Kenali Peran Hati dan Jaga Kesehatannya

19-12-2006 Umum Dilihat 11111 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

Umum

Bila liver tidak sehat, detoksifikasi tidak bisa cepat dan akan lebih banyak racun yang beredar ke seluruh tubuh lewat darah.

Bisakah disebut ‘untung kita tidak tahu’ bahwa manusia hidup dikelilingi toksin (racun) ? Seandainya tahu tentu orang akan takut beraktivitas, pergi, bersosialisasi, dan makan. Namun, tentu saja lebih menguntungkan bila tahu bahwa racun ada di mana-mana. Semakin banyak tahu, orang akan semakin bijak untuk bersikap memelihara tubuh dan kehidupannya.

Penjelasannya demikian. Pada masa kini manusia hidup di zaman serba instan dan penuh polusi. Karena serba instan, makanan pun banyak yang diawetkan . Polusi ada di mana-mana. Mau tidak mau, manusia hidup bersama toksin. Zat-zat beracun ada di makanan yang kita konsumsi, air yang kita minum, dan udara yang kita hirup.

Secara langsung maupun tidak, kita memasukkan pupuk kedalam tubuh kita lewat makanan, zat-zat kimia, dan bahan-bahan tambahan dalam makanan seperti pewarna dan pengawet. Lalu, polusi udara berasal dari asap rokok, emisi kendaraan bermotor, pestisida, dan polutan industri juga masuk ke tubuh kita.

Racun-racun itu semua harus dikeluarkan oleh tubuh. Belum lagi racun dari dalam tubuh sendiri.

Secara alami tubuh mengeluarkan toksin-toksin melalui liver (hati) dengan detoksifikasi, atau bisa dikenal dengan detox.

Hati yang sehat melakukan detox dengan dua mekanisme, disebut fase I dan fase II. Pada fase I, enzim-enzim dalam tubuh menggerakkan zat-zat racun agar lebih mudah diproses di fase II. Di fase II ini ada lagi enzym-enzym lain yang mengubah racunp-racun menjadi bentuk yang lebih mudah larut oleh air. Tubuh kita kemudian akan membuangnya lewat urine, atau feses.

Sementara hati yang tidak sehat tidak bisa melakukan detoksifikasi secepat yang dilakukan oleh hati yang sehat. Bisa ditebak, bila proses detox lebih lambat maka hati, yang belum selesai bekerja men-detox itu, sudah diberi ‘serangan’ racun-racun yang harus didetoksifikasi. Akibatnya, akan lebih banyak racun yang beredar ke seluruh tubuh lewat darah.

Sebagian racun ada yang tidak dapat diubah atau hanya sedikit berubah akan sulit dibuang dari tubuh karena lolos dari kerja hati. Akhirnya racun-racun itu bersembunyi di jaringan tubuh berlemak, di otak, dan sel sistem syaraf. Racun-racun yang tersimpan itu pelan-pelan akan ikut aliran darah dan menyumbang penyakit-penyakit kronis. Misalnya, sakit liver yang bisa berujung pada hepatitis, dan semakin kronis menjadi sirosis (kanker hati).

Salah satu cara mengenali gejala-gejala awal bahwa fungsi kerja detox hati terganggu karena banyak toksin yang tak bisa diproses tubuh dan mengendap adalah mudah lelah, rasa letih, kulit kusam, dan mudah jatuh sakit. Dan, jangan abaikan bila Anda mengalami gejala-gejala berikut ini (seperti diungkapkan oleh American Liver Foundation) karena bisa menjadi petunjuk penyakit hati yang lebih serius.

  • Perubahan warna kulit atau mata menjadi kuning.
  • Perut bengkak, atau nyeri hebat pada perut.
  • Gatal pada kulit yang berkepanjangan.
  • Warna urine sangat gelap atau feses berwarna pucat
  • Kelelahan kronis, mual atau kehilangan nafsu makan. Segera datangi dokter.
karena lebih baik tahu lebih awal daripada terlambat.

Sehat dari makanan

Karena semua makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh pasti melalui hati maka nutrisi harus diperhatikan dengan benar agar hati tetap terjaga kesehatannya. Konsumsi makanan sehat dan bergizi secara proporsional. Kurangi jumlah makanan gorengan yang sangat berminyak dan berlemak. Dokter yakin risiko penyakit kantong empedu (termasuk batu empedu, penyakit yang terkait dengan liver) dapat dikurangi dengan menghindari makanan berlemak tinggi dan berkolesterol.

Jika Anda telah positif mengidap penyakit hati, kurangi konsumsi makanan yang diasapi, diawetkan, dan diasinkan. Cecap dulu makanan Anda sebelum ditambah garam. Sebagai pengganti Anda bisa menambahkan masakan Anda dengan Anda dengan lemon, bawang putih, bawang merah, lada, cengkeh, dan daun-daun pengharum masakan.

Makanan penutup, snack, dan aneka minuman mengandung kalori tinggi karena jumlah pemanisnya. Lebih baik diganti dengan buah-buahan.

Menjaga berat badan mendekati ideal. Para peneliti medis menetapkan korelasi langsung antara obesitas (kegemukan) dengan pengembangan penyakit empedu. Mereka yang kelebihan berat badan atau mengidap diabetes (kencing manis) akan berisiko tinggi potensi penyakit hati serius yang disebut non-alcoholic steatohepatitis.

Dan, jangan lupa untuk berolahraga secara rutin, dua atau tiga kali per minggu, untuk membantu menjaga hati sehat.

Khasiat alami

Tak banyak orang yang menyadari betapa pentingnya fungsi hati sebagai organ yang melakukan detoksifikasi. Kalau jatung sakit parah, baru ke dokter.

Ada juga yang sadar kesehatan hati lalu mencari cara pengobatan dengan detox. Mungkin Anda pernah melihat di mal-mal atau ditempat-tempat praktik ada orang yang menawarkan detox dengan membayar sejumlah rupiah.

Daripada melakukan tindakan yang tidak tahu efek samping dan hasilnya, lebih baik datang berkonsultasi ke dokter. Ada satu cara untuk membantu mengoptimalkan fungsi kerja hati dengan aman, yakni dengan bahan alami.

Sejak dulu masyarakat kita biasa memakai khasiat temulawak untuk pengobatan hati. Kalau dulu herbal yang memiliki nama latin Curcuma xantorrhizae rhizoma itu diparut, lalu diperas untuk mendapatkan sarinya dan diminum untuk tujuan pengobatan. Kini dengan teknologi sari temulawak dibuat dalam ekstrak dan dikemas secara modern dalam bentuk tablet Ekstrak temulawak berguna sebagai anti hepatotoksik dan memperbaiki sel-sel hati.

Herbal ini bersama dengan Letichin (Phosphotidylcholine), dan vitamin E menghasilkan fungsi mengoptimalkan fungsi hati sebagai organ detoksifikasi.

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana