Jakarta – “Inovasi sangat penting untuk mengimbangi dan mengantisipasi berkembangnya risiko keamanan pangan melalui bukti ilmiah yang kuat dan kemampuan pengujian laboratorium yang juga terus ditingkatkan”.
Berikut pernyataan yang disampaikan Kepala BPOM Taruna Ikrar saat menjadi Keynote Speaker pada kegiatan Indonesia International Agribusiness Expo (AGRINEX) 2026 yang mengusung tema “Indonesia Feed the World” pada Jumat (23/10/2026). Kegiatan Indonesia AGRINEX 2026 merupakan pameran agribisnis Indonesia yang menjadi wadah bagi pemerintah, dunia usaha, sektor keuangan, dan pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk, bertukar wawasan, serta menjajaki peluang kolaborasi dalam pengembangan sektor pertanian dan pangan.
Dalam paparannya, Taruna Ikrar menjelaskan tentang keamanan pangan sebagai fondasi ketahanan pangan nasional. Masih dalam rangka peringatan Hari Pangan Sedunia 2026, pemerintah RI melalui BPOM memberi perhatian pada ketahanan pangan. Secara luas, ketahanan pangan dipahami sebagai terpenuhinya empat dimensi yaitu ketersediaan (availability), akses (access), pemanfaatan (utilization), dan stabilitas (stability). Keempat dimensi tersebut juga sudah tercakup dalam definisi ketahanan pangan menurut Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan.
“Aspek-aspek keamanan pangan harus terpenuhi pada pangan, karena bukan pangan jika tidak aman,” tegas Taruna.
BPOM merupakan regulator yang menjadi tulang punggung pengawasan obat dan makanan. Untuk itu, BPOM menetapkan keputusan berbasis ilmiah, pengujian laboratorium yang andal, pengawasan dan surveilan kuat di sepanjang siklus hidup produk, serta kesiapan mengantisipasi risiko. Tahapan tersebut juga berlaku untuk pengawasan terhadap pangan olahan.
“Selain itu, langkah inovatif yang juga dilakukan BPOM adalah pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) untuk mendukung evaluasi sebelum produk pangan beredar serta penapisan berbasis risiko terhadap produk impor dan ekspor,” jelas Taruna lagi.
Sejalan dengan salah satu tujuan Agrinex Expo 2026, yaitu meningkatkan daya saing produk pangan, Indonesia memiliki potensi besar untuk memperluas akses pangan ke pasar global. Potensi tersebut dioptimalkan melalui sInergi ABG (Academia, Business, Government). Dalam proses memperluas pasar ekspor ini, BPOM hadir sebagai pengawal dan pendamping.
“Setiap perizinan yang dikeluarkan BPOM bukan hanya hasil dari pelaksanaan prosedur dan administrasi biasa, namun itu merupakan suatu langkah untuk memberikan jaminan dan kepastian untuk melindungi kehidupan masyarakat,” tutup Taruna Ikrar.
AGRINEX Expo 2026 dibuka langsung oleh Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan bersama Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie. Dalam sambutannya, Menko Zulkifli Hasan menekankan bahwa kemandirian pangan berkaitan dengan kehormatan bangsa. Menurutnya, tidak mungkin suatu negara dapat maju, jika untuk urusan makan saja masih bergantung pada negara lain. Untuk itu, Pemerintah mendorong agar Indonesia dapat melakukan swasembada pangan dengan dukungan dari berbagai sektor yang terlibat dalam ketersediaan pangan di dalam negeri.
Selain menghadirkan area pameran, AGRINEX Expo 2026 juga menghadirkan beragam program pendukung, meliputi seminar, talk show, workshop, forum diskusi, dan business matching. Pelaku usaha agribisnis dan pelaku UMKM terutama yang berkaitan dengan pangan olahan yang hadir diharapkan memperoleh informasi, wawasan, dan pengalaman. Keterlibatan berbagai pihak yang hadir juga diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan dan potensi masing-masing sektor, mulai dari pengembangan produk, dukungan pembiayaan, pemanfaatan teknologi, hingga perluasan jaringan distribusi dan pemasaran. (HM-Rahman)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
