Jakarta — Kepala BPOM Prof. Taruna Ikrar hadir sebagai pembicara pada kuliah umum yang diselenggarakan Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI), Senin (1/12/2025). Taruna Ikrar menyampaikan kuliah umum di hadapan sedikitnya 150 peserta yang merupakan mahasiswa dari program studi Sarjana Farmasi, Profesi Apoteker, program S2 dan S3 Farmasi; serta undangan dari asosiasi pelaku usaha industri farmasi dan kosmetik.
Kepala BPOM mengulas mengenai “Ekonomi, Sains, dan Regulasi: Prospek Produk Kecantikan Anti-Penuaan dan Suplemen di Era Silver Economy”. Secara singkat, silver economy adalah sistem ekonomi yang berfokus pada produksi, distribusi, dan konsumsi barang serta jasa yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dan manfaatkan daya beli masyarakat lanjut usia (lansia).
Era tersebut diprediksi akan terjadi di Indonesia dalam 20 tahun mendatang. Hipotesis tersebut didasari pada data Survei Sosial Ekonomi Nasional Tahun 2024 dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jumlah penduduk dewasa dan lansia di Indonesia terlihat mengalami peningkatan, sementara jumlah penduduk usia muda mengalami penurunan.
Pada era tersebut, Taruna Ikrar menyebut bahwa lansia menjadi pilar baru dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Hal ini berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan pada sektor industri yang terkait dengan perawatan diri bagi masyarakat lansia. Salah satunya adalah perawatan yang mengusung formula untuk mencegah penuaan (anti-aging). Pasar produk anti-aging diperkirakan akan terus berkembang dengan persentase laju 7,08% pada periode 2025—2030.
Produk anti-aging termasuk ke dalam kosmetik perawatan kulit. Sepanjang tahun 2024, produk perawatan kulit termasuk dalam kategori kosmetik dengan jumlah pendaftaran terbanyak di BPOM yaitu 7.248 produk. Produk anti-aging bekerja seperti antioksidan, dengan mekanisme perbaikan terhadap kerusakan molekuler melalui beberapa jenis bahan aktif yang digunakan, seperti niacinamide, peptida, retinol, retinoid, atau Centella asiatica.
Perkembangan pasar produk anti-aging akan menjadi peluang, sekaligus tantangan besar bagi pelaku usaha. Dari sisi ekonomi, peningkatan pasar produk tersebut akan mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditargetkan mencapai angka 8% oleh Presiden Prabowo. Di sisi lain, industri farmasi memperoleh tantangan besar untuk mencari formulasi produk anti-aging terbaik yang diminati oleh masyarakat.
Tren pengembangan kosmetik global didominasi oleh produk “clean beauty”, yaitu kosmetik dengan kandungan bahan yang aman bagi kesehatan dan lingkungan, salah satunya adalah penggunaan bahan alam (plant cell culture-derived active cosmetic ingredients). Perkembangan teknologi lain di bidang kosmetik adalah penggunaan teknologi nano, yang memungkinkan bahan aktif kosmetik berpenetrasi secara optimal melalui kulit untuk memberikan efek yang lebih maksimal. Belum lagi teknologi sel punca yang saat ini juga banyak diklaim bermanfaat untuk menghasilkan produk kosmetik dengan efek regenerasi kulit yang baik.
“Ini menjadi tantangan besar bagi lulusan farmasi untuk terus menggali dan mengikuti perkembangan teknologi terkini. Dari sisi produknya, harus diperhatikan bagaimana inovasi-inovasi dapat menghasilkan produk yang membantu untuk meningkatkan kualitas hidupnya,” urai Taruna lebih lanjut. “Untuk itu,” tambahnya, “lulusan farmasi harus memahami fisiologis dari usia lansia, dalam hal ini kebutuhan formula yang tepat bagi kondisi kulit lansia, agar dapat menghasilkan produk yang memenuhi standar keamanan dan kualitas.”
Ia kemudian menegaskan komitmen BPOM untuk terus mendukung para peneliti dan akademisi dalam mengembangkan hasil penelitiannya melalui berbagai program pendampingan mengenai pemenuhan persyaratan peraturan. Melalui konsep kolaborasi Academia-Business-Government (ABG) yang diusungnya, Taruna optimis untuk keberhasilan hilirisasi riset tersebut.
“Industri memiliki sumber dana, namun terbatas dalam inovasi. Sebaliknya, di kampus, banyak dihasilkan inovasi, tetapi terbatas pada sumber daya. Dengan konsep ABG, BPOM hadir untuk menjembatani seluruh aspek tersebut agar bisa saling menguntungkan dan terus berkembang,” tutur Taruna lagi.
Ikut hadir dari FFUI pada kuliah umum ini ini, yaitu Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UI Prof. Hamdi Muluk, Dekan FFUI Prof. Arry Yanuar, Dekan FFUI Terpilih Periode 2025—2029 Prof. Silvia Surini, beserta jajaran dosen dan tenaga pendidik FFUI. Dalam pidato pembukaannya, Dekan FFUI Prof. Arry Yanuar menjelaskan bahwa kegiatan hari ini merupakan salah satu bentuk kerja sama antara akademisi dan regulator dalam mengupayakan produk kefarmasian yang aman dan bermutu. Kuliah umum ini juga menjadi penutup dari rangkaian perayaan Dies Natalis ke-60 Farmasi UI.
Prof. Arry juga menyoroti topik yang dipaparkan Kepala BPOM hari ini sebagai topik yang sangat strategis. Topik tersebut sejalan dengan tagline peringatan dies natalis ke-60, yang direpresentasikan dengan huruf G (glowing) dan O (outstanding). Ini menjadi harapan bagi masa depan riset dan inovasi di perguruan tinggi, dengan sinergi bersama BPOM, dapat berkembang semakin glowing dan outstanding.
Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UI Hamdi Muluk berharap agar FFUI bersama BPOM dapat menjadi garda terdepan untuk membuka ruang inovasi sebesar-besarnya bagi produk anti-aging. “Apapun yang namanya inovasi harus kita dorong. Saya harap kolaborasi ini jadi langkah awal agar farmasi menjadi lebih maju dengan inovasi yang dapat meningkatkan ekonomi Indonesia,” tukasnya. (HM-Herma)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
