Beijing – Delegasi BPOM, yang dipimpin oleh Kepala BPOM Taruna Ikrar, melakukan pertemuan bilateral dengan akademisi bidang pengobatan tradisional Tiongkok/traditional Chinese medicine (TCM) pada Senin (3/11/2025). Hadir bersama BPOM dalam kesempatan tersebut adalah Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif (Deputi 1) William Adi Teja serta Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Lynda Kurnia Wardhani.
Taruna Ikrar bersama delegasi BPOM bertemu dengan beberapa akademisi TCM dari beberapa institusi, yaitu Zhao Changlong dan Tong Xiaoying dari China Academy of Chinese Medical Sciences; Wang Heping dari Beijing Yuanmei Manual Bone Setting and Orthopedics Center; Liu Ying dari Center for Integrative Medicine, Beijing University of Chinese Medicine; serta Wang Xing dari Zhongyu Pharmaceutical Economics Development and Application Center.
Dalam pertemuan tersebut, para pihak berkesempatan berbagi perspektif mengenai kolaborasi regulator dengan media dalam memperkuat kepercayaan publik terhadap produk-produk kesehatan, khususnya obat tradisional. Pengembangan obat tradisional memadukan aspek budaya, ilmu pengetahuan, dan inovasi. Kepala BPOM mengapresiasi upaya Tiongkok dalam mengombinasikan berbagai area dalam pengembangan TCM, mencakup akupunktur, pengobatan integrative, penelitian herbal, dan pelatihan tenaga profesional yang terlibat.
“Kami sangat mengapresiasi kontribusi para ahli dan institusi di Tiongkok dalam memajukan TCM melalui penelitian, inovasi klinik, dan kolaborasi internasional hingga TCM dapat dikenal sebagai warisan budaya dan ilmu pengetahuan,” ujar Taruna Ikrar mengawali diskusi.
Taruna Ikrar turut berbagi perspektif dari sisi pengembangan obat tradisional yang dilakukan di Indonesia. Obat tradisional Indonesia, atau yang dikenal dengan jamu, telah dinobatkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) pada Desember 2023. BPOM sebagai regulator berperan penting memastikan obat tradisional yang beredar di Indonesia aman, berkhasiat, dan bermutu, melalui serangkaian pengawasan pre-market dan post-market.
Lebih lanjut, Taruna menyebut visi untuk memodernisasi jamu menjadi obat herbal terstandar dan fitofarmaka. Pengembangan ini akan semakin meningkatkan kredibilitas dan peluang pasar obat tradisional Indonesia, sekaligus meningkatkan pengetahuan di bidang obat tradisional dan menjaga biodiversitas hayati Indonesia.
Dari pertemuan bilateral yang dilakukan hari ini, delegasi BPOM berharap untuk dapat berkolaborasi lebih lanjut dengan institusi dan tim ahli TCM dalam mengembangkan pengetahuan, uji klinik, dan praktik regulatori dalam pengembangan TCM dan jamu Indonesia. Kolaborasi lain yang mungkin dilakukan adalah untuk melaksanakan peningkatan kapasitas di bidang akupunktur, pengobatan integrative, standardisasi herbal, serta manajemen kesehatan yang mendukung pengembangan obat tradisional.
“Kami yakin kolaborasi ini sangat relevan untuk mengembangkan pengobatan tradisional sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan warisan budaya dari kedua negara,” tukas Taruna Ikrar.
Ajakan kolaborasi dari Taruna Ikrar mendapat sambutan hangat dari tim akademisi Tiongkok yang hadir dalam pertemuan. Liu Ying dari Center for Integrative Medicine, Beijing University of Chinese Medicine meyakini kolaborasi ini akan berkontribusi meningkatkan kepercayaan masyarakat akan manfaat obat tradisional sebagai bagian dari pengobatan serta jembatan antara budaya dan ilmu pengetahuan untuk mewujudkan kesehatan masyarakat, tidak hanya bagi kedua negara, tetapi juga bagi masyarakat global. (HM-Herma)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
