BPOM Resmikan Nose Innovation Center, Perkuat Kolaborasi ABG untuk Hilirisasi Inovasi Kosmetik dan Obat Bahan Alam

24-02-2026 Kerjasama dan Humas Dilihat 348 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Jakarta — BPOM meresmikan Nose Innovation Center PT Nose Herbal Indo di Bale Kirana, Jakarta pada Senin (23/2/2026). Peresmian laboratorium inovasi ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem riset dan pengembangan produk kosmetik serta obat bahan alam (OBA) berbasis potensi biodiversitas Indonesia melalui kolaborasi sektor Academia-Business-Government (ABG).

Dalam sambutannya, Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa kehadiran fasilitas laboratorium inovasi memiliki peran penting dalam mendorong penguatan ekosistem inovasi nasional di sektor kosmetik dan OBA. “Kehadiran laboratorium inovasi ini menjadi bagian dari penguatan ekosistem inovasi nasional di bidang kosmetik dan obat bahan alam,” ujar Taruna Ikrar.

Kepala BPOM juga menekankan bahwa potensi kekayaan biodiversitas Indonesia hanya dapat dioptimalkan apabila didukung oleh riset yang kuat, pengujian laboratorium yang kredibel, serta penerapan standar mutu dan regulasi yang konsisten. Upaya tersebut dinilai krusial untuk memastikan produk yang dihasilkan memiliki daya saing dan memenuhi aspek keamanan, khasiat, serta mutu.

Sejalan dengan upaya percepatan hilirisasi riset, BPOM mendorong penerapan model kolaborasi ABG sebagai kemitraan strategis antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah. “Kolaborasi ABG bukan sekadar kolaborasi formal, melainkan kemitraan strategis yang saling memperkuat,” tegas Taruna Ikrar. Sinergi tersebut dinilai menjadi fondasi penting agar hasil riset dapat diimplementasikan secara nyata melalui pengembangan produk yang taat regulasi.

Vice Chief Executive Officer PT Nose Herbal Indo Sri Rahayu Widyaningrum menyampaikan bahwa peresmian Nose Innovation Center merupakan tonggak penting penguatan riset dan pengembangan perusahaan. “Hari ini menjadi momen penting bagi kami karena Nose Innovation Center yang selama ini kami bangun, akhirnya dapat kami resmikan bersama Bapak dan Ibu sekalian,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa fasilitas ini dirancang untuk mendukung proses formulasi, pengujian stabilitas, evaluasi efektivitas, hingga kesiapan produksi sesuai dengan standar regulasi.

Secara teknis, Nose Innovation Center dilengkapi dengan sejumlah fasilitas riset, antara lain pengembangan riset botani melalui skema joint research, pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) untuk perancangan formula secara cerdas (intelligent formula design), fasilitas pengembangan formulasi terapan untuk produk perawatan kulit, kosmetik dekoratif, serta obat tradisional, hingga unit evaluasi efektivitas untuk validasi kinerja produk secara klinis. Keberadaan fasilitas ini diharapkan dapat mempercepat proses riset dari tahap konseptual hingga kesiapan produksi.

Dari sisi akademisi, Enos Tangke Arung dari Universitas Mulawarman menilai kolaborasi riset antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah merupakan prasyarat penting bagi negara yang ingin maju dan berkembang. “Kerja sama riset itu merupakan suatu hal yang diwajibkan untuk negara-negara yang mau maju dan berkembang,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa kolaborasi ABG mendorong hasil riset kampus tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga dapat dihilirisasi menjadi produk yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Peresmian Nose Innovation Center turut dihadiri oleh jajaran pimpinan dan pejabat teknis BPOM, perwakilan perguruan tinggi dan peneliti dari berbagai institusi, serta para pelaku industri, klien, dan mitra PT Nose Herbal Indo. Rangkaian kegiatan meliputi prosesi peresmian laboratorium inovasi, tur fasilitas riset, serta penanaman pohon sebagai simbol komitmen dari ketiga sektor dalam menjaga ekosistem yang keberlanjutan.

Dalam kesempatan ini, Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) memberikan penghargaan atas inisiasi kolaborasi ABG dengan melahirkan pusat inovasi yang diresmikan hari ini. Kepala BPOM ikut menerima penghargaan dari MURI untuk kategori Pendukung Perusahaan Maklon Kosmetik Pertama yang Melakukan Penelitian Bersama Akademia dan Pemerintah Terhadap Bahan Alam. 

Melalui rangkaian kegiatan ini, BPOM terus menunjukkan komitmen untuk terus mendorong penguatan sinergi antara regulator, akademisi, dan dunia usaha. Dengan kolaborasi yang terjalin dengan baik di antara ketiga ranah tersebut diharapkan dapat mempercepat lahirnya inovasi produk kosmetik dan OBA Indonesia yang aman, bermutu, dan berdaya saing global. (HM-Laras/HM-Herma) 

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana