Kepala BPOM Dorong Kolaborasi ABG sebagai Kunci Hilirisasi Inovasi di UNM

08-03-2026 Kerjasama dan Humas Dilihat 256 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Makassar – Menutup rangkaian agenda kunjungan kerjanya ke Makassar, Kepala BPOM Taruna Ikrar bertandang ke Universitas Negeri Makassar (UNM) pada Sabtu (7/3/2026). Dalam kesempatan tersebut, Taruna Ikrar bertemu dengan pimpinan serta perwakilan tenaga pendidik UNM melalui kegiatan Ngopi (Ngobrol Pendidikan) di Bulan Ramadan.

Kegiatan dialog dihadiri oleh Pelaksana Teknis (Plt. Rektor) UNM Farida Patittingi, Wakil Rektor, serta para dekan dari kampus di lingkungan UNM. Taruna Ikrar kemudian menyampaikan ceramah singkat menjelang waktu berbuka puasa dengan tema “Puasa Ramadan dari Perspektif Neuroscience Leadership”.

Mengutip QS. Al-Baqarah Ayat 30 yang membahas penunjukkan manusia sebagai khalifah di muka bumi, Taruna mengajak peserta yang hadir untuk memahami alasan manusia diberikan amanah tersebut dibandingkan makhluk hidup lainnya. “Secara biologis, khalifah itu adalah pemimpin. Ada 1 keunggulan yang dimiliki manusia dan tidak ada di makhluk lainnya. Manusia dikaruniai 180 miliar sel saraf, yang masing-masing memiliki 10.000 dendritik [percabangan sel], dan membentuk 1.830 triliun sinapsis [koneksi cabang sel]. Ini menjadikan manusia punya kecerdasan yang luar biasa dibanding makhluk lainnya,” urai Taruna Ikrar.

Sinapsis merupakan sumber dari munculnya memori, inisiatif, dan ide-ide. Struktur sinaps antar manusia itu berbeda-beda. Namun, ada 1 kesamaan, yaitu dalam mempersepsikan nilai dari suatu hal yang baik atau buruk dan hal ini mengontrol pergerakan tubuh kita. 

“Dengan pola keunggulan manusia dengan otaknya itu lah kenapa Allah menetapkan kita sebagai khalifah, sebagai pemimpin, baik untuk pribadi maupun untuk orang lain. Tujuan utama kita diciptakan adalah untuk beribadah dan sebagai khalifah, juga untuk memakmurkan dunia melalui kemampuan memimpin dan menciptakan perubahan,” lanjut Taruna.

Taruna Ikrar juga mengingatkan bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban untuk setiap keputusan yang dibuat melalui kekhalifahannya selama di dunia. Keputusan yang terbaik hanya dapat lahir dari otak yang sehat. Di sinilah peran dari puasa yang dijalani umat Islam selama bulan Ramadan menjadi penting karena berpuasa menjadi salah satu cara untuk menjaga kesehatan sel-sel saraf di otak. 

“Jadi, dengan kita berpuasa, ada keseimbangan antara otak dengan nurani kita. Itu lah yang disebut dengan kepemimpinan yang sehat dari prinsip neuroscience modern,” tutur Taruna lagi.

Lebih lanjut, Taruna mengaitkan topik ini dengan transformasi yang tengah diupayakan melalui kepemimpinannya di BPOM. Dengan banyaknya industri obat dan makanan yang dikelola oleh BPOM, Ia menegaskan keinginan untuk BPOM dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional melalui pengembangan konsep kolaborasi academia-business-government (ABG).

“Industri-industri besar yang ada di bawah pengawasan BPOM memiliki fasilitas produksi yang bagus dan terstandar, serta modal yang besar. Namun, mereka kurang 1 hal, yaitu inovasi. Ini potensi besar bagi akademisi. Perguruan tinggi adalah sumber inovasi yang sangat besar. Dengan konsep ABG, BPOM ingin membentuk ikatan yang kuat, kalau secara ilmiah disebut dengan ikatan kovalen, antara ketiga unsur tersebut untuk mendukung perekonomian nasional,” jelas Kepala BPOM. 

Usai sesi paparannya, Kepala BPOM melanjutkan sesi diskusi dengan menjawab beberapa pertanyaan dari peserta dialog. Ia juga menyampaikan paparan singkat mengenai tugas pengawasan obat dan makanan, serta sejarah singkat terbentuknya BPOM. 

Dalam momen yang sama, Kepala BPOM menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara Plt. Rektor UNM dengan perwakilan PT Nose Herbal Indo mengenai transfer teknologi penyediaan air minum yang lebih sehat melalui pengaturan derajat keasaman (pH) dan riset terkait pemanfaatan bahan alam. Mengenai kerja sama ini, Plt. Rektor UNM Farida Patittingi mengungkap keinginannya untuk dapat memaksimalkan potensi hilirisasi hasil riset yang dihasilkan kampusnya dengan industri.

“Sudah ada air kemasan yang diproduksi UNM, tetapi belum maksimal. Dengan MoU ini, kita maksimalkan dan mudah-mudahan bisa untuk produk yang lainnya juga, insya Allah,” jelas Farida.

Menurut Farida, UNM juga bekerja sama dengan kampus-kampus lain melalui pembentukan konsorsium. Salah satunya dengan Universitas Hasanuddin, yang di hari sebelumnya juga telah menandatangani MoU dengan PT Nose Herbal Indo dengan konsep kolaborasi yang sama. “Ini [konsorsium] untuk kami sama-sama berlari, supaya bisa mempercepat semua proses hilirisasinya. Kami mohon dukungan dan arahan dari Kepala BPOM untuk program pendidikan yang sedang dijalankan,” tukasnya. (HM-Herma)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana