BPOM Perkuat Ekosistem Kesehatan melalui Kolaborasi Industri Farmasi dan Perguruan Tinggi

06-05-2026 Kerjasama dan Humas Dilihat 623 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Jakarta - Kepala BPOM Taruna Ikrar menghadiri peluncuran program P&G Health Indonesia University Partnership yang diselenggarakan oleh Procter & Gamble (P&G) Health Indonesia dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional pada Senin (4/5/2026) di Jakarta. Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat sinergi antara industri dan akademisi guna meningkatkan kualitas pendidikan tenaga kesehatan di Indonesia.

Program ini melibatkan kolaborasi antara Fakultas Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. Inisiatif tersebut bertujuan memberdayakan generasi calon apoteker, alumni, serta tenaga kesehatan melalui pembelajaran yang lebih aplikatif, relevan, dan selaras dengan kebutuhan dunia nyata, khususnya dalam penanganan anemia, rinitis akut, dan neuropati perifer.

Kegiatan ini dihadiri oleh Brand Director Health Care P&G Indonesia Caroline Herlina serta Ketua Umum Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Noffendri yang mewakili asosiasi profesi apoteker. Selain itu, hadir pula Dekan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran Auliya A. Suwantika, serta Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Felicia Kurniawan.

Dalam sambutannya, Taruna Ikrar menyampaikan apresiasi atas inisiatif kolaborasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam penguatan ekosistem kesehatan nasional. “Kolaborasi ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat ekosistem kesehatan di Indonesia, sekaligus menjadi momentum penting dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional,” ujar Taruna Ikrar.

Ia menegaskan bahwa kemitraan antara industri, pemerintah, dan perguruan tinggi merupakan bentuk dukungan nyata terhadap transformasi dan penguatan ketahanan kesehatan nasional. Lebih lanjut, Taruna Ikrar menilai bahwa program P&G Health Indonesia University Partnership sejalan dengan model kolaborasi Academia-Business-Government (ABG) yang dikembangkan BPOM. Hingga saat ini, BPOM telah menjalin kerja sama dengan sekitar 180 perguruan tinggi di Indonesia yang diimplementasikan dalam kerangka Tridharma Perguruan Tinggi, meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat.

“Melalui sinergi ABG, BPOM berperan sebagai regulator yang menjembatani kebutuhan industri dan potensi riset perguruan tinggi. Dengan demikian, hasil penelitian dapat menjawab kebutuhan industri serta memenuhi standar dan regulasi untuk kemudian dihilirisasi, dikomersialisasikan, dan dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat,” tambah Taruna Ikrar.

Dalam implementasinya, program ini mengusung 3 pilar utama, yaitu edukasi, riset, dan pengabdian kepada masyarakat. Pendekatan ini dinilai mampu menciptakan ekosistem pembelajaran yang tidak hanya berbasis teori, tetapi juga mendorong kontribusi nyata bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Kolaborasi P&G Health Indonesia bersama Fakultas Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya menghadirkan metode pembelajaran yang komprehensif melalui modul e-learning, video edukasi, serta materi terstruktur dalam bentuk e-book dan buku cetak. Program ini ditargetkan dapat menjangkau lebih dari 500 peserta hingga Juni 2026.

Sementara itu, kolaborasi dengan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran difokuskan pada penguatan kompetensi tenaga kesehatan melalui program e-learning bertema Patient Counseling & Rational Use of Oxymetazoline. Program ini secara khusus ditujukan untuk meningkatkan pemahaman dalam penanganan rinitis akut secara rasional dan berbasis bukti.

Ketua Umum Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Noffendri memberikan apresiasi atas kolaborasi yang dinilai dapat menghadirkan pendekatan baru dalam penguatan pendidikan profesi apoteker. “Bagi kami, ini merupakan bentuk kerja sama yang luar biasa. Model kolaborasi antara industri dan perguruan tinggi seperti ini belum banyak dilakukan sebelumnya. Yang menarik, kerja sama ini berfokus pada penyusunan bahan ajar bagi mahasiswa program profesi apoteker sehingga diharapkan terdapat keselarasan antara proses pembelajaran dengan praktik di lapangan,” ujar Noffendri.

Ia menambahkan bahwa saat ini, terdapat sekitar 115 program studi profesi apoteker di Indonesia dengan jumlah lulusan mencapai 14.000 orang. Oleh karena itu, sinergi yang terbangun melalui program ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas lulusan agar lebih siap menghadapi kebutuhan pelayanan kefarmasian di masyarakat.

Kolaborasi ABG diharapkan dapat terus diperkuat dan diperluas secara berkelanjutan guna mencetak tenaga kesehatan yang kompeten, adaptif, dan berdaya saing. Inisiatif P&G Health Indonesia University Partnership pun diharapkan menjadi model kemitraan yang dapat direplikasi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Tentunya dilaksanakan dengan dukungan dan pendampingan BPOM untuk memastikan setiap inovasi dan program berjalan sesuai standar keamanan, kemanfaatan, dan mutu, serta memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesehatan masyarakat. (HM - Devi)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana