BPOM-Guangxi Drug Administration, Jalin Kemitraan Strategis Sektor Farmasi dan Jaminan Mutu Produk Kesehatan

17-12-2025 Kerjasama dan Humas Dilihat 487 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Jakarta — Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menerima kunjungan resmi delegasi Guangxi Drug Administration dari Tiongkok di Gedung Garuda Kantor BPOM, Selasa (17/12/2025). Pertemuan ini bertujuan memperkuat kemitraan strategis Indonesia–Tiongkok di bidang pengawasan obat dan makanan, sebagai tindak lanjut atas arahan Presiden Republik Indonesia dan Presiden Tiongkok, untuk memperdalam kerja sama teknis dan industrial, khususnya pada sektor farmasi dan jaminan mutu produk kesehatan.

Taruna Ikrar menegaskan pentingnya komunikasi regulatori yang berkelanjutan guna mendukung perlindungan kesehatan masyarakat serta penguatan industri farmasi yang berdaya saing. Hal ini juga telah disampaikan pada pertemuan dengan Commissioner National Medical Products Administration (NMPA) di Beijing pada November 2025.

“BPOM bersedia untuk memfasilitasi proses registrasi produk sesuai standar nasional, mendukung peningkatan ekspor bahan baku obat tradisional Indonesia, berpartisipasi dalam program pengembangan kapasitas sumber daya manusia, serta menyusun work plan bersama dengan Guangxi Drug Administration,” sambut Taruna Ikrar.

Delegasi Tiongkok dipimpin oleh Director of Guangxi Medical Products Administration (GXMPA) Li Yongqiang, Director of Division of Review and Registration GXMPA Qiu Li, Director of Division of Medical Device Regulation GXMPA Huang Zhe, Deputy Director of Guangxi Medical Device Testing Center GXMPA Huang Zhoongliang, serta Guangxi Precision Medical Instruments Ling Xiyao. Turut hadir dalam pertemuan tersebut Komisaris Intrada Subur Abadi (ISA) Toni Halim Berneko dan Chief Business Development Officer PT ISA Soelaiman Effendi.

Director of GXMPA Li Yongqiang memaparkan Guangxi sebagai wilayah dengan posisi strategis sebagai gateway Tiongkok-ASEAN. Dengan posisi tersebut, Guangxi relevan untuk menjadi mitra kerja sama dalam hal regulatori dan fasilitator kolaborasi regional. 

“Guangxi secara konsisten diposisikan oleh Pemerintah Pusat Tiongkok sebagai leading region untuk implementasi kerja sama Tiongkok–ASEAN. Kolaborasi antara GXMPA dan BPOM sejalan dengan peran strategis Guangxi tersebut dan mendukung penguatan kerja sama Tiongkok–ASEAN yang berbasis kepercayaan regulatori,” ujar Yongqiang.

Li Yongqiang menambahkan bahwa perkembangan sistem regulasi obat dan industri farmasi di Provinsi Guangxi, termasuk penguatan penerapan good manufacturing practices (GMP), telah diselaraskan dengan standar internasional serta langkah Tiongkok dalam meningkatkan kesiapan menuju Pharmaceutical Inspection Co-operation Scheme (PIC/S). Upaya ini disampaikan sebagai bagian dari komitmen peningkatan mutu dan daya saing industri farmasi Tiongkok di pasar global, termasuk Indonesia.

GXMPA kemudian mengajukan 5 usulan kerja sama kepada BPOM, antara lain fasilitasi akses produk farmasi termasuk kosmetik Guangxi ke Indonesia sesuai standar BPOM; peningkatan ekspor bahan baku obat tradisional Indonesia ke Tiongkok; partisipasi Indonesia dalam program ASEAN Outstanding Young Scientist/Young Scientist Exchange; keikutsertaan BPOM dalam China–ASEAN Pharmaceutical Cooperation and Development Summit Forum 2026; serta penyusunan work plan sebagai tindak lanjut kerja sama regulasi obat dan kosmetik Indonesia–Tiongkok. 

Taruna Ikrar menanggapi usulan tersebut dengan positif dan terbuka. Menurutnya, arah pengembangan kerja sama Indonesia–Tiongkok ke depan mencakup beberapa aspek, antara lain melalui penguatan penelitian bersama, penjajakan kerja sama di bidang uji klinis, pertukaran ahli, serta pengembangan traditional chinese medicine (TCM) dan jamu Indonesia berbasis bukti ilmiah. 

“Sejatinya, BPOM mendukung kerja sama yang dapat meningkatkan ketersediaan obat yang aman dan berkualitas bagi masyarakat, dengan tetap menjunjung tinggi prinsip perlindungan kesehatan publik dan kepatuhan terhadap regulasi. BPOM siap untuk membuka dialog teknis terkait penguatan GMP dan berbagi pengalaman dalam proses menuju PIC/S sebagai bagian dari peningkatan kapasitas regulatori kedua negara,” pungkas Taruna Ikrar

BPOM dan GXMPA memutuskan sepakat untuk menjalin kerja sama teknis termasuk di bidang penelitian, uji klinis, pengembangan produk herbal terstandar, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan perkuatan dialog regulatori. Audiensi hari ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi penguatan kerja sama yang berkelanjutan dan saling menghormati sistem regulasi masing-masing negara. Selain itu, pertemuan ini menjadi langkah penting untuk memperdalam hubungan kerja sama antara BPOM RI dan otoritas regulatori Tiongkok, sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam dialog regulasi obat di tingkat kawasan ASEAN. (KS-Desilia/HM-Rizky)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana