BPOM Dorong Modernisasi Laboratorium dan Digitalisasi Pengawasan melalui Proyek Bersama ADB

28-10-2026 Kerjasama dan Humas Dilihat 644 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Makassar – BPOM terus mendorong transformasi sistem pengawasan obat dan makanan yang berbasis sains, teknologi, dan berkelanjutan. Salah satu langkah strategis yang disiapkan adalah modernisasi laboratorium, digitalisasi pengujian, serta penerapan konsep Laboratorium Hijau (Green Laboratory) melalui rencana proyek bersama Asian Development Bank (ADB). Komitmen strategis ini ditegaskan dalam kegiatan kunjungan kerja sekaligus media visit ke Balai Besar POM (BBPOM) di Makassar yang dihadiri oleh mitra pembangunan internasional Asian Development Bank (ADB) Indonesia Resident Mission Bobur Alimov pada Kamis (22/10/2026).

Dalam kunjungan tersebut, BPOM memaparkan rencana kerja sama strategis dengan skema pembiayaan proyek “Bolstering Product Oversight and Market Surveillance for Food and Drug (BPOM) Project” melalui pinjaman luar negeri yang telah masuk dalam Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri (DRPPLN) atau Green Book 2026. Proyek ini dirancang secara khusus untuk menjawab tantangan pengawasan modern yang semakin kompleks, terutama di tengah berkembangnya perdagangan daring, transaksi lintas batas, serta panjangnya rantai pasok yang berpotensi memicu peredaran produk ilegal, palsu, dan tidak memenuhi persyaratan.

Transformasi sistem pengawasan ini difokuskan pada 3 pilar utama yang digagas BPOM. Pilar pertama mencakup penguatan kapasitas laboratorium hijau di daerah melalui pemenuhan sarana, prasarana, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia untuk mendukung kebutuhan pengujian yang andal. Pilar kedua berupa digitalisasi pengujian dan integrasi data melalui pengembangan Laboratory Information Management System (LIMS) nasional guna memperkuat ketertelusuran data, efisiensi proses kerja, serta ketepatan pengambilan keputusan. Sedangkan pilar ketiga difokuskan pada pengembangan konsep Green Laboratory sebagai wujud komitmen BPOM dalam mendorong efisiensi energi, pemanfaatan sumber daya yang lebih hemat, serta operasional laboratorium yang berkelanjutan.

Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Lynda K. Wardhani yang hadir mewakili Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. "Atas nama Kepala BPOM Taruna Ikrar, saya menyampaikan apresiasi kepada ADB Indonesia Resident Mission atas penyelenggaraan kunjungan ini, serta kepada Balai Besar POM di Makassar yang menjadi tuan rumah. Kegiatan ini merupakan kesempatan untuk memperkuat pemahaman mitra pembangunan, media, dan masyarakat mengenai pelaksanaan pengawasan obat dan makanan, khususnya peran laboratorium dalam mendukung pengawasan berbasis sains," ungkapnya.

Lynda juga menegaskan pentingnya peran insan pers dalam mendukung tugas-tugas pengawasan yang dilakukan oleh BPOM. "Keterlibatan media menjadi sangat krusial karena media merupakan mitra strategis BPOM dalam memperluas jangkauan edukasi serta meningkatkan literasi masyarakat mengenai keamanan produk obat dan makanan," tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, 10 jurnalis dari berbagai media nasional dan asing, baik cetak, elektronik, maupun daring hadir dan menyaksikan secara langsung bagaimana proses pengujian di laboratorium BBPOM di Makassar. Para jurnalis mendapatkan penjelasan langsung mengenai bagaimana BPOM menjalankan fungsi pengawasannya secara komprehensif.

BBPOM di Makassar dipilih sebagai salah satu lokus utama pembangunan laboratorium karena memiliki posisi dan peran yang sangat strategis dalam menopang sistem pengawasan di kawasan timur Indonesia. ADB Indonesia Resident Mission Bobur Alimov menyampaikan bahwa Makassar tidak hanya menghubungkan Sulawesi, tetapi juga menghubungkan wilayah Timur Indonesia.

“Ini adalah pembangunan regional yang sangat penting, dan terutamanya Indonesia Timur memiliki potensi yang sangat baik, tetapi juga menghadapi tantangan-tantangan infrastruktur, pelayanan yang esensial, dan kemungkinan ekonomi. Makassar merupakan jembatan bagi Timur Indonesia dan merupakan salah satu pusat metropolitan terbesar di Indonesia, dan saya berpikir ini sangat simbolis untuk memulai dengan Makassar,” ungkap Bobur Alimov.

Lebih lanjut, Kepala BBPOM di Makassar Yosef Dwi Irwan Prakasa menjelaskan kepada para jurnalis bahwa BPOM memegang peran sentral sebagai garda terdepan pengatur dan pengawas ekosistem kesehatan nasional. BPOM memastikan seluruh produk obat, obat bahan alam, suplemen kesehatan, kosmetik, dan pangan olahan yang beredar di Indonesia telah memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu.

"Pengawasan BPOM bersifat full spectrum yang merupakan satu kesatuan siklus mata rantai pengawasan yang tidak terpisahkan (product life cycle), mulai dari pengawasan sebelum produk beredar (pre-market), pengawasan setelah produk beredar (post-market), hingga penindakan hukum (pro-justitia)," tegas Yosef.

Ia menambahkan bahwa seluruh rangkaian pengawasan komprehensif full spectrum tersebut merupakan bukti nyata komitmen BPOM dalam menjaga kesehatan publik. "Langkah terpadu ini menjadi benteng pertahanan utama yang menjamin bahwa masyarakat Indonesia senantiasa terlindungi dari risiko produk obat dan makanan yang berbahaya dan berisiko bagi kesehatan," ujar Yosef lagi.

Melalui penguatan kelembagaan dan modernisasi sistem pengawasan ini, BPOM berharap kemitraan strategis dapat terus dikembangkan secara konstruktif dan berkelanjutan. Output dari kemitraan ini diharapkan dapat dioptimalisasi untuk meningkatkan perlindungan bagi masyarakat terhadap risiko kesehatan akibat produk obat dan makanan yang tidak sesuai dengan ketentuan. (HM-Hendriq)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana