BPOM Tegaskan Peran Strategis dalam Penguatan Ekosistem Regulasi Obat Global Melalui Forum di PBB

21-04-2026 Kerjasama dan Humas Dilihat 334 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

New York – Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan komitmen Indonesia dalam memperkuat ekosistem regulasi obat global. Komitmen tersebut disampaikan secara daring pada Global Health and Medicine Forum yang diselenggarakan oleh United Nations Institute for Training and Research (UNITAR) di Ruang UNCA, Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York pada Rabu (8/4/2026).

Global Health and Medicine Forum merupakan forum internasional yang mempertemukan regulator, pembuat kebijakan, akademisi, dan pemangku kepentingan kesehatan dari berbagai negara. Forum ini membahas penguatan sistem regulasi di tengah tantangan global, termasuk ketahanan rantai pasok, percepatan inovasi, dan kesiapsiagaan menghadapi krisis kesehatan. Kegiatan ini dipimpin oleh Jie He dari Chinese Academy of Sciences dengan dukungan berbagai institusi internasional, antara lain United Nations Correspondents Association (UNCA) dan Institute for Global Industry, Universitas Tsinghua.

Dalam video keynote speech bertajuk “Strengthening the Global Medicines Regulatory Ecosystem: Indonesia’s Contribution to Global Health”, Kepala BPOM menekankan bahwa sistem regulasi yang kuat, adaptif, dan kolaboratif merupakan fondasi penting bagi ketahanan kesehatan global. “Indonesia berkomitmen membangun sistem regulasi yang kredibel dan berstandar internasional, sekaligus memastikan akses masyarakat terhadap produk medis yang aman, berkhasiat, dan bermutu ,” paparnya.

Taruna menyebut bahwa salah satu capaian penting adalah diraihnya status WHO-Listed Authority (WLA) untuk vaksin pada Desember 2025, yang menjadikan Indonesia sebagai negara berkembang pertama yang memperoleh pengakuan tersebut. Status ini memperkuat kepercayaan internasional, mendorong praktik regulatory reliance, serta membuka peluang kontribusi lebih luas bagi industri farmasi nasional dalam rantai pasok global.

Penguatan regulasi BPOM juga sejalan dengan agenda transformasi ekonomi nasional melalui penerapan pendekatan berbasis risiko, digitalisasi layanan perizinan, serta dukungan terhadap inovasi industri farmasi dalam negeri. Dalam konteks dinamika global, termasuk perkembangan kerja sama perdagangan internasional, Indonesia terus menjaga keseimbangan antara keterbukaan dan perlindungan kepentingan nasional.

Forum kali ini turut menghadirkan berbagai sesi strategis yang membahas pemanfaatan kecerdasan buatan dalam layanan kesehatan, penguatan sistem rumah sakit, kesehatan mental, serta pencegahan dan pengendalian penyakit dari pendekatan klinis hingga kesehatan masyarakat. Para pakar yang hadir juga menekankan pentingnya kolaborasi global dalam menjawab tantangan kesehatan yang semakin kompleks.

Ke depan, BPOM akan terus mendorong penguatan Sinergi Academia–Business–Government (ABG) guna mempercepat inovasi kesehatan yang bertanggung jawab dan inklusif. Partisipasi aktif Indonesia dalam forum ini menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra global yang konstruktif dalam mendorong sistem regulasi yang andal, sekaligus berkontribusi pada penguatan tata kelola kesehatan global dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya untuk SDG 3: Good Health and Well-Being. (KS-Widhi/KS-Fajar)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana