BPOM dan TGA Australia Tingkatkan Sinergi Lewat Program Magang dan Kolaborasi Regulasi

25-08-2025 Kerjasama dan Humas Dilihat 1073 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Canberra, Australia - Kepala BPOM Taruna Ikrar menghadiri pembukaan Program Magang Perdana dan Kerja Sama Regulatori antara Therapeutic Goods Administration (TGA) Australia dan BPOM, yang berlangsung di Gulgana Building, Canberra pada Senin (25/8/25). Acara dihadiri sejumlah pejabat tinggi Australia, antara lain Deputy Secretary Health Products Regulation Group sekaligus Kepala TGA Anthony Lawler, Deputy Chief of Mission Kedutaan Besar RI Lintang Paramitasari, Assistant Secretary Global Health Division dari Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) Sean Starmer, serta tim Regulatory Strengthening Program (RSP) dan perwakilan dari kedua lembaga.

Tampak hadir bersama Kepala BPOM adalah Deputi Bidang Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif William Adi Teja, Direktur Standardisasi Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif Tri Asti Isnariani, Direktur Pengawasan Keamanan, Mutu, dan Ekspor Impor Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif Nova Emelda, dan Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Lynda K. Wardhani. Kehadiran Kepala BPOM dan jajaran ini menunjukkan komitmen kerja sama dan sinergi yang telah disepakati dengan TGA dalam meningkatkan kapasitas personel untuk menghadapi berbagai tantangan pengawasan obat dan makanan di era global.

Kepala BPOM menegaskan bahwa program magang ini bukan sekadar inisiatif pelatihan, melainkan sebuah tonggak penting dalam memperdalam kerja sama regulatori yang telah terjalin erat selama ini. “Program ini merupakan simbol dari visi bersama kita untuk memajukan ilmu regulasi serta memperkuat sistem kesehatan publik di kawasan Indo-Pasifik,” ujar Taruna Ikrar dalam pembukaan kegiatan.

Program ini merupakan lanjutan dari berbagai bentuk kolaborasi sebelumnya, termasuk lokakarya teknis, pelatihan bersama, dan dialog berkelanjutan di bawah payung Indo-Pacific RSP. Melalui program magang yang dibagi dalam 3 tahap ini, 6 personel BPOM akan mendapatkan pengalaman langsung di lingkungan kerja TGA, khususnya dalam aspek farmakovigilans, otorisasi pemasaran, dan sistem regulatori.

Kepala BPOM menekankan pentingnya membangun jejaring dan kepercayaan antar-lembaga, terlebih dalam menghadapi tantangan kesehatan global yang semakin kompleks. “Melalui pengalaman imersif ini, tidak hanya kemampuan teknis yang diperkuat, tetapi juga pemahaman lintas budaya dan jaringan profesional yang saling percaya, tambahnya.

Sepakat dengan Kepala BPOM, Anthony Lawler menyebutkan bahwa TGA memiliki sejarah panjang dengan BPOM, termasuk saat pandemi COVID-19. “Melalui tantangan pandemi COVID-19, kemampuan untuk bertukar informasi dengan negara-negara tetangga tepercaya di seluruh dunia memungkinkan kami untuk membuat keputusan yang tepat demi melindungi masyarakat kedua negara,” ungkapnya.

Kepala TGA juga menyampaikan program magang ini merupakan bagian integral dari pelaksanaan RSP yang berkelanjutan. “Program ini hanyalah satu langkah dalam kelanjutan hubungan yang produktif dan bermanfaat,” lanjutnya.

Usai pembukaan program magang, Kepala BPOM melanjutkan agenda dengan melakukan pertemuan bilateral bersama Kepala TGA dan jajaran. Fokus diskusi meliputi penguatan kolaborasi dalam program magang, kerja sama regulatori, dan dukungan terhadap konsorsium yang terdiri dari Malaysia (National Pharmaceutical Regulatory Agency/NPRA), Indonesia (BPOM), dan Thailand (Thai Food and Drug Administration/FDA) atau disebut dengan Konsorsium MIT.

Dalam pertemuan tersebut, Taruna Ikrar menyampaikan apresiasi atas keterbukaan TGA terhadap rencana kerja sama lebih lanjut, khususnya dalam regulasi berbasis praktik. “Kami mengusulkan agar program magang otorisasi pemasaran dijalankan secara paralel dengan proyek percontohan kerja sama regulatori. Pendekatan ini akan menciptakan sinergi antara peningkatan kapasitas dan kolaborasi nyata di lapangan,” jelasnya.

Terkait Konsorsium MIT, BPOM melihatnya sebagai platform strategis untuk berbagi kebijakan inovatif, menguji pendekatan baru secara kolaboratif, dan menjajaki harmonisasi regulasi di kawasan Asia Tenggara. TGA menjadi anggota non-partisipan yang memegang peran penting dalam memberikan perspektif global.

Dalam rangkaian kunjungan yang sama, BPOM juga menggelar diskusi bersama TGA serta perwakilan dari Blackmores dan PT Kalbe Farma Tbk. Fokus pembahasan mencakup kerangka regulatori Australia untuk produk suplemen kesehatan.

Diskusi juga mengeksplorasi cara Australia mengelola harmonisasi regulasi dengan otoritas internasional, serta potensi kolaborasi lebih lanjut antara BPOM dan TGA dalam membentuk mekanisme berbagi informasi dan kelompok kerja teknis untuk pengawasan suplemen dan obat tradisional. Menyambut baik usulan dan niat kolaborasi BPOM, Anthony Lawler menyebutkan, “Kolaborasi antara TGA dan BPOM sangat penting untuk melindungi kesehatan publik di kedua negara, terutama di era perdagangan global.”

Melalui seluruh rangkaian kegiatan, BPOM menegaskan kembali komitmennya terhadap transparansi, ketelitian ilmiah, dan kerja sama internasional sebagai pilar utama dalam pengawasan produk kesehatan. “Kami terbuka terhadap inisiatif penyelarasan regulasi, penguatan kapasitas bersama, dan mekanisme kerja kolaboratif lintas negara. Melalui kemitraan strategis seperti ini, kita dapat memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat secara regional dan global,” tutup Taruna Ikrar. (HM-Nelly)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

 

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana