Jakarta — BPOM terus berupaya meningkatkan kapasitas laboratorium sebagai fondasi utama pengawasan obat dan makanan yang berbasis sains, inovasi, dan kolaborasi global. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Seminar Internasional bertajuk The Laboratory Future: Sustainability in Innovation and Operations, Perspective from 5 Continents yang diselenggarakan secara hybrid dari Auditorium Gedung Merah Putih Kantor BPOM dan daring melalui platform Zoom Meeting.
Seminar yang berlangsung selama 2 hari (6–7 Juli 2026) ini menjadi forum strategis untuk memperkuat kolaborasi internasional dan membahas masa depan laboratorium dalam mendukung perlindungan kesehatan masyarakat. Seminar ini membahas berbagai perkembangan terkini di bidang laboratorium, antara lain penerapan high-performance thin-layer chromatography (HPTLC), transformasi digital melalui Laboratory Information Management System (LIMS), konsep green laboratory, metode mikrobiologi cepat, sistem otomasi dan robotik laboratorium, serta deteksi kontaminan baru seperti nanoplastik dalam pangan dan produk farmasi. Peserta kegiatan terdiri atas petugas laboratorium internal dari Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN) maupun unit pelaksana teknis (UPT) BPOM, kementerian/lembaga, peneliti, serta akademisi dari perguruan tinggi nasional.
Dalam sambutannya, Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa kapasitas laboratorium yang mumpuni menjadi fondasi penting dalam menjamin keamanan, khasiat, dan mutu obat serta makanan yang beredar di masyarakat. Menurutnya, laboratorium memiliki peran strategis dalam menghasilkan data ilmiah yang kredibel sebagai dasar pengambilan keputusan regulator.
"Kepercayaan terhadap hasil pengujian laboratorium tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang maju, tetapi juga oleh kompetensi sumber daya manusia, metode yang tervalidasi, sistem manajemen mutu yang andal, serta kolaborasi internasional yang kuat," ujar Taruna Ikrar.
Ia menegaskan bahwa laboratorium BPOM terus mempertajam kemampuan analisis melalui penerapan teknologi mutakhir, digitalisasi, penguatan sistem manajemen mutu, serta adopsi praktik terbaik di tingkat internasional. Upaya tersebut merupakan bagian dari komitmen BPOM untuk menghadirkan perlindungan optimal terhadap kesehatan masyarakat sekaligus mendukung pembangunan ekonomi nasional.
Kepala BPOM juga menyoroti semakin kompleksnya tantangan pengawasan obat dan makanan di era global. Munculnya kontaminan baru, rantai pasok pangan dan farmasi yang bersifat lintas negara, serta pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan menuntut kolaborasi yang semakin erat antarlembaga maupun antarnegara.
"Karena itu, kemitraan antara regulator, institusi akademik, lembaga penelitian, industri, dan jejaring laboratorium internasional menjadi semakin penting," tegas Taruna Ikrar.
Sejalan dengan hal tersebut, Secretary General HPTLC Association International Tien Do turut menekankan bahwa kolaborasi merupakan kunci dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan penguatan kapasitas laboratorium di tingkat global. Menurutnya, kerja sama antarnegara dan antarorganisasi akan memperluas pemanfaatan HPTLC sebagai salah satu metode analisis untuk mendukung keamanan, khasiat, dan mutu produk yang beredar di seluruh dunia.
"HPTLC Association International dibangun atas semangat kolaborasi. Melalui forum seperti seminar ini, kami ingin memperluas pemanfaatan HPTLC di berbagai belahan dunia sehingga dapat berkontribusi dalam menjamin keamanan, khasiat, dan mutu produk yang digunakan masyarakat di seluruh dunia," ujar Tien Do.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, BPOM meluncurkan Panduan Teknis Interaktif Berlaboratorium yang Baik seri pertama dan Buku Pedoman Penjaminan Kualitas Hasil Pengujian Laboratorium BPOM. Panduan interaktif tersebut dikembangkan dalam bentuk video pembelajaran yang memuat materi dasar berlaboratorium, mulai dari cara menimbang yang baik, penanganan sampel, dasar-dasar volumetri, dasar-dasar sterilisasi, hingga penanganan media, pereaksi, dan pengenalan alat laboratorium mikrobiologi. Sementara itu, buku pedoman disusun sebagai acuan bagi laboratorium BPOM maupun UPT dalam melaksanakan pengujian, verifikasi, pelaporan, dan evaluasi hasil pengujian secara konsisten dan terstandar.
Acara dilanjutkan dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) mengenai Dukungan Pengembangan Metode Analisis antara PPPOMN dengan Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI). Penandatanganan dilakukan oleh Kepala PPPOMN Mimin Jiwo Winanti dan Ketua Umum GPFI F. Tirto Koesnadi. Kerja sama tersebut bertujuan meningkatkan ketersediaan metode analisis guna memperkuat efektivitas pengawasan obat dan makanan. Kolaborasi tersebut mencerminkan komitmen bersama dalam mendorong inovasi, pengembangan metode analisis, serta peningkatan kapasitas laboratorium nasional.
BPOM juga memberikan penghargaan kepada 5 UPT yang berkontribusi aktif dalam Program UMKM Paham Uji, yaitu BBPOM di Samarinda, BBPOM di Jakarta, BPOM di Palopo, BPOM di Payakumbuh, dan BPOM di Bogor. Penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi UPT dalam mendampingi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya pengujian keamanan dan mutu produk. Sebelumnya, program ini berhasil meraih Rekor MURI sebagai penyelenggara edukasi peningkatan pemahaman dan kesadaran terhadap pengujian keamanan dan mutu kepada UMKM terbanyak.
Selama 2 hari penyelenggaraan, seminar internasional ini menghadirkan berbagai pakar laboratorium yang membagikan pengalaman dan praktik terbaik dalam pengembangan laboratorium masa depan. Pada hari pertama, materi yang disampaikan meliputi topik tentang pemanfaatan HPTLC yang disampaikan oleh Secretary General HPTLC Association International Tien Do, transformasi digital dalam otomatisasi preparasi sampel oleh Chris Cheah dari Thermo Fisher Scientific, konsep Green Laboratory oleh Aaron Desmond dari Impact Laboratories, serta perkembangan terkini pengujian kontaminan pada pangan dan obat, termasuk nanoplastik oleh Jackie dari Waters ASEAN.
Seminar hari kedua membahas topik mengenai pengujian emerging contaminants oleh Brad Clarke, Associate Professor dari The University of Melbourne, kemajuan deteksi mikro dan nanoplastik menggunakan teknologi pyrolysis-gas chromatography (GC)/mass spectrometry (MS) oleh Elvis Okoffo dari The University of Queensland bersama Sathrugnan Karthikeyan dari Frontier Laboratories Singapore, metode cepat untuk pengujian mikrobiologi oleh Sudeep Sabde dari USP. Materi lainnya disampaikan oleh Chamnong Ingsathit dari LabWare Asia Pacific tentang penerapan Laboratory Information Management System (LIMS). Kemudian, Sheick Oumar Coulibaly dari WHO AFRO membahas tentang penjaminan mutu dan standar global, serta Nikolas Vamvoukas dari Waters Europe yang membahas tentang pemanfaatan sistem robotik untuk laboratorium pengujian pangan dan obat.
Melalui seminar ini, BPOM berharap kolaborasi internasional tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi berlanjut dalam bentuk kerja sama nyata yang mampu memperkuat kapasitas laboratorium Indonesia menghadapi tantangan masa depan. "Partisipasi para ahli dari lima benua mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi ilmiah dan meningkatkan keunggulan laboratorium dalam mendukung kesehatan masyarakat, keamanan pangan, dan mutu produk farmasi. BPOM akan terus membangun laboratorium yang adaptif terhadap tantangan masa depan serta mampu memenuhi standar internasional," tutup Taruna Ikrar. (HM-Devi)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
