Semarang – BPOM menggelar Rapat Evaluasi Nasional (REN) 2025 dengan tema "Membumi dalam Langkah, Mengakar dalam Nilai, Menjulang dalam Tujuan: Memperkuat Evaluasi, Mengakselerasi Kinerja, Menuju Pengawasan Obat dan Makanan yang Adaptif dan Terintegrasi" di Kantor Balai Besar POM (BBPOM) di Semarang, Rabu—Kamis (3—4/12/2025). Kepala BPOM Taruna Ikrar membuka kegiatan tahunan yang dihadiri oleh seluruh pimpinan unit kerja pusat dan unit pelaksana teknis (UPT) di seluruh Indonesia.
Pembukaan diawali penampilan memukau dari Dalang Agung Maskumambang yang membawakan lakon Gatotkaca dan Dasamuka. Pertunjukan tersebut merefleksikan peran aparatur sipil negara (ASN) BPOM sebagai garda terdepan dalam menjaga keamanan, kualitas, serta mutu obat dan makanan bagi masyarakat. Sosok Gatotkaca sebagai simbol kekuatan, ketulusan, keberanian, dan pengabdian mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati lahir dari kemurnian hati dalam mengabdi bagi negeri dan menjunjung kebenaran serta keadilan.
Dilanjutkan dengan momen pemberian Keris Luk Sanga dari penyelenggara Kepala BBPOM di Semarang kepada Kepala BPOM sebagai simbol dimulainya rangkaian agenda REN 2025. Keris Luk Sanga melambangkan kesempurnaan dan keberhasilan tertinggi. Seperti halnya BPOM, yang selalu berupaya memberikan kinerja terbaik dan terus berinovasi untuk menghadirkan pelayanan terbaik dan perlindungan kepada masyarakat.
Dalam sambutannya, Taruna Ikrar menyebut evaluasi kinerja sangat penting dilakukan untuk mencermati kinerja organisasi selama setahun penuh, mengambil hikmah dari apa yang sudah dilakukan, serta merencanakan kinerja tahun berikutnya. “Niat kita ingin jadi lebih baik dari hasil rapat evaluasi nasional karena kita harus punya cita-cita yang sangat tinggi, serta apa yang dikerjakan harus nyata dan bisa dicapai,” jelasnya di hadapan jajaran BPOM.
Evaluasi nasional tahun ini terasa berbeda dari tahun sebelumnya. Evaluasi difokuskan pada evaluasi pelaksanaan tahun pertama Rencana Strategis BPOM 2025—2029. Evaluasi ini menjadi bagian penting dari langkah perbaikan berkelanjutan dalam siklus perencanaan, penganggaran, dan implementasi program kegiatan tahunan. Terlebih dengan adanya beragam program prioritas Presiden Prabowo yang menuntut penyesuaian dalam program pengawasan obat dan makanan.
Tahun 2026, BPOM mendapat anggaran sebesar Rp700 miliar untuk berkontribusi pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Karena itu, program kerja tahun depan harus dipersiapkan untuk dapat memanfaatkan anggaran tersebut dengan baik dan terukur.
“Kita perlu susun dengan baik apa yang perlu disiapkan supaya lebih tajam, jelas, efisien, dan pasti. Perencanaan tahun depan agar lebih baik, bersifat bottom up, berdasarkan evaluasi tahun ini,” lanjut Taruna Ikrar.
Senada dengan itu, Sekretaris Utama Jayadi menyebut BPOM akan terlibat dalam program MBG yang merupakan program unggulan Presiden. Tahun 2025, BPOM berkontribusi dengan melatih 32.018 personil Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang menempati pos-pos Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Hal ini sangat penting untuk memastikan pangan yang diproduksi di SPPG aman dan bergizi. Tak hanya itu, BPOM juga turut berperan dalam penanganan Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan (KLB-KP).
Lebih lanjut, Jayadi menyampaikan kinerja 2025 yang secara umum tercapai dengan baik. Begitu juga realisasi anggaran hingga November 2025, yang juga terbilang baik, dengan proyeksi anggaran 99,98% hingga akhir tahun. “Nilai kinerja organisasi 3 tahun berturut-turut meningkat, begitupun realisasi anggaran dan proyeksi nilai kinerja 2025 secara keseluruhan tercapai,” ungkap Jayadi.
Di tengah REN 2025, Taruna menyampaikan kabar baik bahwa BPOM akhirnya masuk dalam WHO Listed Authority (WLA). “Semalam saya dapat kabar dari Geneva, rapat pleno memutuskan Indonesia [BPOM] mendapat WLA. Ini luar biasa, kita negara berkembang pertama yang masuk dalam daftar tersebut. Bahkan banyak negara G20 belum masuk. Ini reputasi yang sangat tinggi nilainya,” ungkapnya penuh haru.
Taruna sedikit menceritakan perjuangan BPOM untuk meraih WLA yang sudah berlangsung sejak bertahun-tahun. “Sudah sejak zaman pimpinan BPOM terdahulu dan saat ini kita dapat rezeki. Ini bukan kerja satu-dua malam. Ini bukan kerja satu-dua orang. Ini kerja bersama. Saya betul-betul melihat teman-teman hingga tengah malam masih berjibaku di kantor. Kita sangat mengapresiasi itu,” cerita Taruna mengenang perjalanan panjang meraih WLA.
Selama 2 hari, REN 2025 menyajikan beberapa paparan dan diskusi capaian kinerja, hasil evaluasi program, diskusi kelompok terkait isu terkini, serta menghadirkan narasumber dari instansi Kementerian/lembagai lainnya yang terkait. Hari kedua diisi dengan paparan hasil diskusi kelompok seputar isu resistansi antimikroba, pengawasan kosmetik, penanganan obat tradisional mengandung bahan kimia obat, dukungan terhadap program MBG, dan isu lainnya.
Menutup REN 2025, Taruna menyampaikan rasa simpati dan keprihatinan mendalam atas bencana yang tengah terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Ia mengajak seluruh jajaran BPOM untuk memberikan perhatian dan dukungan sesuai kapasitas, termasuk memastikan ketersediaan pangan dan obat-obatan yang aman bagi masyarakat di daerah terdampak.
Mengutip pesan Henry Ford, ‘Coming together is a beginning; keeping together is progress; working together is success’. “Kebersamaan kita dalam REN ini adalah langkah awal, kebersamaan dalam pelaksanaannya yang menentukan keberhasilan,” tutupnya. (HM-Fathan)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
