Surakarta – Taruna Ikrar beserta rombongan melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Moewardi pada Kamis (4/12/2025). Lawatan ini merupakan upaya penguatan sinergi antara BPOM dengan rumah sakit, sekaligus menjalankan tugas BPOM sesuai amanat konstitusi untuk melakukan pengawasan produk sediaan farmasi dari hulu ke hilir. Lawatan Kepala BPOM dan rombongan disambut langsung oleh Direktur RSUD Dr. Moewardi Zulfachmi Wahab beserta jajaran.
Dalam lawatan ini, Kepala BPOM meninjau Unit Farmasi dan Distribusi Pembekalan Farmasi (UDPF). “Alhamdulillah, kami dapat melakukan kunjungan ke RSUD Dr. Moewardi. Kunjungan ini merupakan bagian dari pelaksanaan tugas BPOM sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2023 tentang Kesehatan serta Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2017 tentang Badan POM. Dengan amanat ini, BPOM akan terus melakukan pengawasan produk sediaan farmasi dan pangan olahan dari hulu ke hilir serta melaporkannya kepada Presiden,” ujar Taruna Ikrar dalam sambutannya.
Taruna juga mengapresiasi RSUD Dr. Moewardi sebagai rumah sakit tipe A yang telah terakreditasi dengan predikat Paripurna pada 2022. Ia kemudian mengingatkan mengenai aspek penting dari rumah sakit yang perlu diperhatikan kualitasnya. Dua aspek tersebut adalah yang berkaitan dengan pelayanan kepada pasien, meliputi aspek pelayanan dokter serta ketersediaan fasilitas dan obat.
“Penting bagi seluruh rumah sakit, termasuk RSUD Dr. Moewardi, untuk mampu menjamin instalasi farmasi rumah sakit (IFRS) agar dapat berperan strategis untuk menjamin ketersediaan obat yang aman, bermutu, dan berkhasiat,” tutur Taruna.
Taruna menyampaikan komitmennya untuk terus mendukung berbagai upaya pengembangan sistem manajemen rumah sakit secara profesional dan mandiri, khususnya dalam peningkatan kualitas manajemen dan pelayanan kefarmasian kepada pasien. “Kunjungan kami hari ini merupakan bagian dari upaya kami untuk secara aktif memonitor langsung aspek pemenuhan standar layanan farmasi di rumah sakit sebagai sarana distribusi produk farmasi. Pengawasan yang dilakukan BPOM ini bertujuan mencegah penyimpangan peredaran dan ketidaksesuaian pengelolaan obat di fasilitas pelayanan kefarmasian atau kesehatan,” urai Taruna lebih lanjut.
Pada kesempatan ini, Taruna juga mendorong RSUD Dr. Moewadi untuk tidak hanya menjadi rumah sakit paripurna. Namun lebih jauh, dapat menjadi rumah sakit berstandar global dengan dukungan teknologi terbaru, modern, dan canggih, salah satunya dengan mendorong pelayanan terapi berbasis sel punca, di Indonesia.
Menurut Kepala BPOM, RSUD Dr. Moewardi dapat menjadi center of excellence dalam hal pelayanan unggulan, seperti pengembangan terapi advanced ataupun menjadi sentra uji klinik. Hal ini didukung dengan pernyataan dari Zulfachmi Wahab, bahwa RSUD Dr. Moewardi juga sudah berproses ke arah pengembangan terapi stem cell.
“Selain [pengelolaan] tata laksana pelayanan kefarmasian, pengembangan pelayanan stem cell juga sudah diinisiasi di rumah sakit kami,” ujar Zulfachmi. Menanggapi pernyataan tersebut, Kepala BPOM juga menyatakan kesiapannya untuk membantu dan mendampingi dalam proses memperoleh perizinan dan sertifikasi sesuai peraturan perundang-undangan.
Bersamaan dalam rangkaian kunjungan ini, Kepala BPOM bersama pihak manajemen RSUD Dr. Moewardi melakukan penanaman pohon, yang juga menjadi ciri khas Kepala BPOM ketika melakukan kunjungan kerja. Pohon Tabebuya (Handroanthus chrysotrichus) atau pohon “Terompet Emas”, yang mirip sakura dan berasal dari Brazil, menjadi pohon yang ditanam dalam kegiatan penanaman ini. Secara kesehatan, ekstrak pohon Tabebuya diketahui berpotensi membantu pencegahan penyakit malaria.
Mengakhiri kunjungannya, Taruna Ikrar berharap dapat menjalin kerja sama yang lebih erat dengan RSUD Dr. Moewardi. Hal ini menjadi penting mengingat keberhasilan pengawasan tidak mungkin dicapai tanpa kolaborasi erat BPOM dengan rumah sakit, baik sebagai mitra utama pelaksanaan uji klinik, farmakovigilans, pelaporan efek samping obat, maupun pengendalian resistansi antimikroba.
“Mari wujudkan pelayanan kesehatan prima dan perlindungan masyarakat optimal melalui pengawasan obat dan makanan yang terpercaya. Semoga ikhtiar ini dapat membangun sistem kesehatan Indonesia lebih tangguh dan berkeadilan,” tutup Taruna. (HM-Julio)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
