Gebyar SAPA Sekolah: BPOM Gaungkan Budaya Pangan Aman Sejak Dini

30-06-2026 Kerjasama dan Humas Dilihat 1029 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Jakarta – BPOM menegaskan bahwa keamanan pangan merupakan investasi penting dalam membangun sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Gebyar Sadar Pangan Aman (SAPA) Sekolah yang diikuti sekitar 1.150 peserta secara luring dan daring dari berbagai daerah di Indonesia, Senin (29/6/2026). Kampanye ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Keamanan Pangan Sedunia (World Food Safety Day/WFSD) 2026 yang mengangkat tema From Burden to Solutions–Safe Food Everywhere.

Turut hadir dalam kegiatan ini Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen Suharti serta Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin. Selain itu, ikut bergabung Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan BPOM Elin Herlina; Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM Mohamad Kashuri; serta Deputi Bidang Penindakan BPOM Tubagus Ade Hidayat.

Dalam sambutannya, Kepala BPOM Taruna Ikrar mengajak semua pihak untuk mengubah persoalan keamanan pangan menjadi solusi nyata melalui edukasi, perubahan perilaku, dan kerja sama lintas sektor. Pasalnya, hingga kini tantangan keamanan pangan dan gizi masih menjadi persoalan besar yang harus dihadapi Indonesia. Menurutnya, pangan aman tidak hanya berperan mencegah penyakit, tetapi juga menjadi fondasi lahirnya generasi sehat, cerdas, dan produktif.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO), 1 dari 10 penduduk dunia jatuh sakit akibat pangan yang terkontaminasi, dengan sekitar 420 ribu kematian setiap tahun. Di Indonesia, diperkirakan terdapat 10–22 juta kasus diare setiap tahun akibat konsumsi pangan tidak aman. Situasi ini menjadi beban ekonomi yang nilainya mencapai Rp64,8 triliun hingga Rp226,3 triliun.

Selain persoalan keamanan pangan, Indonesia juga menghadapi tantangan gizi. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi obesitas pada anak usia 5--12 tahun mencapai 19,7%. Sementara data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) 2023 menunjukkan prevalensi diabetes pada anak mencapai 2 kasus per 100.000 jiwa. Kondisi tersebut dipengaruhi pola konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) yang berlebihan serta rendahnya aktivitas fisik anak.

Karena itu, pembudayaan keamanan pangan di sekolah sejak dini sebagai solusi permasalahan keamanan dan gizi perlu terus didorong. Komunitas sekolah berperan penting dalam menciptakan kondisi pangan yang aman di lingkungan sekolah. "Sekolah merupakan lingkungan strategis dalam membentuk kebiasaan konsumsi pangan yang aman dan bergizi. Dalam masa bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045, kita perlu memastikan setiap anak memperoleh pangan yang aman dikonsumsi dan bergizi," ujar Taruna Ikrar.

Sekolah merupakan tempat paling efektif untuk menanamkan kebiasaan memilih pangan yang aman dan bergizi sejak dini. Hngga saat ini, program pembudayaan keamanan pangan telah menjangkau sekitar 60.234 sekolah atau 21,8% dari total 276.866 sekolah dan madrasah di Indonesia. Angka ini menunjukkan masih banyak sekolah yang belum dijangkau. Karena itu, ke depan, kolaborasi lintas sektor menjadi kebutuhan utama agar semakin banyak sekolah dapat menerapkan budaya pangan aman.

Menggandeng lintas sektor terkait, pada kesempatan ini, Kepala BPOM Taruna Ikrar dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) tentang Pemberdayaan Sumber Daya Manusia pada Tingkat Pendidikan Dasar dan Menengah di Bidang Obat dan Makanan. Kerja sama ini menjadi wujud penguatan sinergi dalam membangun budaya pangan aman di sekolah. Mendikdasmen menyambut baik pelaksanaan program yang diinisiasi BPOM ini. Menurutnya, program ini selaras dengan kebijakan presiden dalam membangun budaya ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) di lingkungan pendidikan.

"Program SAPA juga sejalan dengan upaya Kemendikdasmen membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman, sekaligus memperkuat Program Sekolah Sehat serta implementasi Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat sebagai bagian dari pendidikan karakter, yaitu bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur lebih awal," ujar Abdul Mu’ti.

Keberhasilan pembudayaan keamanan pangan tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi juga memerlukan keterlibatan keluarga dan masyarakat. Oleh sebab itu, pendekatan edukasi menggunakan bahasa daerah yang diusung BPOM dinilai menjadi strategi yang tepat agar pesan keamanan pangan lebih mudah dipahami dan menjadi bagian dari budaya masyarakat. "Kita berusaha membiasakan anak-anak makan yang sehat dan bergizi. Ini menjadi langkah awal sinergi BPOM dan Kemendikdasmen untuk membangun generasi Indonesia yang sehat, kuat, serta unggul, baik jasmani maupun rohani,” jelasnya.

Sebelumnya pada 21 Oktober 2025, BPOM juga telah menandatangani nota kesepahaman dengan Kementerian Kebudayaan untuk memperkuat kolaborasi dalam program pemajuan kebudayaan dan pemberdayaan masyarakat di bidang obat dan makanan. Gebyar SAPA ini sebagai salah satu langkah nyata implementasi dari nota kesepahaman tersebut. Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengapresiasi BPOM atas penyelenggaraan Gebyar SAPA yang dinilai menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa keamanan pangan merupakan fondasi dalam mewujudkan masyarakat yang sehat, produktif, berkualitas, dan berdaya saing.

Menurut Fadli Zon, pangan aman merupakan hak setiap warga negara sekaligus pilar penting pembangunan manusia. Ia juga menyambut baik peluncuran Gerakan 1.000 Kader Pangan Aman Berbahasa Daerah dan Program Sadar Pangan Aman Berbasis Budaya. “Kebudayaan bukan hanya warisan, tetapi juga kekuatan sosial yang mampu menggerakkan perubahan perilaku masyarakat. Pendekatan budaya merupakan langkah strategis karena pesan keamanan pangan akan lebih mudah dipahami, diterima, dan dipraktikkan masyarakat apabila disampaikan melalui bahasa daerah, seni, cerita rakyat, dan berbagai kearifan lokal,” jelasnya.

Senada dengan itu, Direktur Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Mardisontori menyoroti sektor kebudayaan dan pangan merupakan prioritas negara ini. Karena itu, Mardisontori berharap agar nota kesepahaman antara BPOM dan Kemenerian Kebudayaan  dapat ditindaklanjuti secara nyata. “Diharapkan tindak lanjut nyata dan tidak menjadi sleeping MoU,” ucapnya.

Tak hanya itu, bersamaan dengan kegiatan hari ini, BPOM meluncurkan 4 inovasi strategis. Ke-4 inovasi tersebut adalah Pedoman Penyelenggaraan Sekolah yang Melaksanakan Pembudayaan Keamanan Pangan, Pedoman Edukasi Keamanan Pangan kepada Penerima Manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Pedoman Pelaksanaan Program Sadar Pangan Aman Berbasis Budaya; serta Gerakan 1.000 Kader Pangan Aman menggunakan Bahasa Daerah sebagai pendekatan edukasi berbasis budaya lokal.

Pembudayaan keamanan pangan tidak cukup hanya melalui edukasi kepada siswa. Dibutuhkan keterlibatan seluruh ekosistem sekolah, mulai dari guru sebagai teladan pola hidup sehat, pengelola kantin yang berkomitmen menyediakan pangan aman dan berkualitas, hingga orang tua yang memperkuat kebiasaan konsumsi pangan aman dan bergizi di rumah. Integrasi materi keamanan pangan dalam kurikulum maupun kegiatan ekstrakurikuler juga menjadi bagian penting dalam membentuk budaya tersebut.

Penggunaan bahasa daerah diharapkan mampu membuat pesan keamanan pangan lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh masyarakat. Melalui Gebyar SAPA Sekolah, BPOM berharap kolaborasi semakin kuat sehingga budaya pangan aman dapat menjadi fondasi lahirnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, berdaya saing, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.  (HM-Fathan)

 Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana