Sentul – Kepala BPOM Taruna Ikrar berpartisipasi pada The 5th International Conference on Pharmaceutical Sciences and Military Pharmacy (ICOPMAP) yang diselenggarakan oleh Fakultas Farmasi Militer Universitas Pertahanan RI (Unhan) pada Jumat (3/10/2025). Kegiatan yang berlangsung di Kampus Bela Negara, Sentul ini mengusung tema besar “Innovations in Pharmaceutical Sciences and Military Pharmacy: Shaping The Future of Global Health”.
Konferensi internasional yang diadakan selama 2 hari ini menghadirkan narasumber ahli dari bidang akademisi, pemerintahan, industri farmasi, dan asosiasi kefarmasian dari dalam negeri dan internasional. Kegiatan diikuti oleh 130 peserta yang berasal dari kalangan dosen; peneliti; praktisi dari industri farmasi, farmasi klinis dan komunitas, dan farmasi militer; serta mahasiswa dan kadet sarjana dari Unhan. Pada kesempatan ini, Taruna Ikrar menyampaikan keynote speech dengan topik Strengthening the Drug Control System in Facing Global Health Challenges.
Dalam paparannya, Taruna Ikrar menekankan bahwa resiliensi kesehatan menjadi penentu kritis untuk mencapai pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang ditargetkan oleh Presiden RI sebesar 8%. Resiliensi kesehatan mendorong terciptanya populasi masyarakat yang sehat dan produktif sebagai modal untuk memperkuat perekonomian bangsa.
Dalam hal ini, BPOM memegang peran pada proses transformasi sistem kesehatan dalam negeri untuk menuju resiliensi tersebut. Khususnya melalui tugas dan fungsinya sebagai regulator yang menjamin ketersediaan dan akses terhadap produk farmasi yang memenuhi standar keamanan, khasiat, dan mutu.
“BPOM memiliki peran krusial dalam pengawasan dari sisi pre-market untuk memastikan produk memenuhi standar keamanan, mutu, dan efikasi sebelum beredar. Begitupun dari sisi post-market, BPOM juga menjaga kesehatan masyarakat melalui sistem monitoring terhadap keamanan dan efektivitas obat setelah produk beredar dan digunakan oleh masyarakat,” urai Taruna Ikrar.
Taruna juga memaparkan pentingnya penguatan kolaborasi 3 sektor utama, yaitu academic-business-government (ABG), salah satunya melalui kerja sama yang telah dijalin dengan 165 perguruan tinggi dalam pengembangan inovasi produk farmasi. BPOM juga aktif melakukan pembaruan regulasi mengenai penelitian di bidang farmasi, optimalisasi transformasi pelayanan publik berbasis digital, serta meningkatkan kapasitas sebagai regulator berstandar internasional melalui upayanya memperoleh status sebagai WHO Listed Authority (WLA).
“Langkah-langkah ini menjadi upaya nyata BPOM dukungan untuk mempermudah proses pengembangan produk obat inovatif hingga hadir ke tengah masyarakat, untuk mendukung tercapainya resiliensi kesehatan di dalam negeri,” tutur Taruna lebih lanjut.
Kegiatan hari pertama The 5th ICOPMAP ini dihadiri secara langsung oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Perencanaan Unhan R. Nugraha Gumilar serta Dekan Fakultas Farmasi Militer Unhan Yahdiana Harahap, yang bersama dengan Kepala BPOM membuka konferensi secara resmi. Selain itu, hadir pula sebagai pembicara kunci, yaitu Ketua Perhimpunan Farmasi Militer Indonesia Yuli Subiakto, Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono, President of Military and Emergency Pharmacy Section of The International Pharmaceutical Federation (FIP) Sylvain Grenier, dan Head of Global Health Emergency Corps WHO Flavio Salio.
Ketua Perhimpunan Farmasi Militer Indonesia Yuli Subiakto, dalam sambutannya, ikut menjelaskan pentingnya resiliensi kesehatan dan perlunya sektor farmasi militer untuk berperan dalam mewujudkan hal tersebut. “Ancaman kesehatan di seluruh dunia sangat beragam, bisa dalam bentuk penyebaran penyakit infeksius hingga ancaman sunyi dari bahan kimia, biologis, dan radionuklir. Di sinilah mengapa farmasi militer harus siap, untuk tidak hanya berjuang di garis depan, tetapi memperkuat kapabilitas untuk berdiri bersama masyarakat di masa krisis, untuk memperkuat resiliensi dan inovasi [di bidang farmasi],” tegasnya.
Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Perencanaan Unhan R. Nugraha Gumilar turut mempertegas pentingnya keterlibatan kefarmasian militer dalam menghadapi masa depan kesehatan global. Ia menyebut kesehatan di masa mendatang bukan hal yang dapat diprediksi, namun suatu realitas yang harus secara sadar dan bersama diperjuangkan.
“Di abad 21, tidak ada ancaman yang lebih besar terhadap stabilitas negara dibandingkan dengan ancaman krisis kesehatan. Keamanan di bidang kesehatan merupakan keamanan nasional. Kami [melalui Unhan] mempersiapkan kader kefarmasian yang diharapkan tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan di bidangnya, tetapi juga memiliki mindset dan kemampuan operasional strategis untuk menghadapi tantangan kesehatan ke depan,” tuturnya.
Kegiatan tahunan ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para peserta untuk saling menggali informasi. Dan yang paling penting adalah sebagai wadah untuk saling menjalin kolaborasi dengan lintas sektor dalam upaya mewujudkan resiliensi nasional untuk bersama mewujudkan visi kesehatan nasional menuju Indonesia Emas 2045. (HM-Herma)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
