Kepala BPOM Dorong Jamu Indonesia Kuasai Pasar Global

10-06-2026 Kerjasama dan Humas Dilihat 868 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Semarang – Kepala BPOM Taruna Ikrar meresmikan fasilitas Laboratorium Farmakologi terbaru milik PT Sido Muncul di Semarang, Selasa (9/6/2026). Peresmian yang dirangkai dengan kunjungan kerja dalam rangka pemantauan kepatuhan industri ini menjadi wujud nyata sinergi antara BPOM dan pelaku usaha dalam memodernisasi jamu asli nusantara.

BPOM memberikan apresiasi tinggi kepada Sido Muncul yang terus membuktikan kapasitasnya sebagai pelopor industri jamu berstandar internasional. Kehadiran fasilitas laboratorium ini dinilai krusial, mengingat Indonesia merupakan negara megabiodiversitas dengan lebih dari 30.000 jenis tanaman berpotensi medis, kecantikan, dan herbal unggulan.

"Semoga laboratorium ini dapat menjadi pusat inovasi sekaligus motor penggerak lahirnya produk herbal Indonesia berdaya saing global," ungkap Taruna Ikrar. Ia menyambut hangat, langkah Sido Muncul sebagai bentuk komitmen kuat perusahaan dalam memastikan legitimasi ilmiah pada setiap produk herbal yang dihasilkan.

Direktur Utama Sido Muncul Irwan Hidayat menyampaikan bahwa laboratorium tersebut merupakan satu-satunya fasilitas laboratorium yang dimiliki oleh pabrik jamu. “Tujuan kami membangun ini adalah untuk mendapatkan bukti terhadap produk kami,” ungkap Irwan. Ia pun berharap BPOM dapat memberikan masukan agar laboratorium serupa dapat dibangun di berbagai tempat sehingga kekayaan alam Indonesia dapat dimanfaatkan dengan cepat.

Keberadaan Laboratorium Farmakologi yang melengkapi Pusat Penelitian Rempah Sido Muncul (PPRS) ini diharapkan mampu mempercepat proses hilirisasi riset tanaman herbal. Melalui penguatan riset, pengujian laboratorium yang kredibel, serta penerapan ketat cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB), potensi alam tersebut kini dapat ditransformasikan secara ilmiah menjadi produk yang aman dan bermutu tinggi.

Urgensi kehadiran laboratorium ini semakin nyata jika melihat lanskap industri herbal nasional. Saat ini, lebih dari 20.000 produk jamu beredar di Indonesia, tetapi baru 71 produk yang berhasil naik kelas menjadi obat herbal terstandar (OHT) dan hanya 20 produk yang berstatus fitofarmaka terdaftar di BPOM. Tantangan utama bagi industri ini ke depannya adalah mempercepat transformasi jamu dari yang selama ini berbasis empiris (pengalaman turun-temurun) menjadi produk yang teruji secara ilmiah klinis.

Transformasi saintifik tersebut juga sangat esensial untuk merebut peluang pasar global obat bahan alam yang sangat besar. Tercatat pada tahun 2024, nilai ekspor gabungan industri farmasi dan obat bahan alam mencapai angka Rp9,9 triliun. Namun, kontribusi spesifik dari ekspor obat bahan alam baru menyentuh angka sekitar Rp100,8 miliar. Celah ini menjadi peluang sekaligus tantangan besar bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memacu daya saing herbal Indonesia di pasar internasional.

Menjawab tantangan tersebut, BPOM sebagai otoritas pengawas menegaskan perannya yang komprehensif dalam mendukung kemajuan industri bahan alam. Pengawasan BPOM yang membentang dari fase pre-market hingga post-market tidak hanya berupa pemeriksaan sarana dan pengujian produk. Lebih dari itu, BPOM secara aktif mengawal jalannya riset, mendampingi pelaku usaha, dan mengedukasi masyarakat. Pendampingan nyata ini tercatat telah membawa dampak positif bagi 160 industri dan 1.104 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) obat bahan alam di seluruh Indonesia.

Kepala BPOM turut berpesan agar industri obat bahan alam nasional tidak berhenti berinovasi. Pemanfaatan teknologi modern dan penguatan evidence-based herbal medicine (obat herbal berbasis bukti) menjadi kunci utama dalam menghasilkan produk yang berkhasiat nyata. Dengan pengawalan regulasi yang tepat, BPOM optimis inovasi yang lahir dari laboratorium-laboratorium dalam negeri mampu menjadikan jamu Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri sekaligus pemain utama di pasar dunia. (HM-Hendriq)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

 

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana