BPOM Perkuat Pengawasan Produk Biosimilar Lewat Penguatan Kapasitas Evaluator Mutu

16-10-2026 Kerjasama dan Humas Dilihat 116 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Jatinangor, Bandung – BPOM menegaskan komitmennya dalam memperkuat sistem pengawasan produk biologi tanah air melalui penguatan kapasitas bagi para evaluator. Langkah strategis ini dilakukan untuk merespons pertumbuhan pesat potensi pasar produk biosimilar di Indonesia yang membutuhkan skema pengawasan kian ketat dan adaptif. Upaya peningkatan kompetensi tersebut diwujudkan melalui pelatihan bertajuk Analytical Method Validation for Biosimilar Characterization and Release yang diselenggarakan di Jatinangor pada 12 hingga 16 Oktober 2026.  

Saat membuka kegiatan secara resmi pada Senin (12/10/2026), Kepala BPOM melalui video sambutannya menyampaikan bahwa pesatnya perkembangan industri obat biologi harus diimbangi dengan kesiapan regulatori yang berbasis keilmuan dan teknologi masa kini. Pengawasan yang cepat dan tepat menjadi kunci utama agar manfaat inovasi medis dapat dirasakan secara aman oleh masyarakat.

“BPOM merespons potensi pertumbuhan ini dengan menerapkan sistem pengawasan yang sigap, adaptif, berbasis ilmu pengetahuan, dan mengikuti perkembangan teknologi untuk memastikan setiap produk biosimilar memenuhi standar mutu, keamanan, dan khasiat,” ungkapnya.  

Lebih lanjut, Kepala BPOM mengungkapkan harapannya agar program pelatihan berformat praktik langsung (hands-on training) ini tidak sekadar menjadi ajang peningkatan kapasitas yang bersifat sementara. Ia mendorong agar seluruh pengetahuan serta pengalaman yang didapatkan para peserta dapat diterapkan dan dikembangkan secara berkelanjutan di internal BPOM. Dengan demikian, proses evaluasi mutu obat akan semakin konsisten sekaligus meningkatkan kesiapan para evaluator dalam menghadapi dinamika serta kompleksitas pengembangan produk biosimilar di masa depan. 

Sejalan dengan arahan Kepala BPOM, Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif (Deputi 1) BPOM yang hadir secara daring turut menekankan pentingnya metode pembelajaran berbasis hands-on training. Menurutnya, pendekatan ini sangat efektif untuk memperdalam pemahaman teknis para evaluator di luar teori akademis.

Program pelatihan intensif selama 5 hari ini diikuti oleh 8 evaluator dari Direktorat Registrasi Obat, dengan bahasan yang berfokus pada penilaian aspek mutu. Pelaksanaan kegiatan dirancang dengan pendekatan berbasis magang (internship) yang memadukan materi teoritis, praktik laboratorium basah (wet lab), serta pengujian laboratorium kering (dry lab). Selain itu, agenda kunjungan lapangan ke salah satu fasilitas produksi biosimilar, yaitu PT Etana Biotechnologies Indonesia, menjadi sarana krusial untuk melihat secara langsung penerapan pengawasan mutu, karakterisasi, serta metode analisis dalam proses produksi biosimilar skala industri.

Terselenggaranya kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara BPOM dan Universitas Padjadjaran sebagai pihak penyelenggara, serta didukung oleh Hibah WHO Tahun 2026–2027 melalui skema Strengthening Evaluator Competencies. Pelatihan ini juga menjadi wujud nyata dari implementasi kolaborasi sinergis Academia, Business, and Government (ABG) dalam memperkuat ekosistem kesehatan nasional. Melalui kemitraan multidisiplin ini, para peserta mendapatkan perspektif yang lebih komprehensif, baik dari sudut pandang ilmiah maupun praktik manufaktur di industri.

Lewat peningkatan kemampuan para evaluator obat, BPOM ingin memastikan obat-obat biologi terbaru yang beredar di Indonesia benar-benar aman, berkhasiat, dan terjamin mutunya. Pengawasan yang semakin kuat ini diharapkan dapat membuat masyarakat merasa lebih tenang dan aman saat memanfaatkan produk biologi serta biosimilar hasil inovasi terbaru.  (HM-Hendriq)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana