BPOM Resmikan Fasilitas Produksi Injeksi Steril Lini 3 PT Ethica Industri Farmasi

05-06-2026 Kerjasama dan Humas Dilihat 746 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Cikarang, Bekasi - Kepala BPOM Taruna Ikrar meresmikan Fasilitas Produksi Injeksi Steril Lini 3 dan Warehouse PT Ethica Industri Farmasi (Ethica Farma), anak perusahaan PT Pyridam Farma Tbk. (PYFA), di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (4/6/2026). Kehadiran fasilitas baru tersebut diharapkan memperkuat kapasitas produksi obat esensial dalam negeri sekaligus mendukung ketahanan kesehatan nasional.

Hadir bersama Kepala BPOM dalam momen peresmian tersebut yaitu Pelaksana Tugas Direktur Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor BPOM Shanti Marlina beserta jajaran Kedeputian Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif (Kedeputian I) dan perwakilan dari Balai Besar POM di Bandung. Turut hadir pula perwakilan dari Kementerian Kesehatan, Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI), serta jajaran dewan komisaris direksi PYFA dan Ethica Farma.

Peresmian hari ini ditandai secara simbolis dengan penandatanganan prasasti oleh Kepala BPOM, yang dilanjutkan dengan penyerahan Sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Kepala BPOM kepada Direktur Utama PYFA Lee Yan Gwan. Dalam sambutannya, Kepala BPOM menyampaikan apresiasi kepada PT Ethica Industri Farmasi atas komitmennya dalam meningkatkan kapasitas produksi obat nasional.

“Ethica Farma banyak fokus untuk memproduksi obat generik, yang otomatis membantu rakyat kita karena [produk obatnya] dipakai dalam BPJS,” ujar Kepala BPOM.

Menurutnya, pengembangan fasilitas produksi ini merupakan kontribusi nyata industri farmasi dalam menjaga ketersediaan obat yang aman, berkhasiat, dan bermutu bagi masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian farmasi nasional. “Jadi, kita [BPOM] memberikan dukungan dalam konteks ekspansi masa depan. Kita berharap Ethica Farma bisa semakin mendunia. Dengan demikian, maka kemandirian obat nasional kita bisa tercapai,” harap Taruna.

Taruna menegaskan bahwa penguatan industri farmasi nasional menjadi semakin penting di tengah tantangan global, termasuk fluktuasi nilai tukar dan ketidakpastian geopolitik yang dapat memengaruhi rantai pasok bahan baku dan produk kesehatan. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas produksi dalam negeri merupakan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan pasokan obat bagi masyarakat.

“BPOM sebagai lembaga pemerintah berupaya secara maksimal untuk mendukung ketahanan obat nasional, apalagi untuk [ketersediaan] obat-obat esensial. Pemerintah punya kewajiban untuk memberikan dukungan dalam bentuk regulasi, fasilitas, atau networking untuk pendampingan dan penguatan kepada industri nasional kita,” tuturnya.

Taruna juga mendorong industri farmasi untuk terus berinovasi, memperluas pasar ekspor, dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor guna meningkatkan daya saing industri farmasi Indonesia di tingkat global. Menurutnya, sinergi antara regulator dan pelaku usaha menjadi kunci dalam mewujudkan sistem kesehatan yang tangguh dan berkelanjutan.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PYFA Lee Yan Gwan menyampaikan apresiasi kepada BPOM, Kementerian Kesehatan, dan GPFI atas dukungan yang selama ini diberikan bagi perkembangan industri farmasi nasional. “Kehadiran regulasi yang adaptif, pengawasan yang konsisten, serta ruang kolaborasi yang terbuka telah menjadi fondasi kuat bagi industri untuk terus bertumbuh dengan tetap mengedepankan kualitas dan keamanan demi kepentingan masyarakat luas,” ujarnya.

Lee menambahkan bahwa perluasan fasilitas produksi ini bukan sekadar investasi bisnis, tetapi juga bentuk kontribusi industri dalam memenuhi kebutuhan layanan kesehatan masyarakat yang terus meningkat. “Hari ini menjadi simbol semangat bahwa industri farmasi Indonesia mampu berdiri sejajar dengan standar global. Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan, perluasan ini merupakan bentuk pengabdian bagi seluruh lapisan masyarakat,” katanya.

Selain peresmian fasilitas produksi, Kepala BPOM melakukan penanaman pohon sebagai bagian dari komitmen mendukung target net zero carbon. Taruna mengapresiasi langkah Ethica Farma yang mengintegrasikan aspek keberlanjutan lingkungan dalam pengembangan industrinya.

“Penanaman pohon hari ini merupakan manifestasi pelestarian lingkungan sekaligus kontribusi nyata industri farmasi dalam mereduksi jejak karbon dan membangun ekosistem industri hijau,” tutur Taruna Ikrar.

Peresmian fasilitas produksi ini mencerminkan komitmen bersama pemerintah dan industri dalam mendukung transformasi sistem kesehatan nasional. Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, industri farmasi Indonesia diharapkan semakin inovatif, kompetitif, dan mampu berkontribusi terhadap terwujudnya visi Indonesia Emas 2045. (HM-Herma)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana