Kopenhagen, Denmark – Delegasi RI BPOM telah melaksanakan kunjungan kerja strategis dalam agenda exchange visit to Denmark pada 20–27 Juni 2026. Kunjungan ini merupakan langkah nyata dalam memperkuat diplomasi regulatori Indonesia, mendukung perayaan 76 tahun hubungan bilateral kedua negara, sekaligus menyelaraskan kesiapan perdagangan dalam kerangka implementasi Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA).
Sebagai salah satu negara terdepan di bidang life sciences, Denmark berpotensi menjadi mitra penting dalam mendorong investasi, transfer teknologi, dan penguatan industri farmasi nasional. Potensi tersebut dapat mendukung pencapaian Asta Cita Presiden Republik Indonesia dalam mewujudkan kemandirian kesehatan serta meningkatkan akses masyarakat terhadap obat yang aman, berkhasiat, bermutu, dan terjangkau.
Exchange visit to Denmark merupakan undangan langsung dari Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Timor-Leste, Papua New Guinea, and ASEAN Sten Frimodt Nielsen. Tujuan utama kunjungan ini adalah memperkuat kerja sama bilateral serta meningkatkan pemahaman bersama pada bidang-bidang strategis, meliputi praktik regulatori, penyelenggaraan uji klinik, penilaian teknologi kesehatan (health technology assessment), kemitraan pemerintah dan swasta (public-private partnerships), serta keamanan pangan dalam sektor kesehatan, ilmu hayati (life sciences), dan pangan.
Kunjungan Delegasi RI BPOM dipimpin oleh Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Utama Raden Rara Mayagustina Andarini, didampingi oleh Kepala Diplomasi Ekonomi Kedutaan Besar Denmark di Jakarta Morten Kruse. Selama sepekan di Denmark, delegasi melaksanakan rangkaian agenda strategis melalui pertemuan intensif dengan berbagai instansi pemerintah, lembaga kemitraan pemerintah-swasta (public-private partnership), perusahaan berbasis inovasi, serta pusat riset dan pengembangan terkemuka.
Salah satu poin penting yang dipelajari adalah sistem pengawasan keamanan pangan berbasis risiko milik Danish Veterinary, Food, Agriculture, and Fisheries Agency (DVFAFA). Sistem yang diterapkan DVFAFA mengusung filosofi prevention before detection (pencegahan sebelum penemuan pelanggaran).
Pada pertemuan dengan DVFAFA, Kepala BPOM Taruna Ikrar secara virtual menyampaikan komitmen dan arah kebijakan strategis BPOM. Taruna menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Luar Negeri Denmark dan The Trade Council yang telah memfasilitasi kunjungan delegasi BPOM, sekaligus memberikan ucapan selamat atas terbentuknya kabinet baru Denmark di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Mette Frederiksen.
Dalam sambutan virtual tersebut, Kepala BPOM juga menekankan pentingnya kemitraan Indonesia-Denmark bagi peningkatan daya saing produk Indonesia di pasar Eropa. "Dengan mempelajari praktik regulasi dan ekosistem inovasi Denmark, BPOM berharap dapat mendukung perdagangan yang lebih aman, kerja sama regulasi yang lebih kuat, serta kepercayaan yang lebih besar terhadap produk farmasi dan pangan Indonesia di pasar Uni Eropa," tegas Taruna Ikrar.
Delegasi kemudian melakukan benchmarking manajemen uji klinik nasional bersama organisasi Trial Nation, serta meninjau ekosistem inkubasi start-up bioteknologi di Bioinnovation Institute (BII) pada saat pertemuan dengan Healthcare Denmark. Delegasi BPOM juga berkesempatan memperdalam aspek teknis laboratorium pengujian dan digitalisasi layanan kesehatan dengan mengunjungi sejumlah institut riset terkemuka.
Saat menyambangi Eurofins Biopharma Product Testing di Klogstock, Denmark, delegasi melihat langsung laboratorium pengujian berskala global yang menerapkan standar good manufacturing practices (GMP) serta prinsip keberlanjutan lingkungan. Kunjungan ini telah memberikan gambaran penting terkait integritas data, yang menerapkan prinsip attributable, legible, contemporaneous, original, accurate, complete, consistent, enduring, dan available (ALCOA+). Tak hanya itu, delegasi juga mempelajari implementasi manajemen risiko, dan sistem laboratorium berbasis digital (seperti Laboratory Information Management System/LIMS) yang berpotensi ditindaklanjuti lewat kolaborasi peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan harmonisasi metode uji farmakope.
Sementara itu, dalam kunjungan ke Steno Diabetes Center Copenhagen (SDCC), Delegasi BPOM mempelajari model pelayanan kesehatan terintegrasi yang berpusat pada pasien dengan memanfaatkan teknologi digital, remote monitoring, dan telekonsultasi. Sistem ini mengintegrasikan pelayanan klinis dengan penelitian berbasis data berkelanjutan serta real-world evidence yang sangat berharga bagi referensi pengawasan produk kesehatan di tanah air.
Di sektor kefarmasian, BPOM secara konkret telah mengawal rencana alih teknologi produksi insulin dalam negeri melalui kerja sama antara Novo Nordisk dan Bio Farma. Langkah ini dinilai sangat strategis untuk mendukung Asta Cita Presiden Republik Indonesia dalam mewujudkan kemandirian kesehatan nasional. Selain itu, BPOM juga menggandeng industri seperti Novonesis dan Arla Foods Ingredients untuk berdiskusi ilmiah mengenai evaluasi keamanan pangan inovatif berbasis teknologi biosolutions.
Rangkaian misi internasional ini mendapat dukungan penuh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Kerajaan Denmark Siti Nugraha Mauludiah beserta jajaran KBRI Kopenhagen. Dengan memanfaatkan status BPOM sebagai WHO-Listed Authority (WLA), momentum kunjungan ini diharapkan mampu memperluas skema regulatory reliance, menarik investasi, mempercepat akses masyarakat terhadap produk obat dan makanan inovatif yang aman, bermutu, dan terjangkau serta mengembangkan kolaborasi Academia-Business-Government (ABG) antara Indonesia dan Denmark di bidang pengawasan obat dan makanan. (KS-Tommi/HM-Herma)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
