Dukung Akselerasi Indonesia Berdaya Saing Global, Taruna Ikrar Bicara Ketahanan Sektor Farmasi dan Kemandirian Pangan

14-02-2026 Kerjasama dan Humas Dilihat 699 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Jakarta – “Obat berkaitan dengan kesehatan, dan pangan berkaitan dengan prosperity, kebutuhan pokok sehari-hari”. Demikian Kepala BPOM Taruna Ikrar mengawali paparannya pada acara Launching Peta Jalan Strategis Akselerasi Indonesia Berdaya Saing Global di Jakarta Pusat, Sabtu (14/2/2026). Ia menegaskan bahwa kedua sektor tersebut memiliki keterkaitan erat dengan  ketahanan sektor farmasi dan kemandirian pangan yang menjadi domain BPOM. Launching ini dihadiri sejumlah tokoh nasional, serta kalangan pengusaha, media, akademisi, dan peneliti.

Kegiatan yang memperkenalkan blueprint strategis ini diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Perhimpunan Pelajar Indonesia (IAPPI). IAPPI menyebut ini merupakan kontribusi konkret alumni diaspora bagi arah pembangunan nasional. Peluncuran ini juga mendapat dukungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai upaya memperkuat sinergi antara riset, inovasi, dan kebijakan publik.

Dalam sambutannya, Ketua Harian IAPPI, Yuliandre Darwis, menyebut bahwa peta jalan tersebut bukan sekadar produk administratif atau seremonial, melainkan ruang kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara yang disusun selama hampir 1 tahun. Dokumen ini menempatkan penguatan sumber daya manusia, kesehatan, dan sosial budaya sebagai fondasi utama. Cetak biru tersebut dipersembahkan untuk mendukung pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, dengan harapan dapat menjadi referensi strategis lintas kementerian dan lembaga.

Pada kesempatan yang sama, CEO Garuda TV, Fahmi Anwari, mengapresiasi peta jalan yang disusun IAPPI. Ia menambahkan bahwa medianya mendukung program-program pemerintah, antara lain melalui program Goes to Campus. Fahmi menyebut bahwa medianya menjadi penyeimbang informasi publik dan mitra kolaboratif dalam implementasi kebijakan.

Sejalan dengan tujuan peta jalan tersebut, Kepala BPOM Taruna Ikrar memberikan paparan pada sesi diskusi panel 1. Sesi ini membahas mengenai sektor sumber daya manusia (SDM), kesehatan, sosial budaya, dan tata kelola, yang dipandu Afifah Muharikah dan Muhammad Aswin Rangkuti. Narasumber lain yang menyampaikan gagasan dan paparannya dalam sesi tersebut adalah Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, Vice President IDNGlobal Surya Darma, Rektor of President University Handa Satyanugraha Abidin, dan Direktur kemitraan dan Relasi Global Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Wiratni Budhijanto.

Kepala BPOM Taruna Ikrar memaparkan konsep kolaborasi ABG (Academia-Business-Government) sebagai langkah kolaborasi dan strategi memperkuat inovasi dan daya saing Indonesia di tingkat global. Konsep ini melibatkan pelaku usaha di bidang obat dan makanan, baik industri besar maupun usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan jumlah lebih dari 4,2 juta pelaku usaha. Potensi ekonomi sektor ini dinilai signifikan dalam mendukung pertumbuhan nasional dengan nilai kontribusi mencapai 10 triliun rupiah.

“Jumlah perguruan tinggi di Indonesia yang mencapai 4.416, merupakan potensi sekaligus tantangan,” tambah Taruna Ikrar. Menurutnya, kampus merupakan ekosistem tumbuhnya inovasi yang menjadi kunci lompatan dalam pengembangan produk baru berbasis riset dan teknologi. Saat ini BPOM telah bekerja sama dengan 180 perguruan tinggi untuk melahirkan inovasi dan memberikan pendampingan sejak awal hingga akhir riset agar tetap sesuai dengan koridor regulasi dan memenuhi gold standard/standar tertinggi. Kolaborasi tersebut turut melibatkan pelaku usaha dan lembaga riset, termasuk BRIN.

Dalam paparannya, Taruna Ikrar juga menyampaikan capaian pengakuan internasional melalui status WHO-Listed Authority (WLA) yang diraih BPOM dari World Health Organization. Pencapaian tersebut menjadi tonggak penting dalam meningkatkan kepercayaan global terhadap sistem pengawasan obat di Indonesia. Masuknya BPOM dalam WLA membuka peluang lebih luas bagi produk Indonesia untuk menembus pasar internasional karena telah memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu yang diakui secara global.

Di akhir paparannya, Taruna Ikrar kembali menyampaikan apresiasi terhadap penyusunan cetak biru yang juga sesuai dengan filosofi BPOM. “Kemandirian farmasi dan keamanan pangan merupakan fondasi kedaulatan dan daya saing bangsa,” pungkasnya. (HM-ER)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

 

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana