Kepala BPOM Ajak Kampus Cetak Talenta Unggul dan Percepat Hilirisasi Inovasi untuk Indonesia Emas 2045

15-06-2026 Kerjasama dan Humas Dilihat 754 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Surabaya – “Kampus mencetak talenta unggul. BPOM dan industri menjadi mitra strategis yang menempa dan mengawal kompetensi talenta tersebut di dunia kerja.” 

Sebuah pesan dari Kepala BPOM Taruna Ikrar yang menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menyiapkan talenta unggul yang berdampak nyata bagi masyarakat. Pesan tersebut disampaikan Kepala BPOM dalam 2 kegiatan kuliah umum yang digelar di Surabaya.

Kuliah umum pertama disampaikan bersamaan dengan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) “Menyiapkan Talenta Unggul untuk Industri Kesehatan, Pangan, dan Ekonomi Digital yang Berdaya Saing Global” di Universitas Hayam Wuruk Perbanas (UHW Perbanas) pada Minggu (14/6/2026). Kuliah umum kedua bertajuk “Dari Penelitian ke Pasar: Peran BPOM dalam Hilirisasi Inovasi Obat dan Makanan yang Aman, Bermutu, dan Bermanfaat bagi Masyarakat” disampaikan di Universitas Surabaya pada Senin (15/6/2026).

Dalam kuliah umumnya di UHW Perbanas, Taruna Ikrar menyoroti tantangan Indonesia dalam meningkatkan daya saing global di tengah bonus demografi yang dimiliki. Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia yang unggul, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta transformasi digital menjadi kunci untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Ia menjelaskan bahwa sektor obat dan makanan memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional, terutama di era ekonomi digital yang terus berkembang. BPOM telah melakukan transformasi digital secara berkelanjutan untuk mengimbangi perkembangan tersebut, melalui penguatan layanan publik berbasis teknologi, integrasi data, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) untuk meningkatkan efektivitas pengawasan dan pelayanan kepada masyarakat. 

Kepala BPOM menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah (academia-business-government/ABG) dalam membangun ekosistem inovasi. Ekosistem ini dinilai akan mampu menghasilkan talenta berdaya saing global sekaligus mendukung pertumbuhan industri obat dan makanan nasional. Hal ini didukung oleh Rektor UHW Perbanas, yang juga tengah mengupayakan talenta unggul melalui sistem pendidikannya. 

“Semoga niat baik UHW Perbanas dalam menyiapkan talenta tenaga medis berdaya saing global dengan mendirikan Fakultas Kedokteran dapat terlaksana dengan baik,” ujar Rektor UHW Perbanas Lutfi.

Co-Founder PT Nose Herbal Indo Kim Ho yang juga hadir dalam kegiatan FGD di UHW Perbanas turut sepakat bahwa kolaborasi antara dunia usaha dengan akademisi menjadi salah satu faktor untuk menghasilkan riset yang powerful dan efektif. “Ini penting dilakukan dan juga didukung oleh pemerintah dalam kerangka program ABG,” ujar Kim Ho.

Dalam kesempatan ini, Kepala BPOM menyaksikan penandatangan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara UHW Perbanas dengan industri farmasi PT Harsen Laboratories. MoU yang disepakati adalah mengenai kolaborasi dukungan riset antara perusahaan (business) dengan perguruan tinggi (academia). Penandatanganan dilakukan oleh Wakil Ketua Yayasan Pendidikan Perhimpunan Bank Umum Nasional Swasta (PBUNS) yang menaungi UHW Perbanas Inayah Sri Wardhani serta Managing Director PT Harsen Laboratories Elsyeida Napitupulu.

Selanjutnya, dalam kuliah umum di Universitas Surabaya, Taruna Ikrar mengangkat tema hilirisasi inovasi sebagai salah satu fondasi penting menuju kemandirian nasional di bidang kesehatan. Ia menekankan bahwa hasil penelitian tidak boleh berhenti pada publikasi ilmiah atau prototipe, melainkan harus dikawal hingga menjadi produk yang aman, bermutu, bermanfaat, dan dapat dimanfaatkan masyarakat.

Taruna menyebut bahwa Indonesia memiliki modal besar berupa kekayaan biodiversitas dan sumber daya manusia yang melimpah. Namun, tantangan seperti ketergantungan bahan baku impor dan kesenjangan antara hasil riset dengan kebutuhan industri masih perlu diatasi melalui penguatan hilirisasi dan kolaborasi lintas sektor.

Dalam paparannya, Taruna Ikrar menjelaskan bahwa banyak inovasi gagal mencapai tahap komersialisasi karena terjebak dalam fenomena valley of death, yaitu fase ketika hasil riset tidak berhasil ditransformasikan menjadi produk yang siap digunakan masyarakat. Karena itu, BPOM hadir sebagai mitra yang mendampingi proses pengembangan inovasi melalui penguatan regulasi, asistensi, hingga percepatan layanan registrasi produk.

“Kemandirian obat dan makanan yang aman, bermutu, bermanfaat, dan berdaya saing tidak bisa dicapai sendirian. Kampus, industri, dan regulator harus bersinergi dari penelitian hingga pasar agar inovasi memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat serta ketahanan dan kedaulatan bangsa,” tegasnya.

Kegiatan di Universitas Surabaya juga dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kepala BPOM dan Rektor Universitas Surabaya Benny Lianto. Kerja sama ini menjadi dasar kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, memperkuat pengawasan obat dan makanan, mendukung pembinaan pelaku usaha, serta meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai keamanan dan mutu produk. Selain itu, kerja sama ini akan mendorong pendampingan pelaku usaha dan penguatan kolaborasi academia-business-government (ABG). Implementasi MoU akan ditindaklanjuti melalui Implementing Agreement (IA) yang mengatur pelaksanaan program secara lebih rinci.

Melalui rangkaian kuliah umum di Surabaya, BPOM menegaskan komitmen untuk terus memperkuat sinergi dengan perguruan tinggi dalam mencetak talenta unggul, mempercepat hilirisasi hasil riset. Tidak hanya itu, BPOM juga mendorong lahirnya inovasi obat dan makanan yang mampu meningkatkan daya saing bangsa sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia. (HM-Zein)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

 

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana