Jakarta — Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa kesehatan merupakan pilar utama ketahanan nasional dan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara maju. Hal itu disampaikan dalam paparannya di kegiatan Sekolah Pimpinan Himpunan Mahasiswa Islam (SEPIM HMI) Tahun 2025 dengan tema “Daurah Pimpinan HMI: Konsolidasi, Sinergi, dan Integritas HMI Untuk Mengawal Indonesia Emas" pada Selasa (2/12/2025). Tokoh nasional lain yang juga hadir memberikan materi dalam acara yang dihadiri Ketua Umum Pengurus Besar HMI Bagas Kurniawan dan ratusan perwakilan Badan Koordinasi HMI se-Indonesia ini, yaitu Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin.
Dalam paparannya, Taruna Ikrar menceritakan pengalaman dalam memimpin sejumlah organisasi mahasiswa berbasis keislaman 3 dekade lalu. Menurutnya, pengalaman tersebut turut membentuk karakter mahasiswa sebagai insan intelektual yang beretika, kreatif, dan bertanggung jawab. “Aspek keislaman dan ke-Indonesia-an harus berpadu, melahirkan insan yang produktif di mana pun berada,” ujarnya.
Taruna kemudian menjelaskan mengenai transformasi BPOM dari masa ke masa dan berbagi pengalaman dalam memimpin organisasi ini. Dimulai dengan cikal bakal BPOM yang awalnya berada di bawah Kementerian Kesehatan dan telah ada sejak 1817, hingga akhirnya berdiri sebagai lembaga mandiri di tahun 2001. “Sejak masa kepemimpinan saya, BPOM memasuki transformasi ketiga. Bukan lagi hanya mengurus obat dan makanan, tetapi berperan besar dalam sektor ekonomi,” katanya. Menurut Badan Pusat Statistik, nilai ekonomi industri yang diawasi BPOM mencapai sekitar Rp10.000 triliun per tahun, sementara data internal BPOM menunjukkan angka minimal Rp6.000 triliun. Jumlah ini dinilai sangat signifikan dalam upaya mendorong pendapatan nasional.
Lebih jauh, la menjelaskan bahwa penguatan BPOM dilakukan dengan penyederhanaan perizinan yang mencapai 1,2 juta izin per tahun demi mempercepat investasi dan kontribusi ekonomi. Taruna juga menekankan pentingnya persiapan sumber daya manusia, termasuk melalui organisasi-organisasi kader. Disebutkannya bahwa dari 108 pejabat dalam kabinet dan lembaga tinggi negara, 78 di antaranya merupakan alumni organisasi mahasiswa yang sama dengannya.
Organisasi yang kuat seperti BPOM sangat diperlukan menghadapi berbagai cobaan yang datang tak terduga, seperti pandemi. Taruna mengingatkan bahwa pandemi influenza pada awal abad ke-20 menelan lebih banyak korban dibanding perang itu sendiri, dan bahwa COVID-19 telah menyebabkan hingga 8 juta kematian di seluruh dunia. “Kita baru saja keluar dari pandemi dan negara bisa tetap utuh karena sektor kesehatan diperkuat,” tuturnya.
Isu kesehatan anak juga menjadi perhatian utama. Berdasarkan data yang dipaparkan, 80% anak Indonesia menghadapi masalah gizi dengan rincian 20% mengalami stunting, 40% kekurangan mikronutrien, dan 20% mengalami obesitas. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menghambat produktivitas generasi mendatang. Ia menegaskan dukungan penuh BPOM terhadap program makan bergizi gratis (MBG) yang menjadi salah satu upaya pemerintah menanggulangi masalah gizi tersebut. “Jika tidak dipaksakan [untuk diatasi] dari sekarang, 20 tahun mendatang hanya 20% generasi kita yang benar-benar produktif,” katanya.
Di akhir pemaparannya, Kepala BPOM mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya kalangan akademisi dan organisasi seperti HMI, untuk terus melahirkan kader-kader berkualitas yang mampu mengisi posisi strategis di pemerintahan dan masyarakat. Ia menegaskan bahwa kontribusi kolektif sangat diperlukan bagi Indonesia untuk masuk ke jajaran 5 besar ekonomi dunia dan mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, serta sehat secara fisik maupun ekonomi.
Dalam sesinya, Menteri P2MI Mukhtarudin menyoroti pentingnya pembentukan karakter kepemimpinan. Ia mengapresiasi sistem perkaderan HMI yang dinilainya konsisten mencetak sumber daya manusia berkualitas di berbagai sektor, mulai dari eksekutif hingga dunia usaha. “Saya bangga dengan PB HMI yang terus konsisten menyelenggarakan pendidikan dan sekolah kader sesuai tingkatannya masing-masing. Ini bukti HMI serius mencetak kader berkualitas,” ujar Mukhtarudin.
Ia menekankan bahwa kesuksesan para alumni HMI tidak diraih secara instan, melainkan melalui proses tempaan yang panjang. “Kesuksesan itu bukan instan. Ada proses panjang, ada tempaan, ada pendidikan yang gradual. Siapa pun punya peluang yang sama untuk sukses, asalkan punya kompetensi, ilmu, skill, dan mental tahan banting,” tegasnya. Prinsip ini juga perlu diyakini oleh seluruh insan aparatur sipil negara di BPOM untuk dapat terus berjuang bersama membangun BPOM sebagai organisasi yang diteladani dalam menghadapi perkembangan zaman. (HM-Khairul)
Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
