Bandung — BPOM menegaskan komitmennya dalam memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat sekaligus mendorong daya saing produk nasional melalui kolaborasi strategis dengan dunia akademik. Penegasan ini mengemuka saat Kepala BPOM Taruna Ikrar hadir dalam kuliah umum di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung, Jumat (16/10/2026).
Langkah nyata BPOM dalam mengawal keamanan dan mutu produk masyarakat diwujudkan melalui penguatan sinergi academia, business, and government (ABG). Saat ini, ekosistem pengawasan pangan dan obat nasional menaungi lebih dari 45 ribu industri besar dan 4,2 juta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Potensi perputaran ekonomi yang dihasilkan dari keberadaan industri dan UMKM tersebut mencapai Rp10.000 triliun per tahun. Melalui pembinaan langsung di lapangan, BPOM memastikan agar rantai pasok konsumsi publik terjaga higienitasnya tanpa menghambat pertumbuhan usaha kerakyatan, termasuk merancang relaksasi berjenjang perizinan dari pangan industri rumah tangga (PIRT) menuju izin edar makanan dalam negeri (MD).
"Fokus kami dari pengawasan hingga penindakan adalah memastikan penjaminan keamanan, kualitas, dan khasiat atau kemanfaatan dalam setiap produk. Tujuannya murni untuk mengayomi dan melindungi masyarakat, mulai dari bayi dalam kandungan hingga seluruh lapisan warga," tegas Taruna Ikrar.
Unpar menyambut baik kolaborasi lintas sektor yang digagas BPOM sebagai upaya nyata hilirisasi riset untuk kesejahteraan publik. Sinergi ini juga melibatkan mahasiswa Fakultas Vokasi Unpar dalam mendampingi UMKM dalam memproduksi promosi dan iklan pangan yang edukatif, beretika, serta terbebas dari klaim kesehatan berlebih (overclaim) yang berisiko menyesatkan konsumen.
"Kami sangat mengapresiasi kehadiran Kepala BPOM yang meneguhkan kolaborasi nyata antara universitas, pemerintah, dan pelaku usaha. Kolaborasi mahasiswa bisnis kreatif maupun teknologi rekayasa pangan bersama UMKM ini diharapkan menjadi daya ungkit nyata agar produk lokal semakin maju, aman, dan berdaya saing," ujar Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Alumni, Inovasi, dan Bisnis Unpar Catharina Badra Nawangpalupi.
Wujud nyata sinergi tersebut langsung ditandai dengan penyerahan penghargaan oleh Kepala BPOM Taruna Ikrar kepada para pemenang kompetisi "Kolaborasi Membuat Iklan Memenuhi Ketentuan" (KOMIK) 2026. Kompetisi KOMIK merupakan program inovasi kolaboratif BPOM yang memfasilitasi mahasiswa dan pelaku UMKM untuk menciptakan iklan pangan olahan yang kreatif dan sesuai ketentuan. Kolaborasi tahun 2026 ini melibatkan 30 mahasiswa dan 15 UMKM pangan dari wilayah Bandung, dengan pemenang kompetisi diraih oleh 3 UMKM mitra mahasiswa, yakni Kebab Factory ID, Cilok Denok CLDK, dan Mamang FOODS.
Status BPOM sebagai WHO-Listed Authority (WLA) menunjukkan bahwa BPOM kini telah diakui di level internasional. Selain itu, BPOM juga telah ditetapkan oleh United States Food and Drug Administration (US FDA) sebagai Certifying Entity (CE) untuk komoditas rempah Indonesia yang akan diekspor ke Amerika Serikat. Dalam kurun waktu November 2025 hingga September 2026, BPOM telah menerbitkan 835 Shipment Specific Certification mencakup 1.235 kontainer ekspor komoditas rempah ke Amerika Serikat dengan nilai perdagangan menembus Rp48 triliun tanpa hambatan embargo. Taruna Ikrar menyebut bahwa dengan posisi BPOM saat ini, secara tidak langsung diharapkan dapat ikut mendukung stabilitas perdagangan dan kedaulatan produk Indonesia.
Sebagai wujud apresiasi atas komitmen menjaga mutu dan kepatuhan standar ekspor tersebut, Kepala BPOM menyerahkan sertifikat penghargaan kepada sejumlah pelaku usaha rempah nasional. Apresiasi ini diberikan kepada CV XOSO, PT Ikafood Putramas, serta pelaku UMKM penghasil produk vanilla bean & powder asal Kota Cirebon yang dinilai berhasil menembus pasar global secara konsisten.
Tidak hanya mengawal mutu pangan dan obat secara regulatori, perlindungan BPOM terhadap masyarakat juga menyentuh aspek kemanusiaan darurat. Bersamaan dengan kunjungannya ke Kota Bandung, Kepala BPOM menyerahkan bantuan santunan bagi korban bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penyerahan bantuan dilakukan di Aula Gedung A Lantai 3 Balai Besar POM di Bandung dan diserahkan secara simbolis kepada balai yang terdampak bencana, yang diwakilkan oleh Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik (Deputi 2) Mohamad Kashuri dan Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan (Deputi 3) Elin Herlina.
Bantuan ini diberikan untuk menyikapi bencana karhutla yang melanda kawasan Sumatra dan Kalimantan, yang berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per 14 Oktober 2026, tercatat sebanyak 1.297 titik panas (hotspot) di Indonesia. BPOM bergerak menyalurkan santunan dan pendampingan mitigasi terhadap paparan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Bantuan yang disalurkan mencakup dropping masker, obat-obatan esensial, hingga pengadaan air purifier berkapasitas besar bagi pegawai dan warga terdampak di Palembang, Palangka Raya, dan Pontianak, sekaligus memantau kelayakan air minum dan bahan makanan di zona bencana.
Kehadiran BPOM di tengah masyarakat menegaskan filosofi kerja institusi yang menjulang dalam capaian reputasi global, membumi dalam pelayanan dan regulasi adaptif, serta mengakar kuat dalam kepedulian kemanusiaan. Setiap langkah yang dilakukan mengarah ke satu tujuan, demi memastikan setiap warga negara terlindungi dari risiko kesehatan. (HM-Syale)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
