Galang Solidaritas, Pertajam Pengawasan OTSKK Hingga ke Pelosok Negeri

01-03-2024 Umum Dilihat 12117 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Bandung - BPOM menyelenggarakan Forum Koordinasi Teknis Nasional (Forkonteknas) BPOM 2024 bertema “Peran Aktif Unit Pelaksana Teknis BPOM dalam Pengawasan Obat dan Makanan hingga ke Pelosok Negeri pada Jumat (01/03/2024), Kegiatan tersebut dibuka oleh Plt. Kepala BPOM RI, L Rizka Andalusia. Forkonteknas ini dihadiri oleh pimpinan tinggi madya, pengawas farmasi dan makanan ahli utama, dan pimpinan tinggi pratama di lingkungan BPOM, serta pimpinan unit pelaksana teknis (UPT) dari 42 Balai Besar/Balai POM dan 34 Loka POM di seluruh Indonesia.

Forkonteknas ini diselenggarakan dalam upaya memperkuat pengawasan obat tradisional, suplemen kesehatan, dan kosmetik (OTSKK) secara pre-market dan post-market. Selain itu, forum tersebut juga menggalang informasi dan solusi mengenai berbagai fenomena persoalan pengawasan OTSKK di seluruh Indonesia, serta melakukan percepatan dan peningkatan pelayanan publik BPOM.

“BPOM terus mengembangkan langkah-langkah regulatori serta inovasi dalam mengantisipasi dan merespons tantangan pengawasan yang terus berkembang dengan tepat. Tantangan tersebut perlu disikapi dengan resolusi pengawasan dan keterlibatan peran aktif UPT BPOM sebagai organisasi yang bersifat mandiri,” ucap Rizka Andalusia mengawali sambutannya.

Saat ini, BPOM memiliki UPT yang terdiri atas 76 Balai Besar, Balai POM, dan Loka POM di 38 provinsi di Indonesia. Seluruh UPT tersebut merupakan garda terdepan pengawasan obat dan makanan yang menjadi ’wajah’ dari BPOM. Rizka menekankan bahwa sudah saatnya UPT mendapatkan kemandirian, dalam konteks pelaksanaan tugas teknis operasional pengawasan obat dan  makanan di daerah, secara efektif. 

“UPT juga harus mengikuti dinamika lingkungan strategisnya, termasuk memahami kebijakan dan regulasi terkini, serta mengimplementasikannya sesuai dengan kewenangan, tugas, dan fungsi UPT. Hal ini sangat penting karena kinerja UPT yang optimal diperlukan untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat dan pergerakan perekonomian masyarakat,” lanjut Rizka Andalusia.

Pada kegiatan tersebut, BPOM juga melakukan peluncuran atau launching Redesain Dashboard Sistem Informasi Pelaporan Terpadu (SIPT). Redesain SIPT yang juga ditayangkan pada BPOM Operational Center (BOC) ini diperlukan demi menjawab kebutuhan terhadap kecepatan dan kelengkapan ketersediaan data dan informasi di BPOM.

“BPOM memerlukan redesain dashboard yang menghadirkan data dan informasi akurat untuk mengevaluasi/memperbaiki policy dan memetakan rencana-rencana strategis BPOM ke depan. Sehingga, SIPT ini dapat menampilkan data-data dan informasi yang simpel, user-friendly, dan komprehensif sebagai dasar dalam pengambilan keputusan serta kebijakan terhadap hasil pengawasan. Juga supaya dapat dimanfaatkan oleh pimpinan pusat dan juga UPT dalam mengawal peran pengawasan BPOM yang lebih optimal,” ungkap Rizka Andalusia lebih lanjut.

Sesi berlanjut dengan pelaksanaan Kick off Kegiatan NUANSA “Naik Kelas UMKM Obat Tradisional Seluruh Indonesia”. Kick off ditandai dengan penandatanganan komitmen oleh seluruh Kepala UPT BPOM yang disaksikan oleh Plt. Kepala BPOM dan Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik (Deputi II BPOM), Mohamad Kashuri. Kegiatan NUANSA merupakan bentuk dukungan dan komitmen seluruh Kepala UPT BPOM terhadap upaya untuk mendorong usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) obat bahan alam (OBA) dalam meningkatkan kualitas sistem mutunya, melalui peningkatan implementasi cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB) bertahap dengan produksi obat bahan alam yang yang terjamin keamanan, khasiat, dan mutunya. 

Sesi berlanjut dengan diskusi terbuka dengan Plt. Kepala BPOM. Pada kegiatan yang sama pula, Deputi II BPOM turut menyerahkan apresiasi kepada UPT yang berkontribusi dan berprestasi dalam pengawasan obat tradisional, suplemen kesehatan, dan kosmetik, antara lain Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Denpasar, Balai Pengawas Obat dan Makanan di Tangerang, dan Loka Pengawas Obat dan Makanan di Belitung. 

Forkonteknas ini juga menyelenggarakan kegiatan pelayanan publik bagi pelaku usaha dan UMKM. Kegiatan pelayanan publik tersebut terdiri dari desk registrasi obat tradisional, suplemen kesehatan, dan kosmetik; desk konsultasi regulasi; pendampingan bagi start-up UMKM obat tradisional dan kosmetik; desk sertifikasi obat tradisional, suplemen kesehatan, dan kosmetik; dan percepatan surat keterangan impor maupun surat keterangan ekspor. (HM-Rizky)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana