BPOM Dukung Pengembangan Obat Bahan Alam Berbasis Bukti Ilmiah

20-10-2026 Kerjasama dan Humas Dilihat 126 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Jakarta – BPOM mendukung pengembangan obat bahan alam (OBA) Indonesia melalui penguatan riset, kolaborasi internasional, serta penerapan standar keamanan, khasiat, dan mutu. Dukungan tersebut disampaikan Kepala BPOM Taruna Ikrar dalam sambutan secara daring pada The 1st Forum on the Integrated Development of Indonesian Traditional Medicine and Traditional Chinese Medicine yang diselenggarakan di Jakarta, Senin (19/10/2026).

Forum yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Pengobat Tradisional Interkontinental Indonesia (PPTII) bersama sejumlah mitra dari Tiongkok ini menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan pengalaman di bidang pengobatan tradisional, penelitian, standardisasi, serta pengembangan teknologi kesehatan. Kegiatan tersebut juga menandai peluncuran di Indonesia dan penyerahan plakat China-Indonesia Joint Laboratory for Digital and Intelligent Traditional Chinese Medicine in the Prevention and Treatment of Degenerative Bone and Joint Diseases.

Dalam sambutannya, Taruna Ikrar menyoroti besarnya potensi keanekaragaman hayati Indonesia untuk dikembangkan menjadi produk obat dan kesehatan berbasis bahan alam. Potensi tersebut perlu didukung penguatan penelitian dan pembuktian ilmiah agar dapat menghasilkan produk yang aman, berkhasiat, bermutu, serta memiliki daya saing.

“Indonesia memiliki kekayaan sumber daya hayati yang sangat besar dan berpotensi dikembangkan menjadi produk obat dan kesehatan berbasis bahan alam. Namun, potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui penelitian yang kuat, pembuktian ilmiah, serta pemenuhan persyaratan keamanan, khasiat, dan mutu,” ujar Taruna Ikrar.

Ia menjelaskan, pengembangan OBA di Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang luas. Berdasarkan data yang disampaikan dalam sambutannya, lebih dari 19.000 produk jamu telah terdaftar di BPOM, sementara jumlah produk obat herbal terstandar (OHT) mencapai 72 produk, dan fitofarmaka sebanyak 25 produk. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya mendorong peningkatan kualitas penelitian dan pengembangan agar semakin banyak produk OBA yang dapat ditingkatkan statusnya berdasarkan bukti ilmiah.

BPOM menjalankan peran pengawasan terhadap aspek keamanan, khasiat, dan mutu obat bahan alam sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam mendukung inovasi, BPOM juga mendorong pendekatan regulatori terintegrasi, mulai dari penelitian, pengujian praklinik dan klinik, evaluasi produk, hingga hilirisasi dan komersialisasi. Pendampingan kepada peneliti dan pelaku usaha menjadi bagian dari upaya untuk menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan industri, serta pemanfaatan produk dalam pelayanan kesehatan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Prinsip kami adalah regulasi jangan menghambat inovasi, melainkan menjadi fondasi untuk memastikan setiap inovasi memberikan manfaat nyata, melindungi kesehatan masyarakat, dan membangun kepercayaan publik,” tegas Taruna Ikrar.

Lebih lanjut, BPOM mendorong sinergi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri, pemerintah, dan mitra internasional untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi obat bahan alam. Salah satu inisiatif yang dikembangkan adalah BRIDGE atau Bersinergi dalam Riset Inovatif berDaya saing Global dan Ekspansi pasar. Inovasi ini diarahkan untuk mendorong hilirisasi dan komersialisasi hasil penelitian obat bahan alam sehingga inovasi berbasis kekayaan hayati Indonesia dapat berkembang menjadi produk yang memenuhi persyaratan dan berdaya saing.

Kolaborasi Indonesia–Tiongkok melalui forum ini diharapkan dapat memperluas pertukaran pengetahuan, membuka peluang kerja sama penelitian, serta memperkuat koordinasi antarlembaga dalam pengembangan pengobatan tradisional. Pemanfaatan teknologi digital dan cerdas juga menjadi salah satu bidang yang dapat dieksplorasi untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi kesehatan, dengan tetap memperhatikan bukti ilmiah, standar yang relevan, serta kewenangan dan regulasi masing-masing negara.

Taruna Ikrar berharap forum ini tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi dapat menghasilkan rekomendasi konkret dan kerja sama riset berkelanjutan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. “Melalui kolaborasi yang kuat antara peneliti, akademisi, industri, pemerintah, dan mitra internasional, kita berharap potensi obat bahan alam dapat dikembangkan secara bertanggung jawab menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi kesehatan masyarakat,” tutup Taruna Ikrar.

Melalui dukungan terhadap riset, penguatan regulasi, dan kolaborasi lintas sektor, BPOM berkomitmen mendorong pengembangan obat bahan alam Indonesia yang berbasis bukti ilmiah, memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing OBA Indonesia di tingkat nasional maupun global. (HM-Benny)

 

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana