BPOM dan Rusia Jajaki Penguatan Kerja Sama Farmasi, Transfer Teknologi, dan Pengawasan Digital Obat dan Makanan

23-10-2026 Kerjasama dan Humas Dilihat 602 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Jakarta – BPOM terus memperkuat kerja sama internasional untuk mendukung kemandirian industri farmasi nasional dan meningkatkan efektivitas pengawasan obat dan makanan. Upaya ini diwujudkan melalui pertemuan bilateral antara Kepala BPOM RI Taruna Ikrar dan Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia Alexey Vladimirovich Gruzdev di Jakarta, Kamis (15/10/2026). 

Pertemuan tersebut membahas sejumlah peluang kerja sama strategis, meliputi transfer teknologi dan pengembangan industri farmasi, peningkatan kapasitas inspeksi good manufacturing practices (GMP), serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperkuat ketertelusuran dan pengawasan produk obat dan makanan. Kedua pihak juga membahas percepatan finalisasi memorandum of understanding (MoU) antara BPOM dan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan (Ministry of Industry and Trade/MIT) Federasi Rusia. Kerja sama ini merupakan pengembangan dari penjajakan yang telah berlangsung sejak 2021 antara BPOM dan State Institute of Drugs and Good Practices (SID&GP) Rusia, khususnya di bidang pertukaran informasi GMP, pelatihan inspektur, dan simulasi inspeksi (mock inspection).

Dalam pertemuan tersebut, delegasi Rusia menyampaikan draf tanggapan (counterdraft) MoU untuk ditindaklanjuti bersama. Kedua pihak menyatakan komitmen untuk mempercepat finalisasi dokumen sebagai landasan penguatan kerja sama. 

“Kami sangat fleksibel dan siap menandatanganinya bila ada kesempatan dalam waktu dekat. Bagi kami, yang terpenting bukanlah sekadar dokumen formalitas di atas kertas, melainkan kerja sama praktis yang berorientasi pada hasil nyata,” ujar Alexey Gruzdev.

Menanggapi hal tersebut, Kepala BPOM menegaskan kesiapan BPOM untuk melanjutkan proses kerja sama dengan tetap memperhatikan ketentuan dan mekanisme yang berlaku. “Bagi saya, tidak ada kendala untuk menandatanganinya sesegera mungkin apabila seluruh prosedur antarnegara telah rampung. Namun, proses ini harus tetap mengikuti mekanisme resmi agar implementasi kerja sama dapat berjalan optimal dan akuntabel,” tegas Taruna Ikrar.

Salah satu fokus utama pertemuan adalah peluang transfer teknologi untuk mendukung penguatan kapasitas produksi obat dalam negeri. Delegasi Rusia memaparkan pengalaman pelaksanaan program Pharma 2020 dan Pharma 2030. Program ini bertujuan meningkatkan kemandirian industri farmasi melalui pengembangan produksi bahan baku obat, obat esensial, dan vaksin. 

Pihak Rusia juga menyampaikan kesiapan perusahaan farmasi di Rusia untuk menjajaki kerja sama transfer teknologi dan pembangunan fasilitas produksi di Indonesia, khususnya untuk produk insulin, obat onkologi, dan produk bioteknologi. Sementara itu, Kepala BPOM menyoroti pentingnya penguatan kapasitas produksi obat diabetes, termasuk insulin dan produk berbasis glucagon-like peptide-1 (GLP-1), guna mengurangi ketergantungan terhadap impor serta meningkatkan akses masyarakat terhadap obat yang dibutuhkan.

Sebagai gambaran pengalaman kerja sama internasional, delegasi Rusia turut memaparkan pembangunan Institut Bioteknologi Mechnikov di Nikaragua yang melibatkan transfer teknologi dan pelatihan tenaga teknis lokal. Pengalaman tersebut menjadi salah satu referensi dalam menjajaki model kolaborasi industri farmasi yang dapat dikembangkan bersama Indonesia.

Peluang kerja sama antara Indonesia-Rusia juga mencakup pengembangan produk farmasi berteknologi tinggi. Produk yang dimaksud antara lain seperti advanced therapy medicinal products (ATMP), terapi seluler Chimeric Antigen Receptor T-cell (CAR-T), antibodi monoklonal, obat antivirus, dan produk fraksionasi darah. 

Kerja sama pengawasan obat antara kedua negara juga memiliki perkembangan konkret. Pada Mei 2026, BPOM telah melakukan inspeksi GMP terhadap salah satu fasilitas produksi insulin di Rusia. Selain itu, berdasarkan informasi delegasi Rusia, sekitar 5 hingga 6 perusahaan farmasi Rusia telah mengajukan dokumen registrasi produk kepada BPOM.

