BPOM dan Kedutaan Besar Tunisia Untuk Indonesia Bahas Penguatan Perdagangan, Standardisasi, dan Kerja Sama Regulasi Obat dan Makanan

18-11-2025 Kerjasama dan Humas Dilihat 706 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Jakarta – Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menerima kunjungan resmi Duta Besar Tunisia untuk Indonesia pada Selasa (18/11/2025). Keduanya melakukan pertemuan untuk membahas mengenai penguatan kerja sama ekonomi, terutama pada sektor pangan, kosmetik, dan farmasi. Pertemuan yang konstruktif ini menghasilkan sejumlah poin penting terkait harmonisasi regulasi serta dukungan BPOM terhadap kelancaran perdagangan kedua negara. 

Hubungan Indonesia–Tunisia disebut telah terjalin jauh sejak sebelum kemerdekaan Tunisia pada 1956. Dalam pertemuan kali ini, kedua pihak sepakat bahwa semangat Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non-Blok harus kembali dihidupkan di tengah situasi geopolitik global saat ini.

Kepala BPOM menjelaskan peran institusinya dalam memastikan keamanan dan standar mutu produk impor. Ia menegaskan bahwa BPOM terbuka mendukung akses produk Tunisia sepanjang memenuhi ketentuan regulasi Indonesia. “Apa pun produk dari Tunisia, khususnya makanan, jika rakyat Indonesia membutuhkannya, kami siap memberikan fasilitasi. Tidak ada masalah selama kualitasnya baik,” ujar Kepala BPOM.

Lebih lanjut, Taruna Ikrar menegaskan pentingnya harmonisasi regulasi agar produk dapat masuk ke pasar Indonesia tanpa hambatan. “Untuk produk makanan impor, tidak bisa keluar dari bea cukai sebelum ada surat pernyataan aman dan berkualitas. Itu adalah otoritas kami,” jelasnya. 

Ia juga menyampaikan bahwa BPOM siap mengirim tim ke Tunisia untuk melakukan evaluasi good manufacturing practices (GMP). “Kami bisa datang ke fasilitas produksi Anda untuk memberikan sertifikasi GMP. Jika sudah memenuhi standar, kami bisa langsung menerbitkan sertifikat untuk impor ke Indonesia,” ujar Kepala BPOM lagi.

Tunisia menyampaikan bahwa Preferential Trade Agreement (PTA) antara Indonesia dan Tunisia berada pada tahap akhir. Mereka berharap perjanjian tersebut memberikan dampak nyata untuk meningkatkan neraca perdagangan yang masih rendah. “Kami berharap PTA akan berdampak positif pada perdagangan Tunisia–Indonesia. Para negosiator bekerja keras, dan kami ingin hubungan ini tetap seimbang dan saling menguntungkan,” ujar Mohamed Trabelsi, Dubes Tunisia untuk Indonesia.

Tunisia juga menekankan pentingnya pasar Indonesia bagi ekspor kurma dan minyak zaitun, dua komoditas unggulan mereka. “Pasar Indonesia sangat penting bagi kami. Kami ingin meningkatkan ekspor kurma dan memperkenalkan lebih banyak minyak zaitun karena Indonesia tidak memproduksi komoditas ini,” ungkap Mohamed Trabelsi.

Tunisia secara terbuka meminta bantuan dan bimbingan teknis dari BPOM RI agar produk dari negaranya dapat lebih mudah memenuhi standar Indonesia. “Kami membutuhkan harmonisasi regulasi. Jika kita tidak menyesuaikan standar dan prosedur, perdagangan kita tidak akan berkembang. Kita harus belajar praktik terbaik satu sama lain,” lanjut Mohamed Trabelsi.

Tunisia juga mendukung usulan perjanjian resmi antar-lembaga. “Kami mengusulkan dibuatnya memorandum of understanding (MoU) antara lembaga pengawas Tunisia dengan BPOM untuk mempermudah dialog dan normalisasi prosedur. Kami siap mengirimkan proposal resmi,” tutup Mohamed Trabelsi. (HM-Khairul)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

 

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana