Kepala BPOM Paparkan Sinergi Neuroleadership untuk Hadapi Tantangan Global

06-07-2026 Kerjasama dan Humas Dilihat 436 kali Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Jakarta – Kepala BPOM RI Taruna Ikrar memaparkan kuliah umum bertajuk “Kepemimpinan Berbasis Neuroscience untuk Menghadapi Tantangan Nasional dan Global” di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Kebayoran Baru, Senin (6/7/2025). Kuliah umum tersebut menjadi salah satu rangkaian dari kegiatan pra-kuliah dan orientasi mahasiswa Program Magister Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Kepolisian Negara RI (Polri) Angkatan XVI Tahun Akademik 2026/2027. 

Kegiatan turut dihadiri oleh Wakil Ketua Bidang Pengkajian dan Pengembangan Ilmu dan Teknologi Kepolisian (PPITK) Mohammad Aris, Sekretaris Utama BPOM Jayadi, Deputi Bidang Penindakan BPOM Tubagus Ade Hidayat, Direktur Penyidikan Partomo Iriananto, serta Kepala Pusat Analisis Kebijakan Obat dan Makanan Ria Christine Siagian. Di hadapan para tamu dan mahasiswa yang hadir, Kepala BPOM menjelaskan tentang pentingnya transformasi diri sebelum terjun memimpin suatu organisasi.

“Kita harus bertransformasi mengubah diri kita sebelum mengubah organisasi, karena perubahan selalu dimulai dari dalam diri. Di era teknologi yang semakin berkembang, teknologi harus memperkuat nilai kemanusiaan. Fondasi penting dalam menentukan keputusan lahir dari otak yang sehat dan pikiran yang jernih,” ungkap Kepala BPOM dalam kuliah umumnya.

Taruna memaparkan bahwa otak melayani fungsi penting dalam kehidupan manusia. Otak terdiri atas ratusan miliar sel saraf (neuron) yang berhubungan dengan jumlah jejaring mencapai ribuan triliun (sinaps). Kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi sepanjang hidup sebagai respons terhadap pengalaman dan lingkungan disebut dengan plastisitas otak.  

“Plastisitas otak terdiri dari tiga bentuk utama, plastisitas sinaptik, neurogenesis, dan fungsional kompensasi. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi fungsi otak, antara lain genetik, psikologi/kejiwaan, lingkungan, bahkan melalui makanan dan minuman,” urai Taruna Ikrar.

Plastisitas sinaptik merupakan pembelajaran dan pengalaman baru, yang membentuk interaksi serta jejaring baru antar sel saraf di otak. Neurogenesis merupakan proses kelahiran neuron baru yang bermigrasi ke area otak untuk menggantikan sel yang rusak atau mati. Sementara, fungsional kompensasi merupakan penurunan plastisitas yang terjadi seiring usia, tetapi dapat diimbangi oleh kemampuan otak mengatur ulang jaringan.

Lebih lanjut, Taruna Ikrar mengungkapkan neurosains merupakan ilmu yang dapat mempelajari sistem saraf makhluk hidup yang berfokus pada seluk beluk otak manusia, kesadaran sebagai unsur utama pembentuk identitas manusia serta dikotomi tubuh dan jiwa pada setiap insan. Dalam mewujudkan kepemimpinan berbasis neurosains, membutuhkan prinsip self regulation, mindfulness, empathy based leadership, serta decision based on logic. Seluruh aspek tersebut akan menghasilkan kepemimpinan modern berbasis neurosains untuk meningkatkan efektivitas dalam mengambil keputusan, mengelola emosi, memimpin tim, dan menghadapi perubahan, yang disebut sebagai neuroleadership. 

Dalam keterkaitan kepemimpinan berbasis neurosains, Taruna Ikrar bersinergi untuk menggabungkan neurosains dengan kecerdasan buatan/artificial intelligence (AI) atau disebut sinergi neurosains-AI. Dampak positif yang dihasilkan pada sinergi ini dapat menjadikan kepemimpinan lebih adaptif, menghasilkan keputusan berbasis data, pelayanan publik yang berbasis manusia, inovasi yang berkelanjutan serta pengawasan obat dan makanan yang presisi.

“Penggabungan AI yang dapat mempercepat lompatan teknologi dalam pemetaan otak, desain obat inovatif, dan terapi personalisasi [dapat dicapai] dengan neurosains. Dengan memfungsikan cara otak belajar, beradaptasi, dan pulih guna menginspirasi model AI mutakhir, dapat membangun masa depan yang berkualitas melalui konvergensi sains dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan,” ucap Kepala BPOM.

Kepala BPOM menegaskan bahwa transformasi kepemimpinan merupakan suatu keniscayaan karena ada perubahan. Untuk itu, Ia berpesan kepada para calon mahasiswa magister PTIK untuk bersiap terhadap perubahan dengan menjadi individu yang terus adaptif dalam mengikuti dan menghadapi tantangan dan ancaman yang ada di masa mendatang. 

Para mahasiswa STIK tampak menyimak dengan antusias pemaparan kuliah umum oleh Kepala BPOM. Salah satu peserta mengajukan pertanyaan mengenai implementasi neurosains dalam menjalankan tugas Kepolisian sehari-hari.

“Di kepolisian banyak pekerjaan yang membutuhkan kerja sama tim. Bagaimana neurosains dapat diterapkan dalam meningkatkan motivasi dan kinerja anggota tim?” ucap Ciputra, salah seorang peserta kuliah umum. 

“Keutuhan tim ditentukan berdasarkan keinginan dan harapan anggotanya. Untuk itu, agar kompak, maka perlu menyatukan tujuan. Kemudian, buka ruang dialog secara efisien serta dalam mengambil keputusan, pilih yang paling kecil risikonya, namun besar manfaatnya,” tukas Taruna Ikrar menanggapi pertanyaan tersebut. (HM-Rizky)

Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat

Berita Terkait

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana