Hadiri Sidang ISO/TC 217 Cosmetics WG 3 Analytical Methods, Indonesia Usulkan Metode Analisis Penentuan Kadar 1,4-Dioksan dalam Kosmetik Menjadi Standar ISO

03-04-2024 Umum Dilihat 790 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Bekasi - International Organization for Standardization (ISO) melalui Technical Committee (TC) 217 atau ISO/TC 217 Cosmetics Working Group (WG) 3 menggelar sidang WG 3 secara virtual (daring) pada Kamis (28/03/2024) pukul 19.00—22.00 WIB melalui platform Zoom Meeting. Siding WG 3 ini dipimpin oleh Convenor ISO/TC 217 Cosmetics WG 3, Pierre Antonie Bonnet, dibantu oleh Amy Michel sebagai Sekretaris Convenor/Sekretaris Sidang dan dihadiri oleh lebih dari 30 orang expert, officer, dan liaison dari berbagai negara di dunia dengan topik bahasan yang berfokus pada Analytical Methods.
 
Dari Indonesia, hadir Kepala Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN) BPOM, Susan Gracia Arpan; Direktur Pengembangan Standar Agro, Kimia, Kesehatan, dan Penilaian Kesesuaian (AKKPK) Badan Standardisasi Nasional, Heru Suseno; serta tim expert yaitu Prof. Abdul Rohman dari Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai project leader, Agustina Ari Murti Budi Hastuti dari UGM, Sri Purwaningsih dari PPPOMN, Erita Lusianti dari PPPOMN, Widiyanto Kurniawan dari PPPOMN, Yuniar Intan Hartono dari BSN, Irma Rumondang Lamria dari Balai Besar Kimia, Farmasi, dan Kemasan (BBKPK) Kementerian Perindustrian, dan Suwidji Wongso dari PT Angler BioChemLab. Hadir pula Ketua Komisi Teknis 71-07 Kosmetik, Prof. Hayun dan anggota lainnya.
 
Indonesia mengusulkan New Work Item Proposal (NWIP) berjudul “Determination of 1,4-dioxane in Cosmetic Products by Headspace Gas Chromatography Mass Spectrometry (HS GC-MS)”. Usulan ini mendapat dukungan dari negara-negara anggota ASEAN berdasarkan rekomendasi sidang ASEAN Cosmetic Testing Laboratory Committee  (ACTLC) ke-21 yang telah berlangsung pada bulan November 2023 lalu. 
Indonesia is requested by ASEAN countries members as lead country to propose the ASEAN Method ACM 011 titled “Determination of 1,4-dioxane in Cosmetic Products by Head Space-Gas Chromatography Mass Spectrometry” into an ISO standard.” Demikian Prof. Abdul Rohman mengawali presentasinya.
 
Metode pengujian PPPOMN ini telah ditetapkan sebagai ASEAN Cosmetic Method (ACM). Serangkaian uji validasi dan uji kolaborasi yang dikuti oleh 10 laboratorium Balai Besar/Balai POM seluruh Indonesia, serta laboratorium dari negara-negara anggota ASEAN, seperti Thailand, Filipina, dan Vietnam telah dilakukan dan diperoleh kesimpulan bahwa metode ini terbukti valid, spesifik, sensitif, homogen dan stabil untuk analisis penentuan kadar 1,4-dioksan dalam produk kosmetik.
Menanggapi presentasi Prof. Abdul Rohman, sebagian besar negara partisipan yang hadir dalam sidang tersebut menunjukkan antusiasme terhadap usulan Indonesia karena isu 1,4-dioksan sangat penting untuk dibahas dan diatur standarnya, mengingat produk kosmetik dipakai oleh seluruh kalangan, baik tua maupun muda, pria maupun wanita. Beberapa ahli dari negara lain, seperti Amerika Serikat, Prancis, Srilanka, serta Arab Saudi juga aktif dalam diskusi dengan mengajukan klarifikasi teknis terkait matriks sampel, prosedur pengujian, prinsip validasi, hasil uji kolaborasi, dll.
 
Berbagai permasalahan terkait bahaya 1,4-dioksan pun dibahas dalam pertemuan tersebut. Menelisik karakteristik dari senyawa 1,4-dioksan sehingga perlu diatur kandungannya dalam kosmetik, adalah karena senyawa tersebut dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, tenggorokan, serta gangguan ginjal, liver, dan kanker jika tubuh terpapar dan terakumulasi oleh toksikan ini dalam jangka waktu lama. Terlebih lagi karena surfaktan teretoksilasi, yang merupakan sumber 1,4-dioksan telah lama digunakan dalam formulasi kosmetik sediaan bilas untuk meningkatkan kelarutan dalam air dan memberikan busa yang stabil. Namun, surfaktan teretoksilasi ini membawa risiko menghasilkan produk sampingan yang beracun dan sulit dipisahkan. Meskipun tidak begitu beracun (Lethal Dose/LD50 = 5.200 mg/kg pada tikus), 1,4-dioksan bersifat iritan dan telah diklasifikasikan oleh International Agency for Research on Cancer (IARC) sebagai kemungkinan atau diketahui bersifat karsinogen. 
 
Dari pembahasan bahayanya 1,4-dioksan ini, seluruh negara yang hadir menyambut baik inisiasi Indonesia untuk menjadikan metode analisis penentuan kadar 1,4-dioksan dalam kosmetik menjadi standar ISO. Namun demikian, seluruh negara juga sepakat, beberapa catatan dan kelengkapan data perlu ditambahkan.
 
Sidang ditutup oleh Pierre Antonie Bonnet sebagai Convenor ISO/TC 217 WG 3 dengan beberapa rekomendasi. Tim proyek Indonesia juga disarankan agar segera mengirimkan draft standar dan NWIP kepada sekretariat ISO/TC 217 WG 3. Draft tersebut akan didistribusikan kepada seluruh expert di WG 3 untuk memperoleh tanggapan dan akan dibahas kembali oleh WG 3 ISO/TC 217 Cosmetic pada awal Juli 2024 untuk disempurnakan dan dipaparkan kembali pada Sidang ISO TC 217 secara luring pada akhir tahun 2024 untuk memperoleh approval dari seluruh peserta sidang. (Nany-Nana/HM-Herma)
Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional/
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana