Dukung Perjuangan Palestina, BPOM Terbang ke Amman Berikan Pelatihan Pengawasan Obat dan Makanan

22-05-2024 Umum Dilihat 470 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Amman – Dukungan pemerintah Indonesia terhadap Palestina terus dilakukan tanpa henti. Selain advokasi di forum internasional dan mengirimkan bantuan kemanusiaan, dukungan teknis di bidang kesehatan juga sangat dibutuhkan. Di tengah konflik yang semakin memanas, BPOM terbang ke Amman, Yordania untuk memberikan pelatihan pengawasan obat dan makanan kepada perwakilan Kementerian Kesehatan Palestina, 21-22 Mei 2024.

Pelatihan di Amman, Yordania dipilih dengan mempertimbangkan situasi keamanan Palestina. Sebanyak 15 peserta menempuh perjalanan darat dari kota Ramallah di Palestina melintasi perbatasan Allenby Bridge dan King Hussein Bridge Border. Peningkatan kapasitas bagi regulator Palestina ini sangat penting untuk memastikan pasokan obat dan makanan yang masuk ke Palestina tetap aman dan berkualitas.

Plt. Kepala BPOM RI, L. Rizka Andalucia menegaskan kembali janji Indonesia yang berkelanjutan dan teguh untuk mendukung perjuangan Palestina, khususnya di masa-masa sulit ini. “Saya ingin menekankan dukungan teguh FDA Indonesia terhadap peningkatan kapasitas Kementerian Kesehatan Negara Palestina, khususnya dalam memperkuat sistem pengawasan obat dan makanan pada masa kritis ini,” jelasnya saat membuka pelatihan secara daring dari Jakarta, (21/05/2024).

Dukungan teknis ini sebagai upaya konkret untuk membantu Palestina dalam menghadapi tantangan kesehatan dan keamanan pangan akibat konflik berkepanjangan. Di tengah banyaknya bantuan kemanusiaan ke Palestina, tentu butuh pengawasan yang kuat. Hal ini sekaligus bertujuan meminimalkan risiko obat palsu atau makanan yang tidak layak konsumsi.

Lebih lanjut, Rizka menyebut urgensi otoritas pengawasan obat dan makanan yang kuat bagi negara manapun untuk menjaga kesehatan rakyatnya. “Kami di BPOM siap bermitra dengan Pemerintah Palestina dalam membangun badan pengawas yang kuat dan independen,” lanjutnya.

Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Yordania dan Palestina, Ade Padmo Sarwono menyampaikan rasa terima kasihnya atas upaya nyata BPOM membantu Palestina. “Saya berharap dengan adanya program ini, rekan-rekan saya di BPOM dapat berbagi pengalaman dan praktik terbaiknya, untuk membantu memperkuat dan secara konkrit mendukung FDA Palestina,” ucapnya.

Ade mengungkapkan kesungguhan Indonesia untuk terus mendukung perjuangan Palestina hingga terpenuhinya hak-hak rakyat Palestina dan terwujudnya kemerdekaan Palestina. Indonesia juga teguh memberikan dukungan politik terhadap Palestina di forum dunia. “Kami akan terus bersama dengan Pemerintah Palestina dan negara-negara lain yang berpikiran sama dalam mencapai tujuan akhir memberikan Palestina keanggotaan penuh di PBB,” terangnya.

BPOM telah memberikan bantuan teknis berupa pelatihan di bidang obat dan makanan kepada Palestina sebanyak 4 kali pada tahun 2018, 2019, 2020, dan 2022. Pada pelatihan pertama 2018, secara khusus Menteri Luar Negeri Palestina H.E. Dr Riad Malki mengunjungi para delegasi dari Palestina yang tengah mengikuti pelatihan di sela-sela kegiatannya di Indonesia.

Kerja sama peningkatan kapasitas ini menjadi semakin strategis dengan ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MoU) oleh Kepala BPOM RI bersama Menteri Luar Negeri Palestina, Riad Malki tanggal 24 Oktober 2022. Penandatangan MoU BPOM dan Kementerian Kesehatan Palestina menjadi satu-satunya MoU pada pertemuan bilateral antara Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dan PM Palestina, Mohammad Shtayyeh di Istana Bogor. 

Program kerja sama ini terus bergulir intensif dalam kerangka Kerja Sama Selatan-Selatan. Pemerintah Palestina sangat menghargai peningkatan kapasitas yang diberikan oleh Indonesia melalui BPOM selama ini menunjukkan simbol persaudaraan dan dukungan penuh Indonesia untuk perjuangan pemerintah dan rakyat Palestina. 

Direktur Registrasi Obat, Kementerian Kesehatan Palestina, Mustofa Alnadi mengungkapkan rasa terimakasih atas dukungan Indonesia dalam pengawasan obat dan makanan yang independen bagi Palestina. Di sela-sela pelatihan dia menceritakan kondisi sulit Palestina saat ini menjadi tantangan tersendiri dalam melakukan pengawasan obat dan makanan yang beredar di Palestina

Pelatihan kali ini menjadi kenangan tersendiri bagi fasilitator dari BPOM maupun peserta dari Palestina. Sebelum memulai pelatihan, Head of Food Safety Section in Environmental Department, Suha Sawalha meminta semua yang hadir berdoa untuk Gaza. “Mari kita berdoa untuk Gaza. Kondisi Gaza memprihatinkan, tidak ada akses obat-obatan masuk di Gaza.” .  

Peserta kegiatan terbagi dalam dua kelas yakni pengawasan obat dan keamanan pangan. Narasumber yang mengisi dua kelas tersebut berasal dari Deputi BIdang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif dan Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan yang hadir secara luring dan daring. Terdapat enam peserta mengikuti kelas pengawasan obat. Materi yang disampaikan di antaranya mengenai pelaksanaan inspeksi good manufacturing practices (GMP) pada fasilitas steril, proses uji klinis obat, serta manajemen distribusi dan penyimpanan produk rantai dingin termasuk vaksin.

Sedangkan sebanyak sembilan peserta mengikuti kelas keamanan pangan. Materi yang diajarkan di antaranya terkait pangan olahan untuk kebutuhan khusus, penambahan nutrisi dan non nutrisi pada pangan, GMP pangan olahan, regulasi bahan tambahan pangan, cemaran pangan, dan inspeksi berbasis risiko untuk pangan olahan risiko tinggi.

Para peserta terlihat antusias berdiskusi terkait best practice yang dilakukan BPOM. Kasus demi kasus ditanyakan untuk mencari solusi setiap permasalahan pengawasan obat dan makanan. Dengan kegiatan ini, diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pengawas obat dan makanan di Palestina, sekaligus mendorong pembentukan otoritas obat dan makanan Palestina yang independen. 

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana