Victoria, Australia – BPOM menegaskan pentingnya penguatan ekosistem regulasi untuk mendukung inovasi kesehatan lintas batas antara Indonesia dan Australia. Hal tersebut disampaikan Kepala BPOM Taruna Ikrar dalam paparannya secara daring pada kegiatan Festival Indonesia Business Forum pada Senin (20/10/2025).
Kegiatan ini merupakan rangkaian Festival Indonesia 2025 yang diselenggarakan di The Promenade Docklands oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Melbourne bersama Festival Indonesia Inc., sebuah komunitas diaspora Indonesia di Victoria, Australia. Forum bisnis yang digelar kali ini mengangkat tema “Bridging Indonesia-Australia Health Futures: Innovation and Care Across Borders”. Kegiatan ini bertujuan menjadi wadah pertemuan strategis untuk memperkuat kemitraan di bidang kesehatan, farmasi, dan teknologi media antara Indonesia dan Australia.
Forum bisnis ini dihadiri oleh Victorian Minister for Economic Growth and Jobs, Minister for Finance Danny Pearson, Duta Besar RI untuk Australia Siswo Pramono, Chairperson of Festival Indonesia Inc. Celyanda Goeltom, serta perwakilan dari Kementerian Kesehatan RI. Sekitar 100 peserta forum yang hadir berasal dari kalangan pembuat kebijakan, pimpinan perusahaan farmasi dan vaksin, akademisi, pusat riset dan pengembangan, perusahaan bioteknologi, penyedia jasa keperawatan, tenaga kesehatan, asosiasi pekerja kesehatan, startup, investor dari Australia, pakar industri, serta pelaku bisnis dari Indonesia.
Dalam sambutannya, Duta Besar RI untuk Australia Siswo Pramono menyebut forum ini menjadi langkah penting untuk menindaklanjuti kerja sama kesehatan Indonesia–Australia. “Ini adalah waktu panen bagi hubungan bilateral kita. Kedua negara kini memetik hasil dari kerja sama yang semakin erat, termasuk di bidang kesehatan,” ujarnya.
Sementara itu, Chairperson of Festival Indonesia Inc. Celyanda Goeltom menyampaikan apresiasinya terhadap dukungan berbagai pihak atas terselenggaranya forum ini. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi ruang nyata memperkuat kolaborasi di bidang inovasi, riset, dan layanan kesehatan lintas negara.
Dalam sesi paparannya, Kepala BPOM menyampaikan materi mengenai Strengthening Regulatory Ecosystem to Support Health Innovation. Taruna Ikrar menjelaskan bahwa resiliensi kesehatan menjadi faktor kritis dalam mencapai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditargetkan sebesar 8% menuju Indonesia Emas 2045.
Peningkatan kemandirian industri farmasi menjadi kunci mewujudkan resiliensi tersebut. Taruna mendorong agar industri farmasi membangun dan memperkuat kerja sama dengan pihak akademisi untuk memfasilitasi komersialisasi produk hasil penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat. Industri juga diharapkan terus mengembangkan kapabilitas melalui transfer teknologi, terutama untuk memproduksi produk obat esensial yang saat ini belum dapat diproduksi di dalam negeri.
“Yang tidak kalah penting, industri farmasi perlu meningkatkan daya saing produknya melalui inovasi dan kepatuhan terhadap standar agar memastikan produknya aman, berkualitas, dan berkhasiat,” lanjut Taruna.
Untuk mencapai target tersebut, BPOM pun tengah melakukan transformasi besar. Perubahan yang dilakukan mencakup percepatan proses perizinan obat baru hingga di bawah 100 hari kerja, pengembangan sistem laboratorium digital real-time, serta tengah berproses menuju pengakuan sebagai otoritas terdaftar WHO (WHO Listed Authority/WLA).
“Kami berkomitmen mentransformasi laboratorium menjadi modern, akurat, dan real-time dengan sistem regulasi yang cepat dan transparan. Kami ingin menjadikan Indonesia sebagai pusat investasi inovasi kesehatan di kawasan [Asia Pasifik],” jelasnya.
Lebih lanjut, Kepala BPOM menegaskan bahwa kolaborasi sektor publik dan swasta akan menjadi kunci menuju ketahanan kesehatan nasional dan kemajuan industri farmasi. “Kami mengundang negara mana pun, termasuk perusahaan Australia, untuk berinvestasi dalam uji klinis di Indonesia. Transfer teknologi dan penelitian bersama akan menjadi jembatan menuju masa depan kesehatan yang lebih kuat,” ujarnya.
Pada kesempatan ini, pihak Australia dan Indonesia bersama menegaskan komitmennya dalam memperkuat kemitraan strategis yang telah dituangkan dalam Indonesia-Australia Comprehensive Strategic Partnership 2025-2029. Program Australia-Indonesia Partnership for Health Transformation (KITA SEHAT) yang baru ditandatangani awal Agustus 2025 menjadi salah satu landasan kerja sama konkret dalam bidang kesehatan dan teknologi medis.
Konsul Jenderal RI di Melbourne menekankan bahwa hasil diskusi forum ini menjadi masukan penting bagi pelaksanaan kemitraan Indonesia–Australia. Dalam hal ini terkait implementasi KITA SEHAT yang memiliki nilai investasi senilai AUD200 juta, dengan tujuan memperkuat transformasi layanan kesehatan berbasis teknologi dan kolaborasi sumber daya manusia.
Partisipasi BPOM dalam forum ini menandai komitmen Indonesia memperkuat ekosistem inovasi kesehatan, memperluas akses terhadap produk bermutu, aman, dan berdaya saing global. Dengan mengusung prinsip sinergi antara pemerintah, akademisi, dan dunia usaha (triple helix) diharapkan semakin membuka peluang investasi baru dan percepatan kemajuan riset industri farmasi di kawasan Asia Pasifik. (HM-Zalfa/HM-Herma)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
