Jakarta — BPOM bersama International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG) dan International Society of Pharmacovigilance (ISoP) Indonesia menyelenggarakan media briefing dalam bentuk talkshow untuk memperingati World Patient Safety Day (WPSD) 2025, Kamis (25/9/2025). Acara ini dihadiri oleh 16 media nasional, termasuk Kompas, Antara, Media Indonesia, Tempo, CNBC Indonesia, hingga Detik Health.
WPSD yang diperingati setiap 17 September merupakan inisiatif global dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk meningkatkan kesadaran, mendorong kolaborasi lintas sektor, dan menegaskan kembali komitmen semua pihak dalam menjadikan pelayanan kesehatan lebih aman. Tahun ini, tema yang diangkat adalah “Enhance Medication Safety”, yang menekankan pentingnya penguatan sistem pengawasan obat untuk melindungi pasien dari risiko yang dapat dicegah.
Kepala BPOM Taruna Ikrar hadir sebagai keynote speaker sekaligus pembicara dalam sesi “Regulatory Perspective (Frameworks and Patient Safety)”. Dalam paparannya, Kepala BPOM menegaskan bahwa keselamatan pasien bukanlah pilihan, melainkan kewajiban bersama.
“Komitmen terhadap keselamatan pasien tidak dimulai di akhir rantai layanan kesehatan, melainkan sejak awal lahirnya sebuah inovasi. Pada saat sebuah obat baru ditemukan, proses penelitian dan pengembangan selalu menempatkan keselamatan dan khasiat sebagai dua prinsip yang berjalan beriringan sehingga setiap inovasi benar-benar menghadirkan manfaat nyata dan bertanggung jawab bagi pasien,” ujarnya.
BPOM menegaskan perannya dalam mendukung sasaran kedua WPSD 2025 yang ditetapkan WHO, yaitu enhance medication safety. Upaya ini diwujudkan melalui pengawasan mutu, khasiat, dan keamanan obat secara menyeluruh, mulai dari pencegahan (standardisasi, perizinan, dan pembinaan), pengawasan rutin, hingga penindakan. BPOM juga tengah menyempurnakan Peraturan BPOM Nomor 15 Tahun 2022 tentang Penerapan Farmakovigilans agar selaras dengan standar internasional, seperti International Council for Harmonisation (ICH), European Medicines Agency (EMA), dan Therapeutic Goods Administration (TGA). Harmonisasi regulasi ini diharapkan memperkuat kepercayaan global terhadap produk farmasi Indonesia sekaligus mempercepat pencapaian status WHO Listed Authority (WLA).
Selain Kepala BPOM, hadir narasumber lain yaitu Direktur Pengawasan Keamanan, Mutu, dan Ekspor Impor Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM Nova Emelda; Wakil Ketua I ISoP Chapter Indonesia Grace Wanggae; serta Penanggung Jawab Kelompok Kerja Penguatan Kerangka Kerja Regulatori IPMG Manishkumar Munot. Para narasumber menyoroti pentingnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan dalam memperkuat sistem farmakovigilans nasional, termasuk peran media dalam menyebarkan informasi yang benar kepada masyarakat.
Manishkumar Munot juga menggarisbawahi pernyataan Kepala BPOM bahwa jaminan keamanan pasien bukan hanya tanggung jawab satu pihak saja. “IPMG berkomitmen untuk bekerja sama dengan media, BPOM, Kementerian Kesehatan, dan stakeholders terkait lainnya untuk memastikan bahwa keamanan pasien menjadi center dari apa yang kami lakukan,” tuturnya.
Dari kegiatan ini diharapkan tercapai 3 hasil utama. Pertama, peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat serta tenaga kesehatan dalam pelaporan farmakovigilans. Kedua, keselarasan kebijakan dan regulasi berbasis risiko yang mendukung percepatan Indonesia menuju WLA. Ketiga, penguatan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, termasuk regulator, industri, tenaga kesehatan, akademisi, dan media, dalam membangun budaya keselamatan pasien.
Pesan utama yang disampaikan dalam acara ini adalah bahwa keselamatan pasien harus menjadi prioritas sejak awal proses inovasi farmasi. Perusahaan farmasi bersama regulator memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap obat yang beredar aman, bermutu, dan bermanfaat nyata bagi pasien. Kolaborasi erat antara industri dan BPOM dalam pemantauan pasca-pemasaran menjadi salah satu kunci untuk memperkuat perlindungan pasien sekaligus mendukung pencapaian target global.
Kepala BPOM menutup acara dengan mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama memperkuat budaya keselamatan pasien. “Mari kita bersama-sama memperkuat budaya keselamatan pasien. Jadikan World Patient Safety Day 2025 sebagai momentum untuk meneguhkan komitmen keselamatan pasien sejak dini. Karena keselamatan pasien bukan pilihan, melainkan kewajiban kita bersama,” tegasnya. (HM-Hendriq)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