Direktur SID&GP Vladislav Shestakov memaparkan pengalaman lembaganya dalam pelaksanaan inspeksi GMP terhadap fasilitas produksi obat di berbagai negara. SID&GP merupakan lembaga di bawah MIT Rusia yang melaksanakan inspeksi GMP terhadap fasilitas produksi obat di luar negeri untuk memastikan pemenuhan persyaratan GMP yang berlaku di Rusia dan kawasan Eurasian Economic Union (EAEU). Sejak 2016, SID&GP dilaporkan telah melaksanakan lebih dari 4.000 inspeksi di 75 negara, dengan dukungan 58 inspektur berkualifikasi, sekitar separuh di antaranya memiliki sertifikasi inspektur WHO.

Dalam pertemuan tersebut, pihak Rusia mengusulkan penjajakan peta jalan menuju pengakuan timbal balik (mutual recognition agreement/MRA) atas sertifikat GMP untuk mendukung efisiensi proses pengawasan dan akses produk farmasi di kedua negara. Usulan ini masih memerlukan pembahasan lebih lanjut dengan mempertimbangkan ketentuan, standar, dan kewenangan masing-masing otoritas.

Untuk mendukung peningkatan kapasitas pengawasan, SID&GP juga menawarkan pelatihan bagi inspektur BPOM melalui Eurasian Academy of Good Practices, yang memiliki lebih dari 40 modul pelatihan teknis. Salah satu fasilitas yang diperkenalkan adalah VR Factory, yaitu teknologi simulasi inspeksi berbasis realitas virtual untuk mendukung pembelajaran praktik inspeksi GMP.

Selain sektor farmasi, pertemuan ini juga membahas potensi pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan efektivitas pengawasan dan ketertelusuran produk di sepanjang rantai pasok. Chief Executive Officer (CEO) Center for Research in Perspective Technologies (CRPT) Andrey Alekseevich Kirillov memperkenalkan sistem pelacakan digital Rusia bernama Chestny Znak yang memanfaatkan kode identifikasi unik berbentuk kode quick response (QR) untuk memindai kode produk obat dan makanan dan digunakan untuk memeriksa keaslian dan ketertelusuran produk, termasuk menyampaikan laporan kepada otoritas pengawas. 

Dalam kesempatan tersebut, pihak Rusia menawarkan penjajakan alih teknologi maupun pembentukan usaha patungan dengan mitra lokal untuk pengembangan sistem pelacakan digital di Indonesia. Peluang ini dapat menjadi bahan pertimbangan BPOM dalam penguatan sistem pengawasan obat dan makanan berbasis teknologi.

Sebagai tindak lanjut pertemuan, kedua pihak membahas mekanisme finalisasi dan penandatanganan dokumen kerja sama. MoU yang menjadi payung kerja sama direncanakan ditandatangani oleh Kepala BPOM RI, Menteri Perindustrian, dan Perdagangan Federasi Rusia.

Sementara itu, kerja sama teknis di bidang pelatihan inspektur, simulasi inspeksi GMP, dan konsultasi pengawasan obat dijajaki melalui perjanjian antara Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif (Deputi 1) BPOM dan Direktur SID&GP Rusia. Finalisasi dokumen akan dikoordinasikan oleh BPOM kepada Kementerian Luar Negeri. Pada akhir pertemuan, Wakil Menteri Alexey Gruzdev turut mengundang Kepala BPOM untuk melakukan kunjungan resmi ke Moskow dalam rangka penjajakan penandatanganan MoU dan peninjauan fasilitas industri farmasi serta sistem pengawasan digital Rusia.

Pada akhir pertemuan, Wakil Menteri Alexey Gruzdev turut mengundang Kepala BPOM untuk melakukan kunjungan resmi ke Moskow dalam rangka penjajakan penandatanganan MoU dan peninjauan fasilitas industri farmasi serta sistem pengawasan digital Rusia. Pertemuan ini menjadi langkah penting dalam memperluas kemitraan BPOM dengan Rusia, khususnya untuk mendorong penguatan industri farmasi nasional, peningkatan kompetensi pengawas, serta pemanfaatan inovasi teknologi guna menjamin keamanan, khasiat, dan mutu obat serta keamanan dan mutu pangan yang beredar di Indonesia. (HM-Tommi/HM-Herma)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana