-2026 Kerjasama dan Humas Dilihat 675 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Jakarta – Kepercayaan publik terhadap keamanan obat dan makanan merupakan amanah yang harus dijaga melalui tata kelola yang berintegritas dan sumber daya manusia yang unggul. Untuk memperkuat fondasi tersebut, BPOM menggelar Pembinaan Mental Nasional (Bintalnas) "Bintal Muda Badan POM Tahun 2026”, Rabu (15/7/2026) di Auditorium Gedung Merah Putih BPOM. Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat implementasi nilai BerAKHLAK dan membangun karakter aparatur sipil negara (ASN) muda yang profesional, berintegritas, serta berorientasi pada pelayanan kepada masyarakat.

Mengusung tema “Bangkit Bersama, Berintegritas Bersama” dengan subtema “Membangun Kepercayaan, Menguatkan Karakter, dan Menginternalisasikan Nilai BerAKHLAK menuju Badan POM yang Profesional dan Berintegritas”, kegiatan ini diikuti oleh ribuan ASN BPOM, khususnya ASN muda, secara luring dan daring dari seluruh Indonesia. Turut hadir pimpinan tinggi madya, pimpinan tinggi pratama, serta pakar ahli di lingkungan BPOM.

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala BPOM Taruna Ikrar. Dalam sambutannya, Kepala BPOM menegaskan pentingnya pembinaan mental sebagai bekal bagi ASN muda dalam menjalankan tugas dan pengabdian kepada bangsa.

"Acara hari ini sangat penting sebagai sebuah pembinaan yang akan mengantarkan adik-adik untuk menggapai cita-cita yang mulia. Marilah bersama BPOM kita tumbuh, berkembang, dan memajukan bangsa dan negara. Jadikan BPOM sebagai lahan pengabdian untuk bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar Taruna Ikrar.

Menurutnya, ASN BPOM tidak hanya dituntut memiliki kompetensi teknis, tetapi juga karakter yang kuat, integritas yang tinggi, serta semangat melayani masyarakat. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi dalam menjalankan tugas pengawasan obat dan makanan secara profesional, objektif, dan akuntabel.

Sebagai keynote speaker, Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Amir Arief menyampaikan materi mengenai Pentagon of Fraud sebagai konsep yang menjelaskan faktor-faktor penyebab terjadinya korupsi. Ia menekankan bahwa upaya pencegahan korupsi tidak cukup hanya melalui pemahaman terhadap regulasi, tetapi harus dimulai dari pembentukan integritas individu dan budaya organisasi yang kuat.

"Attitude individu dibentuk melalui culture communal. Jadi, saling membentuk. Bina mental hari ini bukan tentang memahami Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. Kuncinya ada pada manusianya," ujar Amir Arief.

Menurutnya, budaya organisasi yang sehat akan membentuk karakter setiap individu. Oleh karena itu, pembinaan mental menjadi langkah penting dalam menumbuhkan integritas dan membangun budaya antikorupsi di lingkungan birokrasi sehingga setiap aparatur mampu menjalankan tugas secara profesional, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

Kegiatan pembinaan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan Cris Kuntadi, yang menyampaikan materi tentang membangun integritas secara sistemik. Dalam paparannya, Cris Kuntadi membahas berbagai aspek penting dalam penguatan integritas ASN, mulai dari pemahaman mengenai korupsi dan gratifikasi, arah transformasi pengelolaan sumber daya manusia (SDM), 5 komitmen ASN muda, hingga penerapan sistem kendali kecurangan.

Melalui materi tersebut, Cris Kuntadi menekankan bahwa integritas harus dibangun secara menyeluruh, tidak hanya melalui kesadaran individu, tetapi juga melalui sistem dan lingkungan organisasi yang mampu mendorong terciptanya budaya kerja yang profesional dan beretika. Penguatan sistem pengendalian kecurangan menjadi salah satu upaya penting untuk mencegah potensi penyimpangan serta memastikan setiap proses kerja berjalan secara transparan dan akuntabel.

Ia juga mengajak ASN muda BPOM untuk memiliki komitmen dalam menjaga nilai-nilai integritas, terus meningkatkan kompetensi, serta menjadi bagian dari perubahan positif dalam birokrasi. Menurutnya, karakter dan budaya kerja yang kuat menjadi fondasi bagi ASN untuk menjalankan amanah pelayanan publik secara optimal dalam mendukung tugas BPOM melindungi masyarakat.

"Kita bersih dan berintegritas bukan karena takut akan menjadi temuan KPK atau Inspektorat, tapi karena kita ingin melaksanakan tugas dengan hati dan memang harus diterapkan," tegas Cris Kuntadi pada akhir paparannya.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, peserta mengikuti sesi muhasabah dan doa yang dipimpin oleh Ustaz Itang Rusmana. Ia merefleksikan pentingnya penguatan komitmen moral dan spiritual dalam menjalankan amanah sebagai aparatur negara.

Pembinaan Mental Nasional BPOM 2026 merupakan bagian dari upaya berkelanjutan BPOM dalam menginternalisasi core values ASN BerAKHLAK. Melalui penguatan karakter, mental, dan integritas ASN, BPOM terus membangun budaya kerja yang profesional dan terpercaya.

Penguatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan BPOM diharapkan dapat semakin meningkatkan kualitas pengawasan obat dan makanan. Dengan aparatur yang berintegritas dan berorientasi pada pelayanan, BPOM terus memperkuat kepercayaan publik sekaligus mendukung terwujudnya masyarakat yang sehat dan Indonesia Emas 2045. (HM-Hilmalia)

 

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

 

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana