Jakarta – BPOM melalui Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN) terus berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas laboratorium pengawasan obat di tingkat regional. Kontribusi tersebut diwujudkan melalui keterlibatan dalam program capacity building, pertukaran pengetahuan, serta penyelenggaraan uji profisiensi yang melibatkan regulator dan laboratorium pengawasan obat dari sejumlah negara ASEAN.
BPOM dipercaya untuk menjadi trainer dan untuk memberikan pendampingan dan pelatihan praktik secara langsung kepada peserta kegiatan capacity building bagi National Center of Food and Drug Analysis (NCFDA), Vientiane, Lao People’s Democratic Republic (PDR) yang dilaksanakan pada 10—14 Agustus 2026. BPOM membawakan 2 materi pelatihan yang mencakup teknik skrining cemaran etilen glikol/dietilen glikol (EG/DEG) menggunakan thin layer chromatography (TLC) serta pengujian konfirmasi menggunakan gas chromatography (GC)-flame ionization detector (FID).
Materi dibawakan oleh Hasna Nur Syahidah serta Nurul Hidayati, yang merupakan Pengawas Farmasi dan Makanan (PFM) Ahli Muda dari PPPOMN. Pelatihan tersebut mendapatkan apresiasi dan feedback positif dari Lao PDR. Pendekatan yang diberikan dianggap dapat memberikan pengalaman praktis kepada peserta untuk melakukan pengujian secara lebih komprehensif.
Pembahasan mengenai senyawa EG/DEG disebabkan dampak serius yang dapat ditimbulkan oleh cemaran kedua senyawa tersebut bagi kesehatan sehingga masih menjadi perhatian regulator di berbagai negara. Karena itu, kemampuan deteksi dan pengujian yang andal menjadi bagian penting dalam memastikan keamanan dan mutu obat.
Sebelumnya, pada 3—7 November 2025, kontribusi serupa juga dilakukan melalui capacity building yang diselenggarakan oleh Food and Drug Administration (FDA) Filipina. Pada kesempatan tersebut, dua orang perwakilan BPOM juga dihadirkan sebagai trainer, yaitu Tia Agustiany serta Ugih Sri Rahayu yang merupakan PFM Ahli Muda dari PPPOMN. Keduanya memberikan pelatihan mengenai deteksi dan pengujian EG/DEG pada sediaan obat cair menggunakan GC dan high-performance thin-layer chromatography (HPTLC). Selain itu, PFM Ahli Madya Sutanti Siti Namtini serta Kepala Balai Pengujian Produk Biologi Dwi Damayanti juga menyampaikan materi secara daring mengenai kedua senyawa serta metode validasi dan verifikasi yang berlaku secara internasional.
Selanjutnya, PPPOMN juga menjadi tempat berbagi pengalaman mengenai penerapan pendekatan berbasis risiko dalam pengawasan obat. Pada Juni 2025, National Pharmaceutical Regulatory Agency (NPRA) Malaysia mengikuti Training on Risk-Based Testing for Registered Drug Products yang digelar di PPPOMN. Kegiatan tersebut membahas penerapan risk-based approach dalam menentukan prioritas pengujian, pengelolaan risiko mutu laboratorium, serta penilaian risiko cemaran. Peserta juga memperoleh gambaran penerapan sistem mutu laboratorium melalui kunjungan teknis ke Balai Besar POM di Serang.
Kerja sama teknis dengan NPRA Malaysia berlanjut pada Mei 2026 melalui Attachment Training Programme on Regulatory Evaluation of Probiotics Products. Dalam kegiatan tersebut, PPPOMN berbagi pengalaman terkait pengujian suplemen kesehatan mengandung probiotik sekaligus memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat secara langsung fasilitas Laboratorium Kimia Obat Bahan Alam dan Suplemen Kesehatan serta Laboratorium Mikrobiologi dan Biologi Molekuler PPPOMN.
Tidak hanya sebagai mitra pengembangan kapasitas, PPPOMN juga dipercaya sebagai penyelenggara uji profisiensi bagi laboratorium di tingkat regional. Sebagai penyelenggara yang telah terakreditasi International Organization for Standardization (ISO)/International Electrotechnical Commission (IEC) 17043, PPPOMN menyelenggarakan uji profisiensi sebagai sarana penjaminan mutu eksternal untuk menilai kinerja laboratorium secara objektif melalui perbandingan hasil pengujian antarlaboratorium.
Pada 2026, skema uji profisiensi PPPOMN mengenai penetapan kadar cemaran EG/DEG dalam sediaan cair oral diikuti oleh laboratorium dari negara lain di ASEAN. Partisipasi tersebut menunjukkan bahwa kompetensi PPPOMN dalam penyelenggaraan uji profisiensi telah dimanfaatkan untuk mendukung evaluasi dan peningkatan kinerja laboratorium di kawasan.
Kepala PPPOMN Mimin Jiwo Winanti menyampaikan bahwa keterlibatan dalam berbagai aktivitas internasional tersebut memberikan manfaat timbal balik, bagi BPOM dan mitra. “Bagi regulator dan laboratorium peserta, kegiatan tersebut memberikan akses terhadap pengalaman, metode, dan praktik pengujian yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan pengawasan. Sementara bagi BPOM, kolaborasi tersebut menjadi ruang untuk berbagi pengalaman sekaligus memperluas jejaring teknis dengan regulator di kawasan,” tutur Mimin.
Rangkaian kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa kompetensi laboratorium BPOM tidak hanya mendukung pelaksanaan pengawasan obat dan makanan di dalam negeri, tetapi juga dapat dimanfaatkan oleh regulator dan laboratorium negara lain. Melalui berbagi keahlian, pertukaran pengetahuan, dan uji profisiensi, PPPOMN turut mendorong tersedianya kapasitas laboratorium yang lebih andal dan hasil pengujian yang dapat diperbandingkan.
Ke depan, PPPOMN akan terus membuka peluang kerja sama teknis melalui program capacity building, pertukaran pengetahuan, dan penyelenggaraan uji profisiensi nasional maupun internasional. Langkah tersebut diharapkan semakin mendukung harmonisasi kapasitas laboratorium pengawasan obat dan makanan serta berkontribusi pada perlindungan masyarakat di tingkat regional. (P3OMN-Tia, Henny, Hasna/HM-Herma)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
