BPOM Dorong Kemandirian Industri Pangan Steril melalui Program Manajemen Risiko

19-12-2025 Kerjasama dan Humas Dilihat 615 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Bogor – BPOM berpartisipasi dalam kegiatan seminar bertajuk “Validasi Kecukupan Panas (F): Jaminan Keamanan Pangan Steril Komersil dan Daya Saing Industri” yang diselenggarakan oleh PT Global Hitrust Corp. Kegiatan yang diselenggarakan di Global Halal Health, Bogor pada Rabu (17/12/2025) ini dihadiri oleh perwakilan dari regulator, industri, laboratorium pangan, serta akademisi untuk menyatukan pemahaman bersama mengenai pentingnya validasi termal pada pangan steril komersial dalam pemenuhan regulasi keamanan pangan.

PT Global Hitrust Corp merupakan entitas baru di bawah naungan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetik Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI), yang bergerak di bidang jasa pengujian, inpeksi, dan sertifikasi. Lembaga ini berkomitmen untuk menjadi mitra strategis industri pangan dalam memastikan proses sterilisasi yang efektif, aman, dan sesuai regulasi.

Dalam seminar yang terselenggara atas inisiasi PT Global Hitrust Corp dengan LPPOM MUI ini, Kepala BPOM Taruna Ikrar berkesempatan menyampaikan sambutan melalui video yang ditayangkan di awal kegiatan. Dalam sambutan tersebut, Taruna Ikrar menegaskan peran BPOM sebagai pelindung kesehatan masyarakat sekaligus fasilitator pertumbuhan industri yang bertanggung jawab dan berdaya saing, termasuk membangun usaha mikro kecil menengah (UMKM) untuk memperkuat perekonomian masyarakat.

“Salah satu misi BPOM adalah mendukung percepatan pengembangan usaha obat dan makanan, khususnya UMKM, guna membangun ekonomi yang produktif, berdaya saing, dan mandiri. Untuk mewujudkannya, BPOM memperkuat UMKM pangan olahan agar mampu menjamin keamanan produk yang dihasilkan,” tegas Taruna Ikar.

Taruna kemudian menjelaskan mengenai produksi pangan steril komersial, yang termasuk dalam kategori pangan olahan risiko tinggi. Dengan kategori tersebut, maka produk pangan steril komersial memerlukan kondisi proses produksi yang terkontrol dan presisi. Untuk mengakomodir keperluan tersebut, BPOM menggalakkan Program Manajemen Risiko (PMR) sebagai langkah preventif melalui penjaminan keamanan dan mutu berbasis risiko yang wajib diterapkan secara mandiri oleh pelaku usaha pangan olahan risiko tinggi, termasuk UMK.

“BPOM memahami penerapan PMR bukanlah hal yang mudah bagi UMK pangan steril komersial. Maka dari itu, BPOM mengembangkan inovasi, yaitu PMR Bertahap, untuk membantu UMK memenuhi ketentuan secara bertahap tanpa relaksasi standar keamanan pangan,” tambah Taruna.

Dalam kesempatan tersebut, hadir pula secara langsung delegasi dari BPOM, yaitu Endah Nur Wulan, yang mewakili Direktur Pengawasan Produksi Pangan Olahan BPOM. Ia menyampaikan lebih detail mengenai implementasi PMR bagi industri pangan steril komersial. Ia menjelaskan bahwa PMR menjadi standar publik dengan pendekatan setara private standard.

“Industri yang menerapkan PMR memperoleh berbagai keuntungan, antara lain percepatan registrasi produk, layanan prioritas perizinan CPPOB [Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik], kemudahan proses audit, serta prioritas layanan ekspor berdasarkan rekam jejak kepatuhan,” ujar Endah. Ia juga memastikan bahwa BPOM menyediakan layanan konsultasi, pendampingan, dan inovasi pelayanan publik guna mendukung industri dalam penerapan sistem jaminan keamanan pangan yang efektif dan berkelanjutan.

Sesi seminar juga diisi paparan materi dari beberapa narasumber. Salah satu pemateri, yaitu Purwiyatno Hariyadi dari Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor, sekaligus dewan Pakar Forum Proses Termal Pangan Indonesia (FPTPI), yang membahas materi tentang “Prinsip Dasar Keamanan Pangan dan Validasi Proses Termal pada Produk Pangan Kemasan Hermetis.” Dilanjutkan paparan dari Manajer Kalibrasi PT Global Hitrust Corp Muhammad Audrian mengenai “Pendekatan Kalibrasi dan Validasi Kecukupan Panas: Dukungan Teknis terhadap Pemenuhan Regulasi BPOM.”

Seminar semakin menarik ketika memasuki sesi diskusi panel, dengan adanya silang pendapat antar pakar dengan audiens yang membahas konteks praktis dari proses validasi kecukupan panas. Selain itu, ada beragam pandangan strategis yang disampaikan peserta dan dirasa mampu diaplikasikan agar sinergi regulator-industri dapat berjalan semakin baik dan efektif dalam menjawab permasalahan.

Seminar ini diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kepatuhan mutu pangan nasional yang berkelanjutan. Kemampuan memahami dan menerapkan validasi proses termal harus menjadi kapabilitas dasar industri pangan steril komersial. Pada akhirnya, BPOM akan terus memperkuat pendekatan pengawasan berbasis risiko, mendorong pembinaan yang proporsional, serta menjaga keseimbangan antara perlindungan konsumen dan penguatan industri pangan nasional. (HM-Julio/HM-Herma)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana